HIDUP ITU SINGKAT
Pernah suatu kali, saya menunggu sahabat saya di sebuah perusahaan. Saya menunggu karena direktur sedang memberikan briefing kepada para karyawan.
Saya sengaja menunggu, karena briefing tentu waktunya tidak lama. Dan benar, dalam beberapa menit, teman saya ini sudah keluar dari kantornya.
“Viva est brevis” – hidup itu singkat. Orang Jawa memunyai ungkapan, “urip iku mung mampir ngembe” dan Kitab Amsal menulis, “Hidup kita seperti bayang-bayang berlalu!” Itulah sebabnya, Horance (….) menulis, “Vita est brevis spem nos vetat in cohare longam” – hidup yang singkat mengubur khayalan kosong. Intinya, hidup yang singkat itu, jangan disia-siakan hanya dengan melamun.
Yang dibutuhkan dalam “hidup yang pendek” itu “take action” dan kurangi menyalahkan lingkungan sekitar. Ini sudah dikatakan oleh Pepatah India, “Orang yang tidak becus menari akan menyalahkan lantai.” Kita ini seolah-olah berpacu dengan waktu, seperti yang dikatakan Kahlil Gibran (1883 – 1931), “Yesterday is but today’s memory and tomorrow is today’s dream” – Kemarin hanya menjadi ingatan hari ini dan besok adalah mimpi dari hari ini.
Socrates (469 – 399 seb. M) berkenaan dengan “Vita est brevis” ini menulis, “Terminat hora diem; terminat auctor opus” – Jam diselesaikan oleh hari, penulis menyelesaikan pekerjaannya. Ia hendak mengatakan bahwa hidup manusia ada rentang masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Tak mungkin kita akan kembali ke masa lalu. Yang bisa kita buat hanyalah belajar, menyesali, meratapi dan memaknai masa lalu yang telah berlalu.
Senin, 22 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>