NYALA API CINTA: “TERBUKA”
KETERBUKAAN
Sebagian agama bermula dari misi mulia, yakni menyelamatkan umat manusia. Ada yang lahir di tengah zaman jahiliyah. Ada pula yang muncul karena sadar akan penderitaan. Yang lain dimulai untuk mewartakan pembebasan umat manusia dari dosa dan kematian.
Karena sifat misinya itu agama yang sejati dan benar bersifat terbuka bagi semua orang, tanpa sekat dan batas. Kesadaran akan sifat itu muncul perlahan-lahan. Berubah dari eksklusif ke inklusif. “Jadi kepada bangsa-bangsa lain pun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kis 11: 18). Ungkapan itu menunjukkan kesadaran jemaat awal akan Allah yang menyelamatkan semua orang.
Sang Guru Kehidupan menyebut Diri Gembala (Yoh 10: 11). Dia datang untuk menyelamatkan semua orang. Dia bersabda, “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga; mereka akan mendengarkan suara-Ku, dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh 10: 16). Sifat terbuka dan universal dari misi-Nya amat jelas.
Mulai kapan banyak agama mengubah sifat inklusif menjadi eksklusif? Tidak jelas. Mereka bukan hanya menolak penganut agama yang berbeda, tetapi demikian eksklusifnya sehingga menghakimi dan menghukum. Seakan merekalah yang menentukan keselamatan manusia.
Agama adalah institusi buatan manusia. Fungsinya memfasilitasi manusia dalam menemukan dan mengalami keselamatan. Tidak mengambilalihnya dari Allah. Hanya Allah yang bisa memastikan seseorang selamat atau bakal celaka selamanya.
Betapa dirindukan agama yang secara tepat dan proporsional menempatkan dirinya. Dengan demikian akan bersikap terbuka dan inklusif seperti Allah yang merangkul dan menginginkan semua manusia ciptaan-Nya selamat.
Manusia menemukan keselamatan di dalam Allah; bukan dalam agama. Hingga kini yang manusia dambakan adalah kembali ke asalnya, yakni Allah. Mereka berseru “Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup!” (Mzm 143: 6) Agama yang terbuka akan membawa pembebasan dan keselamatan. Sedang yang tertutup bisa menghasilkan kematian dan kebinasaan.
Romo Albertus Herwanta, O. Carm.
Universitas Katolik Widya Karya Malang
4 Mei 2020
Sumber Indonesian Carmelites