Jumat, 24 Mei 2024
Sabda Kehidupan
Jumat 24 Mei 2024
_Markus 10:6-9 (Mrk 10:1-12)
Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Kasih Kristus Dasar Hidup Suami Istri
Banyak orang berkata bahwa Gereja melarang perceraian. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa bukan Musa atau Gereja yang melarang perceraian, tapi Allah sendiri. Sesungguhnya sejak semula Allah menghendaki kebahagiaan suami istri melalui persekutuan mereka yang erat dan intim. Mereka menjadi satu jiwa dan raga, sehati sejiwa.
Dalam pernikahan putra putri Allah yang telah dibaptis, Yesus sendiri yang menyatukan suami istri seperti halnya Gereja menjadi mempelai Kristus (Baca Efesus 5:22-33). Sebagaimana Kristus sebagai Kepala tak terpisahkan dari Gereja sebagai tubuhNya, demikian halnya ikatan kasih suami istri tak terpisahkan.
Betapa indahnya ikrar setia dalam kasih ketika suami dan istri dipersatukan dalam nikah yang kudus dan mereka berjanji, “aku memilihmu sebagai istriku/suamiku, dan berjanji untuk mencintaimu, dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam untung dan malang, hingga maut memisahkan kita. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini.”
Berjuanglah untuk memenuhi ikrar suci saling setia satu sama lain. Persatuan dan cinta adalah musuh Iblis. Ia akan terus menggoda agar terpisah dari Allah dan terpisah satu sama lain. Rahmat Allah tak pernah berhenti bekerja dan Roh Kudus, Roh Pemersatu terus mempersatukan. Bersandarlah pada kasih Kristus, jangan biarkan kelemahan dan keterbatasan manusiawi membuat kita menyerah dan putus asa. Bahagia selalu ada bagi orang yang setia dan terus bersatu hati dengan Tuhan dan belahan jiwanya.
Selamat hari baru. Harapan baru untuk terus berdoa dan berjuang.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 24 Mei 2024
Jumat Pekan Biasa VII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17ab
Bacaan Injil: Mrk 10:1-12
****************************
Bait Pengantar Injil
Yoh 17:17ab
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.
Kuduskanlah kami dalam kebenaran.
Bacaan Injil
Mrk 10:1-12
Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea
dan ke daerah seberang sungai Yordan.
Di situ orang banyak datang mengerumuni Dia,
dan seperti biasa Yesus mengajar mereka.
Maka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus.
Mereka bertanya,
“Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?”
Tetapi Yesus menjawab kepada mereka,
“Apa perintah Musa kepada kamu?”
Mereka menjawab,
“Musa memberi izin untuk menceraikannya
dengan membuat surat cerai.”
Lalu Yesus berkata kepada mereka,
“Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu.
Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita;
karena itu pria meninggalkan ibu bapanya
dan bersatu dengan isterinya.
Keduanya lalu menjadi satu daging.
Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah,
janganlah diceraikan manusia.”
Setelah mereka tiba di rumah,
para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus.
Lalu Yesus berkata kepada mereka,
“Barangsiapa menceraikan isterinya
lalu kawin dengan wanita lain,
ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
Dan jika isteri menceraikan suaminya
lalu kawin dengan pria lain,
ia berbuat zinah.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**********************************
ℍ
“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk 10: 9)
Pada masa Yesus ada dua aliran pemikiran tentang perceraian. Yang pertama adalah golongan Rabi Shammai. Mereka menafsirkan masalah perkawinan dengan sangat ketat. Berbuat tidak senonoh yang dimaksud dalam Ul 24: 1, yang dijadikan argumen orang-orang Farisi yang mencobai Yesus, adalah perzinahan itu sendiri. Seorang perempuan mungkin berperilaku sama buruknya dengan Izebel, Istri raja Ahab, tetapi kecuali dia bersalah karena perzinahan, tidak akan diceraikan.
Yang kedua adalah golongan pengikut Rabi Hillel. Di dalam menafsirkan Ulangan 24:1, pengikut Hillel percaya bahwa seorang laki-laki boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa pun. Mereka sangat longgar di dalam mengizinkan perceraian. Mereka menganggap bahwa pengertian “tidak senonoh” yang dikatakan dalam Ulangan 24:1 itu bisa berarti apa saja dan dapat menjadi alasan menceraikan isteri.
Manusia cenderung permisif dan mencari aturan yang longgar. Hasilnya adalah perceraian mudah dilakukan entah karena alasan yang terlalu sepele atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Ketika Yesus berbicara tentang perceraian itu, Ia hendak mengembalikan nilai perkawinan pada posisi yang sebenarnya.
Makna sebenarnya dari bacaan Injil hari ini adalah bahwa Yesus teguh dengan pandangannya bahwa moral seksual yang terlalu longgar pada masanya harus diperbaiki. Mereka yang memandang perkawinan hanya untuk kesenangan harus diingatkan bahwa perkawinan adalah tanggungjawab. Mereka yang menganggap perkawinan sekadar untuk memenuhi kebutuhan akan kenikmatan badani harus diingatkan bahwa perkawinan adalah suatu persatuan rohani. Yesus sedang membentengi keagungan rumah tangga.
Bagaimanakah kita? Apakah kita juga terlalu permisif mengikuti kesenangan dan keinginan badani saja? Apakah kita juga menghormati kekudusan kehidupan seksual dan perkawinan?
Engkau telah menciptakan kami, Tuhan, Allah kami, untuk bersahabat dan untuk mengasihi, dan Engkau telah menunjukkan kepada kami di dalam Yesus, Putra-Mu, bagaimana hidup untuk satu sama lain dan untuk-Mu. Semoga kami belajar dari-Nya untuk tetap setia satu sama lain, masing-masing sesuai dengan panggilan hidup kami. Amin.
Selamat pagi. Mari saling membantu dan mendoakan dalam mengusahakan kekudusan. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC