MELEWATI LORONG-LORONG SEMPIT
Ada seorang ber-shio kuda yang pekerja keras. Dia tidak mau orang lain diam, tetapi juga harus bergerak. Energinya kuat untuk bekerja. Ia tidak akan berhenti bekerja sebelum tuntas. Ini seperti yang dikatakan panglima tertinggi tentara Carthago – Hannibal (247 – 187 seb. M), “Aut inveniam viam aut faciam” – aku akan menemukan jalan atau kalau tidak aku akan membuat jalan itu sendiri. Ia bertindak dengan sungguh-sungguh, “Acta virum probant” – tindakan membuktikan seseorang.
Memang, setiap orang ingin hidupnya berguna bagi sesamanya. Kebermaknaan hidup itulah yang membuat manusia bertahan, “Is fecit, cui prodest” – yang mendapatkan imbalan adalah dia yang telah melakukannya. Victor Frankl (1905 – 1997) dalam bukunya yang berjudul, “Man‘s Search for Meaning,” meyakinkan kita bahwa orang bisa bertahan hidup itu karena di dalam dirinya merasa berguna atau dibutuhkan.
Kadangkala manusia itu harus melewati jalan yang berliku-liku dan panjang, bahkan manusia rela berkorban melalui “via dolorosa” – jalan penderitaan, demi suatu kebermaknaan hidup. “Ad augusta per angusta” – menuju ke tempat-tempat tinggi melalui lorong-lorong yang sempit. “There is no rose without a thorn” – tidak ada bunga mawar tanpa duri. Untuk melaluinya dibutuhkan: kejujuran, kelembutan hati dan kerendahan hati.
Bersama penyair Romawi – Vergilius (70 seb. M – 19 M) kita boleh berkata, “Vicit iter durum pietas” – kesalehan telah mengalahkan jalan (lorong-lorong) yang sempit.
Kamis, 14 Juni 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>