ORANG YANG SUDAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI
Nelson Mandela (1918 – 2013) dalam autobiografinya yang berjudul“Long Walk to Freedom” menulis bahwa salah satu yang sangat disesalinya ialah bahwa ketika ia dibebaskan, ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal secara sepatutnya kepada para petugas penjara. Inilah sikap seorang negarawan sejati. Tidak ada rasa dendam, namun semuanya untuk kemajuan negrinya.
Perasaan bahwa dirinya “sudah selesai” itu muncul dalam kesadarannya, seperti yang dialami Jalaluddin Rumi (1207 – 1273) penyair kelahiran Samarkand. Ia menulis, “Yesterday I was clever so I want to change the world. Today I’m wise, so I am changing myself” – kemarin saya merasa pandai, maka saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, maka saya akan mengubah diriku sendiri.
Orang yang “sudah selesai” dengan dirinya sendiri tentunya banyak bersyukur. Meister Eckhart (1260 – 1328) mistikus Jerman, pernah mengatakan, “Jika satu-satunya doa yang pernah Anda ucapkan di seluruh hidup adalah terima kasih. Itu sudah cukup.” Dan ini menurut Voltaire (1694 – 1778) sebagai “hidup yang sumarah” – pasrah pada kehendak yang ilahi.
Dalam sajaknya, Voltaire, penulis dan filsuf Prancis, mengingatkan agar hidup itu sumarah, memuja, berharap dan mati. Dalam bahasa Prancis, “se soumettre, adorer, espérer et mourir” (Tempo 16 Januari 2005).
Jumat, 26 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>