Jumat, 23 Februari 2024
Sabda Kehidupan
Jumat 23 Februari 2024
Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26)
”Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Yesus mengingatkan kita bahwa relasi kita dengan Bapa di surga tak terlepas dari relasi kita dengan orang lain. Untuk apa membawa persembahan kepada Tuhan bila hati masih penuh dengan rasa marah, dendam dan benci serta pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain.
Dikatakan dalam Mazmur 51::17, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur.” Itulah hati yang penuh penyesalan akan dosa.
Hati yang damai dan penuh pengampunan, jauh lebih berarti dari melimpahnya persembahan.
Menganggap semua beres padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati manusia tentu saja kecewa. Rasul Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).
Rekonsiliasi atau berdamai kembali dengan saudara itulah persembahan terindah untuk Tuhan. Bukankah ketika berdoa Bapa Kami, kita telah berjanji, “ampunilah kami seperti kami-pun mengampuni yang bersalah pada kami.”
Beranilah meminta maaf dan pengampunan dari orang yang telah kita lukai agar ada damai di hati. Lepaskanlah juga pengampunan bila hati terluka dan sakit. Niscaya hati kita damai dan persembahan kita berkenan kepada Tuhan.
Selamat hari Jumat. Damai selalu di hati.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 23 Feb 2024
Jumat Prapaskah I
PF S. Polikarpus, Uskup dan Martir
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Yeh 18:31
Bacaan Injil: Mat 5:20-26
***************************
Bait Pengantar Injil
Yeh 18:31
Buangkanlah daripadamu,
segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan,
dan perbaharuilah hati serta rohmu.
Bacaan Injil
Mat 5:20-26
Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kalian telah mendengar
apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;
barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir!
harus dihadapkan ke Mahkamah Agama
dan siapa yang berkata: Jahil!
harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu,
jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah
dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu,
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu
selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,
dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,
dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********************************
ℍ
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” [Mat 5: 20]
Hari ini adalah hari Jumat yang kedua dalam masa Prapaskah. Saat kita menapaki Jalan Salib menuju Paskah, Firman Tuhan mengingatkan kita akan metanoia, pertobatan, perubahan, yang harus kita buat. Injil hari ini diambil dari Khotbah Yesus di Bukit. Ini semua tentang mengatasi rasa puas diri dan mempraktikkan kebajikan yang lebih dari sekadar minimalis.
Masa Prapaskah adalah waktu untuk merenungkan bagaimana kita mengenali dan mengatasi godaan. Mengatasi rasa puas diri adalah salah satu perjuangan terbesar saya. Entah itu dalam olah rohani atau cara saya menangani tanggung jawab saya, sering kali saya gagal untuk berbuat lebih.
Injil hari ini memanggil kita untuk berbuat lebih. Membunuh, misalnya, memang merupakan sebuah kejahatan, dan kita senang bahwa kita tidak melakukan kejahatan itu. Tetapi Injil menantang kita untuk mengintrospeksi diri apakah kita bersalah atas kejahatan pembunuhan karakter – melalui kebohongan, gosip, atau gibah di media sosial.
Adalah hal yang wajar jika saudara saya menyimpan dendam terhadap saya, dialah yang harus datang kepada saya untuk berdamai. Adalah hal yang wajar membangun tembok untuk mencegah masuknya pendatang. Cukup adillah jika seorang pembunuh dihukum mati oleh Negara.
Cukup adil! Tetapi Yesus ingin agar para pengikut-Nya memiliki sikap hati yang lebih dari sekadar keadilan. Hal itu menuntut agar saya mendatangi saudara saya yang bersalah dan memulai rekonsiliasi; agar saya merobohkan tembok-tembok pemisah; agar saya memberi makan orang-orang yang tidak dan mungkin tidak dapat bekerja; agar saya mengampuni pembunuh saudara saya. Cita rasa keadilan menghasilkan orang-orang yang adil; kasih Kristiani menghasilkan orang-orang kudus.
Tuhan, semoga kami tidak minimalis dalam mengasihi.
Selamat berpantang dan berpuasa. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC