KATA-KATA ADALAH DOA
Ada seorang ibu yang selalu marah-marah pada anaknya, “Goblok kamu, selalu salah mengerjakan ini dan itu!” Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telinganya dan terus terngiang-ngiang. Lama kelamaan, anak itu mengamini apa yang dikatakan ibunya, “Memang, aku goblok!”
Ibu tadi itu sebenarnya “mengutuk” karena dirinya tidak memahami efek dari apa yang dilontarkan pada anaknya. Ahli pidato Romawi – Cicero (106 – 43 seb. M) pernah berkata, “Damnant quod non intelligunt” – mereka menghakimi (sesuatu) yang mereka tidak ketahui. Ia menggoblok-nggoblokan anaknya sendiri.
Mungkin baik, kita ingat akan tulisan Antony de Mello (1931 – 1987) dalam bukunya yang berjudul, “Burung Berkicau”. Dalam tulisan itu secara gamblang, Mello melukiskan seorang pemuda yang frustrasi karena disuruh berubah (menjadi baik). Semakin disuruh untuk berubah, maka pemuda itu samakin tidak mau berubah. Namun, ketika ada orang yang mencintai secara tulus berkata, “Jangan berubah, jangan berubah, seperti ini saja. Aku tetap mencintaimu!” Aneh bin ajaib, pemuda itu berubah.
Kisah di atas dalam bahasa Jawa dikatakan sebagai “sabda merta” – orang yang dapat membangkitkan semangat juang dengan kata-kata positif. Itulah sebabnya, penulis Romawi – Horatius (65 – 8 seb. M) berkata, “Favete linguis” – jangan mengucapkan kata-kata yang mengandung alamat kurang baik.
Mulai sekarang, berhati-hatilah dalam mengeluarkan kata-kata kepada liyan, karena “Nescit vox missa reverti” – Kata-kata yang telah dilontarkan tidak bisa ditarik kembali. Itulah nasihat dari Horatius.
Senin, 18 Juni 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>