KESEPIAN ITU PENGALAMAN PRIBADI
Pengalaman kesepian itu adalah pengalaman pribadi. Mungkin di dalam kesendirian, orang itu tidak merasa kesepian. Tetapi, ada orang yang hidup di alam keramaian malah merasa kesepian.” Inilah yang diistilahkan dengan “the lonely crowd”. Chairil Anwar (1922 – 1949) yang dijuluki “Si binatang jalang” menulis dalam puisinya dengan kalimat, “Kesunyian masing-masing”.
Banyak orang pergi ke mall dan makan ramai-ramai di restaurant. Orang-orang sebaya ini ngobrol dan sesekali melihat smartphone masing-masing. Kemudian tertawa lagi. Dan setelah salah seorang pergi ke cashier dengan credit card, maka bubarlah mereka. Dan ketika berjalan menuju tempat parkir, masing-masing pribadi yang sudah terpisah itu menjadi kesepian lagi, “They’re lonesome. Dalam hati tiba-tiba berkata, “Quid hoc sibi vult?” – Apa sesungguhnya yang engkau inginkan?
Hiburan memang untuk sementara waktu bisa mengurangi rasa sepi. Ini yang sudah dibuat 2.000 tahun yang lalu di kota Roma. Dibangunlah colosseum untuk mengambil hati rakyat dengan menyajikan “panem et cercenses” – roti dan sirkus. Dan setelah para penonton itu bersorak-sorai kegirangan mereka kembali ke rumah masing-masing dan merasa sepi lagi.
Teresa dari Calcutta (1910 – 1997) berkata bahwa penyakit terbesar yang melanda dunia zaman modern adalah kesepian. Kesepian itu tidak ada obatnya. Mungkin seperti orang yang hanyut di laut yang meminum air asin. Semakin meminumnya, malah semakin haus. Semakin kita berusaha untuk tidak ingin kesepian, malam tambah kesepian.
Dalam kesepian, seseorang membutuhkan sahabat yang sympathy. Kita simak kata-kata Seneca (4 seb. M – 65 M), “solamen miseri socius habuisse malorum” – adalah suatu penghiburan bagi mereka yang menderita apabila mereka memiliki sahabat-sahabat yang mau merasakan penderitaan tersebut.
Jumat, 8 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>