JIWA MANUSIA INGIN BERBUAT BAIK
Pernah suatu kali saya naik bus (omnibus vehiculum) dan duduk dekat seorang pemuda yang gagah. Di pemberhentian, ada seorang ibu hamil tua yang naik. Tanpa disuruh, pemuda itu mempersilakan ibu yang hamil itu untuk duduk di tempatnya.
Lantas dalam hati saya berkata seperti yang dulu diucapkan oleh Cicero (106 – 43 seb. M),
“Animus hominis semper appetit agere aliquid” – Jiwa manusia selalu ingin melakukan sesuatu.
Kita meyakini bahwa “dunia ini tempat untuk saling membagi cinta”. Mungkin kita pernah membaca kutipan ini, “Aurora Musis amica” – sinar matahari adalah sahabat dari dewi-dewi seni, yang artinya: pagi yang cerah merupakan awal hari yang baik. Kebaikan alam itu pula yang membuat kita mudah berbagi dengan yang lain.
“Natura duce, errare numquam poteris” – dengan panduan alam engkau tidak pernah tersesat.
Carl Sagan (1934 – 1966) penulis buku “Pale Blue Dot” mengisahkan bahwa nafas panjang yang kita tarik mengandung atom-atom yang juga pernah dihirup Abraham Lincoln (1809 – 1865 ), Alexander Agung (356 – 323 seb. M) dan para nabi dan para pahlawan negeri ini. Orang-orang yang berhati mulia itu telah memberikan virus positif kepada kita untuk berbuat baik.
Itulah sebabnya, Winston Churchill (1847 – 1965) pernah berkata, “We make a living by what we get, but we make a life by what we give” – kita mendapat penghidupan dari yang kita dapatkan, tetapi kita mendapatkan kehidupan dari yang kita berikan.
“Berbuat baik itu tidak sia-sia” kata seorang sepuh. Dan ini juga dikatakan oleh Kahlil Gibran (1883 – 1931), “Kita memupuk keyakinan bahwa kebaikan yang kita taburkan tidak pernah akan hilang, melainkan akan dikembalikan kepada kita lagi oleh Allah yang menyimpan semuanya dalam ingatan sunyi Tuhan”
Rabu, 24 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>