KECEWA, KARENA BERHARAP PADA ORANG LAIN, TERLALU BANYAK
Seorang bapak muda memunyai keponakan yang butuh bantuan. Setelah mengadakan kesepakatan dengan istrinya, suami diperkenankan membiayai sekolah ponakan.
Setelah sekolah dan kemudian kuliah, akhirnya ponakan diwisuda. Tetapi betapa kecewanya sepasang suami – istri ini, ketika anaknya sendiri mau kuliah, ponakan tidak mau membantu. Ketika keluarga ini sedang ada masalah, ponakan tidak menengok sedetik pun.
Manusia adalah ahli dalam memberi harapan, yang saat ini memunyai istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu). Dengan adanya “jarak” dan “waktu yang bergulir” sang pemberi harapan pun mulai ingkar janji. Lihat saja orang yang sedang mau berpisah. Hari pertama, mereka saling memberi kabar dan berjanji akan menjadi sahabat selamanya. Lama-lama, janji itu pun ditelan masa, tak berbekas.
Banyak di antara kita yang “menanam kebaikan pada orang lain” menjadi kecewa. Kecewa karena terbersit suatu harapan, “semoga mereka akan membalas budi!” Ini yang dalam bahasa Latin disebut, “do ut des” – Aku memberi supaya engkau juga memberi. Orang lupa dengan sabda Yesus, “But when you do a charitable deed, do not let your left hand know what your right hand is doing” – Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Mat 6: 3).
Ingat lagu, “Yesus, Andalanku yang sering dinyanyikan pada doa Kerahiman Ilahi?” Ternyata St. Faustina Kowalska (1905 – 1938) memiliki ungkapan, “Turris fortis mihi Deus” – Tuhanlah benteng yang kuat bagiku. Kita tidak bisa berharap lebih kepada orang lain. Dan kita tidak perlu mencari “di luar” diri kita sendiri. “A contented mind is a perpetual feast” – kepuasan batin membuat orang bahagia dan tidak berharap pada orang lain, terlalu banyak.
Sabtu, 16 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>