NYALA API CINTA: “RENOVASI”
RENOVASI
Merenovasi rumah sering membutuhkan biaya lebih mahal daripada membangun yang baru. Pilihan itu suka dipilih oleh mereka yang cinta akan arsitektur dan kerangka dasar bangunan yang baik dan kualitasnya tinggi.
Bangunan rumah sosial seperti negara pun perlu direnovasi. Revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo bertujuan untuk merenovasi bangsa dan negara, setelah hampir dua dekade reformasi perbaikannya belum menunjukkan kemajuan berarti. Biayanya mahal. Bukan dalam arti material dan finansial, tetapi biaya sosial. Apalagi, ketika berhadapan dengan kelompok fundamental yang mudah dimanfaatkan politisi dan pemilik modal.
Tuhan juga mesti merenovasi umat pilihan-Nya. Dia membaharui perjanjian dengan mereka yang sebelumnya tidak setia. Tuhan bisa menolak orang yang tidak setia. Tetapi, tidak bisa mengingkari kesetiaan, karena kesetiaan itu adalah hakikat Diri-Nya. Maka, tak bosan-bosan Dia melimpahkan pengampunan dan kembali “berbaikan”. Kasih-Nya tidak terbatas.
“Aku mengasihi engkau dengan kasih yang abadi, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Aku akan membangun engkau kembali sehingga engkau pulih” (Yer 31: 3-4). Kasih Tuhan yang abadi kepada manusia menjadi dasar dan modal dalam usaha-Nya terus-menerus merenovasi umat-Nya.
Hingga hari ini Tuhan masih melanjutkan proyek renovasi-Nya. Memang, Dia telah mengutus Putera Tunggal-Nya sebagai ungkapan cinta terbesar-Nya. Itulah puncak proyek renovasi-Nya yang menjangkau seluruh umat manusia, tanpa diskriminasi apa pun (Mat 15: 21-28).
Semua proyek-proyek renovasi lain hanyalah bagian kecil dari proyek renovasi raksasa di atas. Renovasi rumah berangkat dari niat membuat semuanya baik. Bahkan jika mungkin untuk memulihkan keadaan seperti aslinya.
Renovasi rumah sosial seperti negara juga bentuk partisipasi dalam proyek raksasa Tuhan. Ketika dikerjakan selaras dengan kehendak-Nya dan dijiwai kasih serta demi keselamatan umat manusia, tentu akan berbuah berkah. Sebaliknya, bila hanya untuk memenuhi hasrat dan syahwat duniawi, akan memperburuk situasi dan kondisi. Berbuah masalah.
Merenovasi rumah sering lebih mahal daripada membangun yang baru. Demikian pun merenovasi suatu negeri. Jika tidak hati-hati justru akan menjerumuskannya ke dalam malapetaka. Para petualang politik bisa memanfaatkannya untuk mengganti ideologi negeri. Alasannya, membangun yang baru lebih murah daripada merenovasi. Hati-hati!
Malang, 5 Agustus 2020
RP Albertus Herwanta, O. Carm.
Sumber Indonesian Carmelites