KEHIDUPAN ITU SEPERTI LARI MARATON
Ada orang yang terburu-buru dalam hidup. Dia ingin semuanya serba cepat. Ini yang sering disebut dengan lari sprint: lari jarak pendek dengan kecepatan penuh. Karena serba ingin cepat, maka tidak ada waktu untuk refreshing maupun relax. Sepertinya kurang menikmati hidup.
Ya benar, kehidupan ini bukanlah lari jarak pendek. Kehidupan adalah lari maraton. Kehidupan bukanlah satu pertempuran tunggal, melainkan perjuangan yang panjang. Dan kehidupan itu sendiri sangat kompleks. Masalah yang satu rampung, datang lagi yang berikut dan sepertinya tidak berkesudahan.
Menyadari bahwa kehidupan itu panjang, kita perlu berkaca pada buku yang berjudul, “Streams in the desert” – sungai di padang gurun, L.B. Cowman menulis agar kita tidak “ngaya” (Bhs. Jawa, artinya: do not force yourself – tidak memaksakan dirinya sendiri). Dalam kisah ini, ia menyajikan kisah Yakub dan bukan Esau, “Aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak (Kej. 33: 14). Hewan itu dibiarkan “as fast as they were able to endure” – melangkah semampu mereka.
“Hidup itu tidak usah buru-buru” tulis Arvans Pradiansyah dalam bukunya yang berjudul, “The 7 Laws of Happiness”. Ia mengajak untuk merenungkan setiap peristiwa hidup bak bernafas panjang. Mungkin sama seperti yang diminta oleh John Bunyan (1628 – 1688), penulis “The Pligrim’s Progress” yang legendaris itu. Ia menuliskan agar hati-hati (take care) sampai akhir, sebab di pintu gerbang surga, ada jalan menuju neraka. Orang bertahan sampai pada kesudahannya, akan selamat.
Jumat, 5 Januari 2018
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>