Minggu, 11 Februari 2024
Sabda Kehidupan
Minggu 11 Februari 2024
Hari Orang Sakit Sedunia
Markus 1:40-41 (Mrk 1:40-45)
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Bagi orang Israel menderita penyakit kusta bukan hanya menyakitkan secara fisik, tapi terutama secara batin. Orang percaya sakit ini adalah hukuman Tuhan atas dosa berat si sakit. Mereka dianggap najis dan mesti dijauhkan dari keluarga dan masyarakat. Mereka terbuang dan hidup sendirian, terpisah dari orang lain.
Sekalipun dilarang untuk mendekati apalagi menjamah orang kusta, Yesus tergerak hatiNya oleh belaskasihan untuk menolong si kusta. Ia tidak memaksa Yesus menyembuhkannya. Ia menaruh harapannya pada kehendak Yesus dan kerelaan hatiNya. Yesus pun tidak berlambat. Ia memulihkan hidup si kusta. Penyakitnya menjadi masa lalu, ia mengalami hidup baru oleh jamahan Yesus.
Ingatlah bahwa seruan si kusta adalah doa kita setiap kali kita memanjatkan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus. “Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.”
Apapun yang terjadi dalam hidup kita, janganlah berhenti menaruh harapan pada Tuhan. Saat kita sakit dan berbeban berat, kita percaya Yesus sanggup memulihkan kita. Ia menghendaki yang terbaik bagi kita. Dengan penuh penyerahan diri kita datang padaNya dan berdoa, “Tuhan Yesus, kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku. Tapi bukan kehendakku, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi.”
Mari kita bawa dalam doa saudara-saudari kita yang sakit kepada Yesus. Jadilah seperti Yesus yang mau menemani dan merawat orang sakit. Jangan biarkan mereka menderita secara batin karena dibiarkan apalagi ditinggalkan.
Dan bagi yang sedang sakit, semoga ketabahan hati, iman dan pengharapanmu menjadi teladan bagi orang lain untuk bersatu dengan derita Kristus.
Kita doakan para dokter, perawat dan rumah sakit kiranya menjadi tangan Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit dan menjadi tempat penuh harapan dan kasih.
Selamat hari Minggu. Kasih Yesus menjamah dan menyembuhkan kita.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 11 Feb 2024
Minggu Pekan Biasa VI
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Luk 7:16
Bacaan Injil: Mrk 1:40-45
*****************************
Bait Pengantar Injil
Luk 7:16
Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,
dan Allah telah melawat umat-Nya.
Bacaan Injil
Mrk 1:40-45
Lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekali peristiwa
seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus,
sambil berlutut di hadapan Yesus
ia memohon bantuan-Nya, katanya,
“Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan,
lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu
dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu,
dan ia menjadi tahir.
Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras,
“Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun,
tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam,
dan persembahkanlah untuk pentahiranmu
persembahan yang diperintahkan oleh Musa,
sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu
dan menyebarkannya kemana-mana,
sehingga Yesus tidak dapat lagi
terang-terangan masuk ke dalam kota.
Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi,
namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Demikianlah sabda Tuhan.
************************************
ℍ
“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” (Mrk 1: 41)
Menyembuhkan seorang penderita kusta dianggap mustahil seperti membangkitkan orang yang sudah mati. Kusta tidak membunuh, tetapi membuat seseorang kehilangan kepekaan fisik. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang kehilangan kepekaan moral, tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang memanusiakan dan mana yang merendahkan.
Gambaran orang kusta yang rusak inilah yang mewakili gambaran kemanusiaan yang sakit dilanda kekerasan, ketidakadilan, dan penghancuran ciptaan karena egoisme dan sikap acuh tak acuh masing-masing individu.
Orang kusta dianggap sebagai orang yang dikutuk oleh Tuhan dan tidak boleh masuk ke dalam Bait Allah – karena dianggap najis. Yesus tergerak oleh belas kasihan karena gambaran yang salah tentang Allah ini telah ditanamkan dalam hati orang yang malang ini. Ada banyak orang yang telah berpaling dari Gereja dan Tuhan karena khotbah, pengajaran, dan sikap hidup kita gagal menampilkan wajah Tuhan yang sebenarnya kepada mereka.
Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah orang kusta itu. Mengapa Markus menyebutkan bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya ketika sebuah kata saja sudah cukup untuk menyembuhkan orang kusta itu? Ini adalah ungkapan yang kita temukan dalam Perjanjian Lama: ketika Allah mengulurkan tangan-Nya, Ia akan memukul musuh-musuh umat-Nya. Dalam hal ini, bukan orang kusta yang disentuh oleh tangan Allah, tetapi penyakit kusta itu yang menghancurkan gambar Allah dalam diri manusia.
Sentuhanlah yang membuat kita merasa lebih dekat satu sama lain. Yesus menyentuh orang kusta itu, menjamah-nya; inilah Allah kita, Allah yang sekarang kita lihat dalam diri Yesus dari Nazaret. Allah yang memilih untuk masuk ke dalam air sungai Yordan pada saat pembaptisan bersama dengan orang-orang berdosa, kini bahkan menjamah orang kusta dan berkata kepadanya, “Aku mau engkau tahir.”
Adakah orang-orang yang saya singkirkan? Adakah orang-orang yang saya anggap kusta? Siapa penderita kusta dalam hidup kita? Yang kita anggap najis?
Tuhan, bangunlah kami menjadi komunitas di mana kami saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dengan kasih, kelembutan, dan rasa hormat seperti yang telah Engkau tunjukkan kepada kami. Amin.
Selamat Hari Minggu. Tuhan mau kita sembuh. Tuhan mau kita menyembuhkan.
ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC