Engkau Raya di tengah Bencana – Sajak Paskah di tengah Wabah (Rm.Andreas Dedy Purnawan, O.Carm)
ENGKAU RAYA DI TENGAH BENCANA
(Rm. Andreas Dedy Purnawan, O.Carm)
Menyusuri hari-hari belakangan ini,
antara sengsara, wafat dan kebangkitan-Mu,
antara ranting hijau dan batu-batu Yerusalem:
palang kayu kasar dan paku-paku,
Ingin menemukan-Mu antara kosong kubur, gulungan kafan
dan balik masa tiba-tiba kabur,
desau panik s‘bab hingar kabar tak menentu,
pusaran situasi yang marut dan mengurung,
Timbusan mengepung angin wabah dan bencana,
Di keliling orang-orang rebah terjangkit,
sekarat dan penguburan diam-diam…
Adapun ancaman-ancaman,
Perlindungan atau kemalangan yang diukur dalam angka
Update statistik makin menanjak dan prediksi-prediksi,
Derasnya arus laporan-laporan, petunjuk peringatan dan ancaman pembubaran,
antara resesi, depresi dan fantome tragedi…
Entah apa yang menampi jaman ini, entah sampai kapan semua kembali…
Adapun kebangkitan-Mu kini,
Ditandai bait-bait-Mu yang sepi,
peringatan sederhana, terbatas dan minim dekorasi
tanpa panjang prosesi, merdunya lagu atau homili yang membakar hati.
Tiada jabat erat, pesta dan gelak canda,
Tanpa akhir kerut resah merenggangkan diri,
Terbungkus dengan masker, disinfectant dan tangan dicuci.
Dan berapa banyak yang tak peduli,
Menghibur diri dan berusaha mengendorkan lilitan kendali…
Di dunia situasi carut prahara ini Tuhan, Engkau dicari,
Engkau dimohon, diiba dan diperingati,
Engkau dimuliakan dalam tayangan,
Disimak di media-media
Disajikan dalam video-video online
Ditangisi haru di celah-celah
live streaming, signal smart-phone, laptop dan televisi…
Tuhan,
Sudahkah Engkau telah bangkit?
Di mana kemenangan-Mu atas sakit, dosa dan maut?
Masihkah Engkau Raya di hari-hari sunyi perayaan-Mu?
Atau, mungkinkah gereja-gereja
telah serupa kubur kebangkitan-Mu yang kosong ?
Dijaga malaikat-malaikat yang tajam menghardik kekebalan hati
menunjuk jalan menemukan-Mu : “agar kami kembali ke rumah Galilea kami
mencintai orang-orang yang telah Kau percayakan’
namun acap kami lupakan :
makan, bercanda, mengelus kepala, atau sekedar senyuman,
bekerja dekat dan bercakap erat dalam satu-satunya gereja paling bernilai hidup ini…”
Seperti Engkau telah dikuburkan diam-diam ketika
kami belum sanggup percaya kematian-Mu,
Secara rahasia Kau telah kembali
dan tinggal di rumah gelisah kami,
saat tak seorang pun sanggup
menghibur cemas dukacita yang dasyat melingkung ini…
Maka,
ajarlah kami sekali lagi, mencarimu di waktu fajar
di serpih-serpih takut, resah dan pikiran tak menentu
yang selalu menghantui kehidupan kami,
Dan ciptakanlah lagi :
kepekaan hati “merawat taman menanti dengan diam
mekarnya kuncup-kuncup bunga, yang kan gugur layu dan berganti.”
suatu kepekaan jiwa: “bahwa sesungguhnya rapuh fanalah hidup kami
bila Engkau tak datang menyalakan Alfa dan Omega
dari tungku kehidupan yang menyala dari hidup-Mu sendiri…”
Datanglah Tuhan di Raya hari-hari-Mu kini, merayalah di tengah prahara ini,
agar hirup lagi hanya dan hanya oleh embusan nafas-Mu’
agar makin :
« Apa lagi yang perlu dikhawatirkan,
sebab tak satu pun yang hilang,
ya semuanya dicipta agar terlahir lagi,
diberikan untuk diserahkan kembali… »
Datanglah Tuhan di depan mata kurang percaya ini,
Seperti lahapnya telah Engkau santap,
ikan goreng yang tersisa sedari kemarin:
“Ah, (meski tak lama kepergianmu)
Cinta-Mu benar-benar membuat jiwa kami demikian merindu”
Sebab jika hari-hari telah senja,
ruang-waktu yang masih tersisa,
masih terlalu banyak bencana, perkara, rapuh rencana,
atau tanya tak terurai:
“Menginaplah bersama kami di rumah risau ini,
setidaknya sejenak singgahlah
untuk berbagi nasi dan mencecap kopi”.
Agar Alleluia bagi-Mu dapat kami lantunkan,
Mata iman kami tengadahkan di serakan bencana,
di susuran hidup yang terasa berayun jatuh, makin tenggelam…
Alleluia… Alleluia… Alleluia
15.04.20
Backsound:
- Aikyo. Cajita de musica. Granada. Hang, Bells, Flauta & Chelo
https://www.youtube.com/watch?v=iOPRC… - Requiem for a Dream – BEST COVER VERSION | Bandura & Hang
https://www.youtube.com/watch?v=or_Wp…
Sumber Indonesian Carmelites