PESIMISTIS HIDUP DI JAMAN NOW
Ada seorang ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah di TK, pandangannya menerawang jauh. Lalu lamat-lamat, ibu itu berkata kepada teman sebelahnya, “Saya koq pesimistis dengan anak-anak saya di kemudian hari.” Tambahnya lagi, “Tahun 2040 tentunya dunia sudah berubah drastis. Jaman now saja, saya merasa keponthal-ponthal mengejar ketinggalan.”
Ibu muda yang merasa pesimistis itu memang bisa dipahami. Kita hidup di jaman now yang serba kompleks. Kemajuan tehnologi yang tak terkendali ini mengubah gaya hidup. Mungkin benar apa yang ditulis oleh Aldous Huxley (1894 – 1963) dalam bukunya yang berjudul, “Brave New World”. Ia meramalkan sebuah masyarakat yang sudah berubah total di bawah pengaruh teknologi.
Jauh sebelum itu, pesimisme sudah dialami dari zaman ke zaman. Lihat saja dunia para filsuf yakni Yunani. Karena kemiskinan, sakit, pedih dan derita-derita umum yang lain, “banyak orang bijak memandang hidup ini sebagai hukuman dan lahir sebagai malapetaka yang paling besar” (John Wijngaards dalam bukunya yang berjudul, “Persaudaraan Bersama Yesus” hlm. 21). Kata pesimis itu sangat peyoratif, yakni pessimus (Bhs. Latin artinya: buruk).
“Those whom the gods love die young” – Mereka yang disayang Tuhan mati muda, adalah peribahasa Inggris yang patut untuk kita renungkan. Peribahasa ini bisa kita sejajarkan dengan kata-kata ini, “Bagi manusia yang hidup di dunia ini, hal yang terbaik adalah kalau tidak dilahirkan dan bagi orang-orang yang sudah lahir di dunia ini, hal yang terbaik adalah meninggal secepat-cepatnya (Bdk. Pkh 4: 2 – 3).
Rabu, 10 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>