NYALA API CINTA: “BUAH”
BUAH
Ketika orang menanam pohon atau membuka kebun buah-buahan, apa yang tersimpan dalam benaknya? Yang utama, ingin memetik atau memanen buah yang bagus kualitasnya dan enak rasanya.
Sebelum berhak memanen dia akan memenuhi kewajibannya, yakni menanam benih yang baik, menyiram, memupuk dan memagari kebunnya. Singkatnya, memberikan perhatian yang terbaik kepadanya.
Itulah yang Tuhan lakukan terhadap umat yang dipilih-Nya. Dia memperlakukan mereka bagai kebun anggur yang dipelihara-Nya secara amat baik. Ternyata, buah yang dihasilkannya adalah anggur yang asam, yakni ketidakadilan. Tidak sesuai harapan. Mengecewakan.
Sang Guru Kehidupan berbicara tentang pekerja di kebun anggur yang diharapkan oleh sang pemilik kebun bakal memberikan hasil kerja yang baik, yakni memberikan buah yang manis. Tapi, para pekerja itu tidak memenuhi harapan. Lebih buruk lagi, mereka membunuh para utusan dan anak dari sang pemilik yang diutusnya mengambil hasil panen, bagiannya. Para pekerja itu mengingkari tugas dan tanggung jawabnya.
Kisah di atas menggambarkan dua tugas penting dari manusia, yakni menjadi (becoming) dan melakukan (doing). Panggilan utama manusia itu menjadi manusia (becoming human). Memenuhi tugas ini secara baik membekalinya untuk melangkah ke panggilan kedua, yakni melakukan tugasnya sebagai manusia. Manusia benar akan bekerja secara benar dan akan menghasilkan kebenaran.
Keduanya amat penting. Memang, yang kedua (doing) tampak lebih mudah daripada being atau becoming. Karena itu, banyak orang lebih suka bekerja daripada berusaha menjadi diri yang baik. Orang mengukur kualitas hidup dari pekerjaan dan hasilnya. Kriteria keberhasilannya dibuat sendiri. Bahkan sedemikian yakin akan kriteria itu, sehingga kerap menutup pintu terhadap permintaan dari Tuhan.
Umat yang dipilih Tuhan (bangsa Israel) bersikap demikian. Walau mereka melanggar keadilan, tetap saja merasa benar. Para tetua bangsa Yahudi yang menolak Sang Guru Kehidupan merasa telah memilih jalan yang benar.
Persoalan serupa terjadi pada zaman ini. Orang melupakan tugasnya untuk menjadi diri sendiri dan tidak melakukan tugasnya sesuai kehendak Tuhan. Mengikuti pemikiran dan ideologi ciptaannya sendiri lebih diutamakan daripada mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Konsekuensinya, hidupnya kurang menghasilkan buah seperti yang Tuhan harapkan. Mengecewakan.
Malang, 4 Oktober 2020
RP Albertus Herwanta, O. Carm.
Sumber Indonesian Carmelites