Kamis, 15 September 2022
======================
“Suatu Pedang akan menembus jiwamu sendiri”
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci,
mereka amat heran
mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
— dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri —
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Demikianlah sabda Tuhan.
=====================
TETAP BERDIRI DAN BERJALAN DALAM KETAATAN DAN KESETIAAN
(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)
Kamis, 15 September 2022
Pekan Biasa XXIV/C/II
Ibr. 5:7-9: Yesus sebagai Imam Besar
Luk. 2:33-35: Yesus dan Simeon dan Hana
Pesta Sta. Perawan Maria Berdukacita
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” atau “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian” kata pepatah atau peribahasa. Artinya melalui hal2 yang susah/penderitaan barulah kita mengalami kesenangan/kemuliaan/kebahagiaan. Tiada kesenangan, kemuliaan, kesuksesan, kebahagiaan yang terjadi begitu saja tanpa usaha, keringat dan penderitaan, pengorbanan.
Hari ini Gereja Katolik merayakan Pesta SP Maria Berdukacita. Pesta ini mengingatkan saya, anda akan perjalanan/perziarahan hidup Maria ketika mengambil bagian dalam misteri penyelamatan umat manusia (saya,anda) oleh Allah. Sudah SEJAK AWAL ketika ditawarkan rencana penyelamatan itu HINGGA karya keselamatan itu dikerjakan secara tuntas oleh Yesus, Puteranya, Maria MENGALAMI hidup yang sangat menyakitkan hatinya (pengalaman kedukaan yang menyakitkan), antara lain dalam Injil hari ini: Saat Simeon meramalkan kejadian yang akan menimpa Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan utk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu TANDA yang menimbulkan perbantahan dan suatu PEDANG akan MENEMBUS JIWAMU SENDIRI…” (Luk. 2:34-35); atau pada kesempatan lain: saat pengungsian di Mesir; saat bersama Yosef mencari Yesus yang “menghilang” di antara orang banyak di Yerusalem; saat bertemu Yesus di kaki salib; saat Yesus wafat; saat Yesus dibaringkan di pangkuannya; dan saat Yesus dimakamkan.
Rentetan pengalaman dukacita ini dihadapi Maria dengan kesetiaan dan ketaatan yang sempurna kepada rencana dan kehendak Allah; ia berdiri dan berjalan dalam iman, harap dan kasih. Satu demi satu derita itu ia alami dan hadapi dengan SATU SIKAP YANG MANTAP yaitu dengan iman, harap dan kasih yang mendalam ia “menerima, menyimpan semuanya dalam hati dan merenungkannya”. Dukacita yang datang silih berganti semakin mendewasakan jawaban “YA ” nya pada rencana dan kehendak Allah. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu”.
Dukacita merupakan pengalaman hidup saya,anda juga, orang kristiani dan mungkin saya,anda cenderung untuk menghindarinya. Hari ini saya, anda patut belajar dari Bunda Maria yang selalu menerima dan menanggung penderitaan dalam kesetiaan dan ketaatan kepada kehendak Allah; menanggungnya dalam sikap iman, harapan dan kasih kepada rencana dan kehendak Allah. Berdiri dan berjalan dalam kesetiaan dan ketaatan kepada rencana dan kehendak Allah; Berdiri dan berjalan dalam iman, harap dan kasih kepada rencana dan kehendak Allah. Tuhan, tambahkanlah ketaatan dan kesetiaanku, mu; tambahkanlah iman, harap dan kasihku,mu!
Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria berdukacita, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya, anda yang telah berdiri dan berjalan dalam ketaatan, kesetiaan dan iman, harap dan kasih kepada rencana dan kehendak Allah. Amin.