Kamis, 13 Juni 2024
Sabda Kehidupan
Kamis 13 Juni 2024
Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26)
”Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Seperti Kamipun Mengampuni Yang Bersalah Pada Kami
Inilah janji kita kepada Bapa di surga ketika kita berdoa ‘Bapa Kami’ dan memohon ampun atas dosa kita.
Berdamai dengan sesama kiranya menjadi kebiasaan kita agar tidak terus menerus menyimpan dendam atau marah.
Hati yang damai jauh lebih berarti dari melimpahnya persembahan yang kita bawa kepada Tuhan. Karena itu sebelum menghadap Tuhan, hendaklah kita memeriksa batin, apakah ada hal yang mengganjal di hati, adakah sikap kita yang membuat orang lain sakit hati atau terluka. Berdamai kembali atau rekonsiliasi adalah jalan yang ditunjuk Yesus agar hati kita damai, tidak menyimpan marah, dendam, benci dan pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain.
Jangan menganggap bahwa semua beres padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati kita tentu saja kecewa, apalagi bila kita merasa benar sendiri. Cinta yang dalam selalu mampu memaafkan.
”Ya Yesus, anugerahkanlah kami semangat rendah hati agar kami selalu mau berdamai dan rela mengampuni. Bila kami telah terluka, sembuhkanlah hati kami dengan jamahan kasihMu. Semoga kami juga dapat saling menyembuhkan luka di hati kami. Amin.”
Selamat hari Kamis. Syalom, damai selalu di hati.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 13 Jun 2024
Kamis Pekan Biasa X
PW S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mat 13:34
Bacaan Injil: Mat 5:20-26
*******************************
Bait Pengantar Injil
Mat 13:34
Perintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan;
yaitu supaya kalian saling mengasihi,
sebagaimana Aku telah mengasihi kalian.
Bacaan Injil
Mat 5:20-26
Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kalian telah mendengar
apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum!
Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’
harus dihadapkan ke Mahkamah Agama,
dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’
harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah,
dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau
bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,
dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,
dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********************************
ℍ
“Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala,” (Mat 5: 22)
Apakah kita tidak boleh marah? Ada yang mengatakan bahwa seorang yang marah karena alasan yang tepat, terhadap orang yang tepat, dengan cara yang tepat, pada saat yang tepat, dan durasinya juga tepat, patut mendapat pujian.
Tetapi Yesus mengatakan, “Siapa yang marah harus dihukum.” Tentu Yesus tidak berbicara tentang kemarahan-Nya di bait Allah, atau kemarahan-Nya terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi kemarahan kita terhadap saudara-saudari kita yang sering kali muncul karena cinta diri, egoisme. Apalagi kemarahan yang dipelihara, dipupuk selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun….
Apa penawar kemarahan? Belas kasih, kebaikan hati, dan pengampunan yang berasal dari hati yang penuh kasih. Kita harus mengampuni dan berbelaskasih karena Allah telah mengampuni kita.
Ada tips untuk mengatasi kemarahan, yaitu 3K:
Pertama adalah Komunikasi. Jika ada kebencian, jika ada ganjalan, sakit hati, atau gejolak dalam hati, kita harus berbicara. Bicarakan perasaan anda dengan orang yang bersangkutan. Kita perlu membangun jembatan, bukan tembok pemisah.
Kedua adalah Kompromi. Ini bukan berkompromi dengan kejahatan. Ini lebih merupakan usaha mencari titik temu, mencari jalan tengah di mana satu pihak dapat melepaskan dan yang lain juga dapat melepaskan sehingga ditemukan titik temu, tanpa mengorbankan moralitas dan kebenaran.
Ketiga adalah Kontemplasi. Bila kita sudah menemukan titik temu, marilah kita melihat arah yang sama dan membawanya dalam doa.
Tuhan, semoga kami bersama dapat mencari kehendak-Mu, saling menerima satu sama lain, saling menghormati kebebasan satu sama lain dan menjadi saksi kebaikan-Mu di manapun kami berada. Amin.
Selamat beraktivitas hari ini. Mari saling mengampuni. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC