GAUDETE
GAUDETE
(Menangkap “Daun-Daun Sabda” Yang Melayang-layang)
“Gaudete in Domino semper: iterum dico gaudete.
Modestia vestra nota sit omnibus hominibus:
Dominus prope est” – Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!
Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!
(Flp 4: 4 – 5).
Pada Minggu Adven ketiga ini (Minggu Gaudete), sukacita kita meluap-luap tak tertahankan lagi, karena Sang Penyelamat sudah dekat.
Di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan matiraga ini, Gereja memberikan “break” – istirahat dan mengajak umat bersukacita. Untuk mengungkapkan sukacita ini, warna liturgi yang digunakan bukanlah ungu, melainkan merah muda (pink atau rose). Demikian juga warna lilin yang dinyalakan dalam corona Adven ialah merah muda atau merah. Warna merah muda melambangkan bahwa penderitaan zaman ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Bersukaria di dalam Tuhan.
Nabi Yesaya berseru, “Gaudens gaudebo in Domino, Et exsultabit anima mea in Deo meo” – Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku (Yes 61: 10a).
Orang bisa saja senang, gembira, happy, enjoy atau bahagia karena menyelesaikan ujian dengan baik, memuaskan dan pujian, cum laude. Tetapi kemudian, dia berkata, “Saya berhasil ini karena usahaku sendiri: belajar giat.” Maka, kita bisa mengatakan bahwa orang ini gembira tidak di dalam Tuhan.
Sebaliknya, tekanan Nabi Yesaya ini adalah di dalam Tuhan (in Domino atau in Deo meo). Di sini penekanannya pada “di dalam Tuhan” yang membuat gembira, sukacita, berbahagia. Kesukacitaan Yesaya itu adalah karena dia boleh menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara dan merawat orang-orang yang remuk hatinya (Yes 61: 1).
Kata-kata nabi Yesaya ini mengingatkan kepada pribadi Yesus yang menjadi “kabar gembira” bagi orang miskin:
Roh Tuhan ada pada-Ku
Oleh sebab Ia telah mengurapi Aku
Untuk menyampaikan kabar baik
kepada orang-orang miskin (Luk 4: 18).
Kabar suka cita itu menjadi kegembiraan orang-orang miskin. Bahkan Yesus bersabda kepada para murid, “…karena orang-orang miskin selalu ada padamu…” (Mark 14: 7). Kedatangan Yesus di dunia ini untuk “mengangkat” martabat dan harkat kaum miskin.
Bersukacitalah Senantiasa
“Semper gaudete. Sine intermission orate. In omnibus gratias agite…” – Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal… (1 Tes 5: 16 – 18a). Sekali lagi, Paulus mengajak jemaat di Tesalonika untuk bersukacita.
Dan untuk menyambut kedatangan Yesus, mereka juga diajak untuk tetap berdoa dan bersyukur. Ada seorang pastor memunyai semboyan hidup, “Dalam segala hal jangan lupa bersyukur.” Orang yang bersyukur hatinya senantiasa gembira, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams 17: 22). Tidak heranlah, pada masa Adven ini, Paulus memberikan pengajaran yang baik agar kita banyak gembira (gaudete) dan bersyukur.
Kegembiraan Yohanes Pembaptis
Ia bebas dari segala kepentingan pribadi dan godaan untuk mencari kemapanan yang banyak dicari orang. Ia mencintai kebenaran dan mewartakan kebenaran apa adanya. Yohanes Pembaptis ditampilkan oleh Injil Yohanes lebih sebagai tokoh yang memberikan “martyria” yaitu kesaksian mengenai siapa Yesus itu, “membuka tali kasut-Nya pun tidak pantas.”
Kegembiraan Yohanes Pembaptis yaitu menempatkan diri pada posisinya yang tepat, “menyiapkan jalan” bagi kedatangan Tuhan. Dan secara terus-terang Yohanes berkata, “Dia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil” (Yoh 3: 30). Ia sudah menemukan kegembiraan (gaudete) ketika melaksanakan tugas sebagai “perintis” kedatangan Tuhan.
Demikian pula, kita akan menemukan kegembiraan ketika memomosikan diri kita secara tepat dan pada tempatnya. Maka, kita boleh bertanya, “Apakah aku merasa gembira (gaudete) dengan hidup dan karyaku selama ini?”
Jumat, 12 Desember 2014 Rm. Markus Marlon, MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC <markus_marlon@yahoo.com>