KERJAKANKAH SEGALA SESUATU SEBAIK MUNGKIN
Ada seorang ayah yang memberi nasihat kepada putranya yang mulai bekerja untuk pertama kalinya, “Jika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik!” Pada waktu itu, saya langsung ingat apa yang dikatakan Plautus (254 – 184 seb. M) sastrawan Romawi yang berkata, “Age quod agis” – “Jika engkau mengerjakan sesuatu, kerjakanlah itu dengan baik!”
Kata-kata seorang ayah tersebut pada putranya di atas tadi, mengingatkan kita akan buku yang berjudul, “Everyday greatness” yang ditulis oleh David Hatch. Ia berkata, “Aku ingin menghayati kehidupan ini dengan keyakinan bahwa karyaku yang terpenting selalu belum kukerjakan. Inilah yang sering kita dengar, “Semoga hari ini lebih baik daripada kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini”. Di sini orang diandaikan adanya progress – kemajuan dari hari ke hari.
Hidup yang singkat ini, kita harus sungguh-sungguh berarti. Chairil Anwar (1922 – 1949) pernah berpuisi, “Sekali berarti, sesudah itu mati!” Dan kata-kata ini pernah didengungkan oleh Shakespeare (1564 – 16161) dalam dramanya yang berjudul Hamlet. Hidup itu suatu pertanyaan terus-menerus, “To be or not to be” – Menjadi sesuatu atau tidak menjadi apa-apa. Kita ingin menjadi pelaku, pengubah dunia atau sekadar menjadi alat, lelucon yang tidak lucu.
Masing-masing kita mendapat amanah yang harus kita kerjakan secara bertanggung jawab. Inilah caranya untuk “menjadi apa-apa” (Shakespeare) atau untuk menjadi “sekali berarti” (Chairil Anwar). Dari sana pula kita ingat kata-kata Helen Keller (1880 – 1968), “Aku ingin sekali menyelesaikan tugas mulai yang istimewa, tetapi tugas utamaku adalah menyelesaikan tugas-tugas kecil seakan-akan semuanya mulia dan istimewa.”
Kamis, 18 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>