HARAPAN
HARAPAN
“He who doesn’t hope to win has already lost” – Dia yang tidak berharap untuk menang sebenarnya sudah kalah terlebih dahulu (Simon Bolivar, 1783 – 1830).
Hidup yang kita jalani kebanyakan hanya masalah mental. Bila mental kita sudah kalah, maka apa pun yang kita lakukan pasti gagal atau pecundang. Dan mental itu tercermin dari sikap hidup kita merespon kejadian di luar. Ada orang yang reaktif: semua ditanggapi secara negatif. Ada juga yang merespon sebuah peristiwa secara proaktif. Dan kadangkala kita terbentur dalam berelasi dengan lain. Kita mengeluh dengan sikap orang lain. Maya Angelou (1928 – 2014) pernah berkata, “If you don’t like something, change it. If you can’t cange it, cange your attitude.” – Jika tidak suka sesuatu ubahlah itu. Jika tidak bisa diubah, ubahlah sikap Anda.
Memang dalam hidup ini kita harus selalu berharap untuk “menjadi pemenang!” Harapan bagaikan setitik api yang memotivasi kita untuk bertindak. Dalam menyelesaikan pekerjaan, jika pada awal sudah berharap akan akan berhasil, dapat dapat dikatakan bahwa pekerjaan itu sudah 50 % berhasil. Sebagai contoh ekstrem. Orang tidak makan beberapa hari bisa hidup atau orang tidak minum beberapa jam masih bisa hidup dan orang tidak bernafas beberapa menit masih bisa hidup. Namun orang tidak memiliki satu detik pengharapan, maka dia tidak akan kuat menghadapi kehidupan ini.
Dalam mitologi Yunani, ada kisah menarik yang mengisahkan tentang “Kotak Pandora.” Dikisahkan bahwa ada sebuah kota yang berisi pelbagai malapetaka dalam bentuk makhluk kecil bersayap warna coklat dan kotak tersebut dihiasi denganornament yang amat memesona, yang – tentunya – membuat setiap orang ingin membukanya. Pandora, si wanita itu ingin sekali mengetahui isi kotak tersebut. Keinginannya begitu kuat, padahal sudah diperingatkan supaya tidak membukanya. Tatkala kotak itu dibuka, keluarlah malapetaka yakni segala macam penyakit dan tabiat buruk serta kejahatan yang mengobrak-abrik umat manusia.
Penyesalan selalu datang terlambat. Pandora amat sedih. Sorak gembira serta-merta berubah menjadi tangis yang tragis. Keluhan terdengar dari segala penjuru karena rasa sakit dan ketakutan akan kematian. Namun, bagaimana pun juga dalam hati para Dewa muncul belas kasihan kepada umat manusia (Bdk. Promotheus, Dewa yang mencintai umat manusia dengan memberi api). Para Dewa “mengutus” makhluk yang baik yakni Harapan, yang ditugaskan untuk menyembuhkan luka-luka tersebut. Harapan, kumudian terbang melalui jendela dan menjalankan tugas yang sama terhadap para korban lain untuk mengembalikan semangat mereka. Harapan – meskipun kecil dan sedikit – amat berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Harapan membuat hidup kita menjadi kuat, meskipun kadangkala kita terpuruk karena masalah: pribadi, relasi, pekerjaan dan ekonomi. Namun kita menjadi ingat akan apa yang dialami Yosua ketika dalam situasi terjepit, “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yos 1: 9).
Pepatah Latin, “Spes est expectatio boni” – harapan adalah penantian kebaikan, mengajak kita untuk senantiasa berharap. Kita berharap bahwa tugas-perkerjaan yang dipercayakan kepada kita akan mengembangkan diri kita.
Rm. Markus Marlon MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon MSC <markus_marlon@yahoo.com>