MENGUASAI DIRI SENDIRI
MENGUASAI DIRI SENDIRI
“Orang yang kuat adalah orang yang menguasai dirinya, ketika marah” (HR Muslim).
Pernah suatu kali ada seseorang yang marah besar sampai membentak-bentak karyawannya karena salah meletakkan piring. Bahkan boss ini memaki-makinya. Boss ini lepas kendali, out of control.
“Lepas kendali” memang berbahaya dan bisa mengakibatkan kesalahan fatal. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna menjadi sais atau pengontrol Arjuna agar bisa dikendalikan. Arjuna merasa out of control ketika menghadapi para saudaranya seperti: Bhisma, Doryudana, Dorna et cetera. Dan atas wejangan Krishna, Arjuna bisa bangkit kembali.
Orang yang marah, tentu lepas kendali. Bahkan marah seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Di Romawi Kuno, Publilius Syrus (85 – 43 seb. M) pun pernah menukas, “Iracundiam qui vincit, hostem superat maximum” – orang yang menaklukkan kemarahannya menang atas musuh terbesar.
“Penguasaan diri” merupakan keutamaan (virtus) manusia. Dan ini juga merupakan salah satu buah-buah Roh, yakni self-control – penguasaan diri (Gal 5: 23). Dari sana pula kita boleh merenungkan kitab Amsal, “…A man who controls his temper than one who takes a city” – orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota (Ams 16: 32).
Selasa, 16 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>