NYALA API CINTA: “BUKA MATA”
BUKA MATA
Agama semestinya mengajarkan iman yang benar dan membantu para pengikutnya untuk membuka mata dalam menghayati imannya secara benar. Itu akan membawa kontribusi positif bagi hidup ini. Namun, fakta yang ada tidak selalu demikian.
Terdapat orang-orang beragama yang karena terkurung dalam mentalitasnya sendiri gagal membuka mata untuk melihat realita secara utuh. Umumnya mereka menjadi orang yang murung, pesimistis dan menyerah pada keadaan. Lebih celaka lagi, tatkala mereka menebarkan kegagalannya itu sedemikian luas sehingga menularkan perilaku keliru.
Dua murid yang pulang ke Emaus itu sebagian contohnya. Mereka memiliki pandangannya sendiri. Harapan mereka tentang Mesias keliru sehingga tatkala menyaksikan-Nya mati di salib mereka menerimanya sebagai nasib. Pasif. Kalah. Tamat. Baru tatkala mendengar penjelasan dari Sang Guru Kehidupan dan mengikuti perjamuan-Nya, terbukalah mata mereka. Lalu, lahirlah cakrawala dan harapan baru. Pesimisne berubah menjadi optimisme; kesedihan dan keputusasaan digantikan pengharapan dan keberanian.
Di tengah pandemi Covid19 ini muncul kaum beragama yang menebar pesimisme; berkelindan dengan kepalsuan membagikan kegelisahan. Agama demikian menutup mata sehingga tidak mampu melihat kekuatan ilahi yang sedang bekerja saat ini.
Syukurlah, ada lebih banyak orang beriman dan beragama yang berjuang keras mengatasi Cobid19. Mereka percaya akan kekuatan Allah yang tidak terbatas. Mereka menampakkan karitas dan integritas. Menghimpun dana dan menyalurkan makanan kepada yang kehilangan pekerjaan atau yang terancam kelaparan. Mereka membuka mata dan percaya bahwa Allah ada di tengah-tengah mereka.
Mereka ini memanifestasikan ajaran agama dan iman yang benar. Pikiran, perkataan dan tindakan mereka menegaskan bahwa Allah tidak pernah membiarkan manusia berjuang sendiri. Kolaborasi positif dalam menghadapi pandemi adalah contoh nyata dari kaum beriman yang mewujudkan imannya dengan membuka mata terhadap situasi konkret hidupnya. Allah memang bekerja di tengah manusia yang selalu siap membuka mata terhadap kebutuhan nyata. Mata kepala, mata hati dan mata iman.
Romo Albertus Herwanta, O. Carm.
Universutas Katolik Widya Karya Malang
15 April 2020
Sumber Indonesian Carmelites