Menghibur
MENGHIBUR
( M o t i v a s i )
Suatu kali saya mengikuti kebaktian atau sembahyangan pada keluarga yang berduka. Tiga hari yang lalu, salah satu anggota keluarganya dipanggil Tuhan. Semua anggota keluarga masih mengenakan pakaian berkabung yakni warna hitam. Namun suasana ini menjadi cair, ketika umat yang hadir di situ diminta untuk bergiliran menyanyikan lagu, bahkan ada yang berkelakar, sehingga keluarga yang berduka merasa terhibur.
Orang yang berduka tentu ingin memiliki sahabat yang rela “mendengarkan” apa yang dirasakan. Di sinilah kita dapat menyimak apa yang ditulis penginjil, “Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk. 7: 32). Orang yang “menyanyikan kidung duka” itu berharap bahwa ada yang sehati-seperasaan dengannya.
Harold S. Kushner dalam Derita, Kutuk atau Rahmat menulis, “Ada suatu kebiasaan yang elok dalam ibadat duka orang Yahudi yang disebut se’udat havra’ah yakni makan sebagai lambang pemenuhan. Sepulang dari makam, keluarga yang sedang berduka tidak dibenarkan mengambil makan sendiri (atau melayani orang lain). Orang-orang lain harus menyuapinya, melambangkan betapa masyarakat berhimpun di sekeliling mereka untuk memberikan dukungan dan mencoba mengisi kekosongan dalam dunia mereka” (hlm. 143).
Suasana seperti ini, sudah biasa dalam lingkungan kita. Ketika musibah menimpa salah satu anggota kampung, masyarakat, desa, maka orang-orang berbondong-bondong untuk ikut berduka. Mereka gotong royong ataumapalus (Bhs. Manado) menyiapkan apa yang diperlukan bagi keluarga yang sedang berduka
Pasti di antara kita pernah mendengar nama Ayub. Ketika menderita ia butuh teman-teman yang akan membiarkannya melampiaskan amarahnya, menangis dan meraung-raung. Ia tidak butuh teman yang mendorong-dorongnya agar menjadi teladan dalam hal kesabaran dan kesalehan bagi orang lain. Ia butuh orang lain yang berkata, “Benar, yang terjadi atas dirimu sungguh-sungguh mengerikan dan tidak masuk akal,” bukan orang yang berkata, “Bangkitlah, Ayub, kejadian itu belum seberapa.” Orang yang menghibur bukan menggurui maupun menasihati. Ia hanya perlu menjadi pendengar yang setia. Itu sudah lebih dari cukup.
Suatu kali, ada seorang pastor yang mengunjungi umatnya yang sakit di Rumah Sakit. Ketika masuk di sal, pastor ini hanya diam di samping umatnya selama 30 menit. Ia tidak bicara apa-apa, kemudian berpamitan untuk melanjutkan tugasnya yang berikut. Ketika orang yang sakit itu sembuh, ia mengucap terima kasih kepada pastor, katanya, “Kehadiran pastor selama saya sakit sungguh-sungguh luar biasa. Saya merasa bahwa keberadaan pastor pada waktu itu sangat menguatkanku. Terima kasih karena sekarang saya sudah sembuh!” Penghiburan bagi orang yang sakit dan menderita adalah menjadi pendengar yang setia.
Henri Nouwen (1932 – 1996) dalam Yang Terluka Yang Menyembuhkan menuis, “…. Kalau seorang wanita menderita karena kehilangan anaknya, pelayan Kristen tidak dipanggil untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia masih mempunyai dua anak lain yang tampan dan sehat di rumah. Ia ditantang untuk membantunya menyadari bahwa kematian anaknya menyatakan kebenaran bahwa ia sendiri juga dapat mati: kebenaran manusiawai yang juga berlaku bagi orang lain” (hlm. 88).
Menghibur orang yang susah bukan berteori, namun terlebih mampu memahami apa yang dirasakannya (belarasa, compassion atau sehati seperasaan). Tidak ada hal yang membahagiaan bagi orang dimengerti dan dipahami orang lain ketika mengalami susah-derita atau berduka.
Senin, 03 Desember 2013 Rm. Markus Marlon MSC
Tulisan-tulisan Motivasi ini sudah dibukukan yang terbit 2 bulan sekali. Sekarang sudah terbit edisi ke-4. Setiap Edisi ada 10 – 12 tulisan dan terbit 40 halaman.
Yang ingin mendapatkan buku-buku tersebut bisa hub:
E-mail: zahir.5561@gmail.com
Atau no HP: 0852.83.9955.61 atau 08964.8941.026