MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA
MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA
(Menangkap “Daun-Daun Sabda” Yang Melayang-layang)
“Menunggu” merupakan pengalaman yang mendebarkan. Lantas kita bertanya, “Bagaimana rasanya menunggu kedatangan pacar?” atau, “Bagaimana rasanya menunggu panggilan dari kantor atau lembaga yang kita lamar?” Tentu semuanya membutuhkan kesabaran. Dalam arti ini, orang bisa menunggu secara pasif, aktif dan proaktif. Sekarang, “Bagaimana kita menghidupi masa menunggu kedatangan-Nya pada masa Adven ini?”
Kalau kita menunggu, maka kegiatan kita hanya duduk-duduk tanpa beraktivitas. Mungkin juga ketika sambil menunggu kita mengisinya dengan memelototi HP atau nonton TV atau baca koran. Orang yang ditunggu belum muncul. Mungkin masih di Bandara atau pelabuhan atau mungkin sedang OTW (on the way).
Lain dengan “menyambut”. Orang yang “ketiban sampur” – mendapat tugas menyambut itu, maka yang disambut itu sudah berada di depan pintu atau sudah duduk sebagai tamu kehormatan. Sudah ada kepastian bahwa tamu sudah datang. Zaman Israel pun demikian pada waktu itu. Seorang ibu yang sudah mengandung tua dan beberapa saa hendak melahirkan, maka rumah keluarga tersebut, kedatangan para tetangga dan para pemain musik hendak “menyambut” kedatangan jabang bayi ibu ter sebut (Bdk. Buku dengan judul “Matius – Pemahaman Alkitab Setiap Hari “ tulisan Silliam Barclay, halaman. 282). Kelahiran bayi disambut dengan sukacita yang luar biasa.
Menyambut Kedatangan Yesus Kristus
Dalam kekristenan, menyambut kedatangan Tuhan Yesus disambut dengan sukacita. Dan istilah liturgi untuk peristiwa ini dinamakan masa Adven (Ad, menuju ke, menjelang + venire, datang. Adven berarti: menyambut kedatangan atau masa penantian kedatangan Kristus.
Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Kristus, sehingga Gereja memersiapkan umatnya dan menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan-Nya (Bdk. Sinode Macon – Prancis tahun 590). Di sinilah kita dapat disadari bahwa persiapan-persiapan batin menjadi prioritas utama dan dalam menyambut kedatangan-Nya, ada orang-orang yang pasif, aktif dan proaktif. Persiapan-Persiapan Rohani
Karena masa Adven adalah masa penantian baiklah jika diisi dengan pertobatan. Persiapan yang terbaik adalah dengan lebih sering menerima sakramen Ekaristi dan juga sakramen tobat. Sakramen Ekaristi menyadarkan kita akan kasih Allah yang memberikan Putera-Nya untuk bersatu dengan kita yang dimulai dengan peristiwa Inkarnasi. Masa Adven adalah waktu yang tepat untuk terus-menerus bertekun dalam doa-doa pribadi dan merenungkan Sabda Tuhan. Dan kalender Gereja telah memberikan bacaan-bacaan acuan yang mudah untuk kita pahami.
Minggu pertama (Mark 13: 33 – 37), lilin ungu mengajarkan tentang kewaspadaan agar tidak kehilangan arah ke masa depan ini. Nanti dalam Injil Minggu Adven II (Mark 1: 1 – 8) dan Minggu Adven III (Yoh 1: 6 – 8. 19 – 28) perhatian pada “akhir zaman” berkaitan dengan warta Yohanes Pembaptis. Ia mewartakan baptisan sebagai ungkapan tobat dari pihak manusia; ia juga mempersaksikan baptisan dalam roh yang dibawakan oleh Yesus. Pada minggu Adven III ini juga disebut minggu Gaudete atau minggu sukacita serta dipasang lilin berwarna merah muda, yang menyatakan sukacita karena masa penantiaan akan telah berjalan setengah dan akan berakhir. Penekanan pada kesaksian akan karya ilahi ini juga ada dalam Minggu Adven IV (Luk 1: 26 – 38) yang menampilkan orang-orang terdekat dengan Yesus, yakni: Maria dan Yosef. Mereka ini orang-orang pertama yang dengan sederhana dan tulus membiarkan Roh bekerja dalam diri mereka.
Dalam masa Adven ini, ada sebagian umat yang menjalankan “Novena Maria dikandung tanpa noda” atau “Novena Natal dan Novena Kanak-Kanak Yesus”. Karena Gereja memperingati Maria dikandung tanpa noda (Immaculate Conception)pada tanggal 19 Desember, maka penghormatan kepada Bunda Maria, yang melahirkan Kristus juga dipandang sebagai devosi yang baik.
Persiapan Proaktif
Masa Adven yang hendak kita lalui itu, patut untuk kita persiapkan. Namun di sisi lain, juga ada orang yang tidak peduli, acuh tak acuh. Bagi mereka, semua masa liturgi dianggap sama saja.
Lantas, ada orang yang menyiapkan hati untuk menyambut Kristus dengan kegiatan-kegiatan yang sudah dicanangkan oleh paroki. Ia mengikuti saja apa yang sudah diagendakan wilayah, stasi atau paroki.
Akhirnya persiapan yang proaktif. Ini adalah pribadi yang merasa bahwa masa Adven adalah sebagai kesempatan untuk “mengembangkan” kehidupan rohaninya. Selain program yang sudah dicanangkan oleh stasi, wilayah rohani dan paroki, orang ini akan dengan sekuat tenaga mendalami makna masa Adven tersebut.
Senin, 01 Desember 2014 Rm. Markus Marlon MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon MSC <markus_marlon@yahoo.com>