Rahim Maria
RAHIM MARIA
(Kontemplasi Peradaban)
Ketika menyaksikan patung pieta pahatan Michelangelo (1475 – 1564), saya sungguh terkesima akan raut wajah Bunda Maria. Di sana, saya mengontemplasikan apa yang ada dalam pikiran Maria, “Dulu ketika anakku ini turun dari rahimku sungguh-sungguh ringan, tetapi sekarang setelahditurunkan dari salib, saya memangkunya dan nampak begitu berat.” Wajah Maria yang merunduk memandang wajah Yesus, putranya hendak menunjukkan betapa Maria menerima sang putra, baik ketika Ia bayi maupun ketika Ia dibunuh dan wafat di kayu salib.
Sering kita mendengar orang berdoa, “Salam Maria penuh Rahmat…” Kata Rahmat, Rahman dan Rahim semuanya adalah dari bahasa Arab.Rahmat berarti: belas kasihan, pemberian Tuhan sedangkan Rahmandiartikan sebagai Maha Penyayang dan Rahim adalah Maha Pengasih. Rahim juga berarti kandungan atau tempat bayi. Dalam Rahim sang bunda, orok akan merasa nyaman, tenang dan damai. Inilah yang disebut sebagai oceanical experience (pengalaman samodra).
Dalam rentetan peristiwa, Bunda Maria juga sangat terlibat bagaimana ia ingin berpihak kepada orang-orang yang menderita (Bdk. Mukjizat air menjadi anggur atau Maria mengikuti Yesus dalam via dolorosa dan Maria bersama-sama para rasul dalam peristiwa Pentakosta). Peristiwa-peristiwa penampakan Maria hendak memerlihatkan kepada kita bahwa ia sangat peduli dengan pergumulan umat manusia. Ave Maria, gratia plena, salam Maria penuh Rahmat. Gratia atau grace sebagai ungkapan kemurahan hati Allah.
Kerahiman Allah muncul dalam sikap yang menerima setiap manusia yang hilang. Henri Nouwen (1932 – 1996) dalam bukunya yang berjudul Kembalinya si Anak yang Hilang, berisi tentang kerahiman ilahi yang melampaui pikiran manusia. Dalam cover buku tersebut, Rembrandt (1606 – 1669) melukis seorang Bapa memeluk anaknya yang kembali dari “dunia hitam”. Yang mencolok dari lukisan itu adalah tangan kanan dan kiri itu ada perbedaan. Sebelah kanan terlukis tangan lelaki kuat-kokoh sedangkan tangan sebelah kiri lembut-penuh kasih. Di sana ada unsur lelaki dan wanita yang oleh Carl Roger (1902 – 1987) dipandang sebagai animus dan anima. Sang Bapa dilukiskan sebagai pribadi yang begitu murah hati (Rahman)mengampuni (Rahmat) dan menerimanya meskipun anak itu bergelimangan dengan dosa (Rahim). Kata Yesaya, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju” (Yes 1: 18).
Bunda Maria banyak memiliki gelar, seperti: Mediatrix, Co-redemptrixserta Stella Maris dan masih banyak gelar-gelar yang disematkan padanya.Stella Maris atau Bintang Laut, dari namanya sendiri Bunda Maria memberikan kemurahan hati untuk menjadi bintang dan penerang bagi orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang tersesat hanya memiliki satu keinginan yaitu kembali ke “kampung halaman.”
Bunda Maria setiap saat senantiasa mengenakan jubah biru laut. Arti sebenarnya yaitu ia ingin menjadi laut atau samodra yang memiliki kedalaman tak terkira. Hal ini melambangkan keluasan hati untuk menerima apa saja. Laut dengan hati ikhlas mau menerima saja yang datang kepadanya. Sampah-sampah dari pelbagai sungai mengalir ke laut. Ikan-ikan dari pelbagai jenis bisa “menumpang hidup” di laut. Demikian pula, Bunda Maria akan menerima segala grundelan (keluh-kesah) dari umat yang sedang bermasalah maupun memiliki beban yang berat. Namun Maria menerima semua keluh-kesah umat manusia dengan hati gembira atau lapang dada.
Banyak kisah-kisah kemurahan hati, kerahiman Bunda Maria itu dilukiskan hampir seperti dongeng maupun legenda, misalnya, “Bunda Maria membukakan pintu bagi orang-orang yang berdosa lewat untaian Rosario”atau “Air mata Bunda Maria meluluhkan hati sang Putra” dan masih banyak lagi. Semua itu hendak menunjukkan betapa besar kerahiman (kemurahan hati, keluasan hati) sang Bunda bagi umat manusia. Memang, mengenai Bunda Maria tidak pernah cukup – De Maria numquam satis.
Sabtu, 18 Januari 2014 Rm. Markus Marlon MSC