HIDUP KOQ MAKIN KE SINI, MAKIN BERAT AJA
Ada seorang ibu yang sudah menjadi oma berkata, “Dulu ketika saya masih sebagai ibu muda, mengira bahwa setelah punya cucu, lepaslah saya dari masalah keluarga. Tetapi ternyata, masalah itu datang silih berganti.
Permasalahan yang datang silih berganti ini menurut Shakespeare (1564 – 1616) dalam drama tragedi yang berjudul, “Macbeth” dilukiskan sebagai penyakit neurosis. Ini terjadi dalam diri Lady Macbeth – yang hidupnya tidak tenang, “mbingungi”.
Dalam bukunya Divina Comedia, jilid yang disebut Inferno, Dante (1265 – 1321) menggambarkan bahwa neraka itu terdiri dari macam-macam lingkaran yang makin lebih dalam di kulit bumi. Lingkaran yang paling rendah, juga merupakan lingkaran paling sempit dan panas.
Manusia zaman now itu bagaikan hidup dalam inferno atau jurang yang dalam dan tidak tahu lagi bagaimana keluarnya, “De profundis clamavi ad te, …” – dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu… (Mzm 130). Relasi dengan pasangan pengap, ekonomi yang menghimpit, “gali lobang tutup lobang”, urusan menantu dan ipar-ipar yang menghantui serta dagelan politik yang membuat geram. Maka, tak heranlah kalau ada seorang ibu separuh baya yang berkata, “Hidup koq makin ke sini, makin berat aja!”
Sekali lagi, manusia zaman now itu kesepian dalam keramaian. Mereka memunyai banyak pertemanan di dunia maya, group WA, FB, Twitter yang jumlahnya ribuan, tetapi mereka bukan teman senyatanya. Di sinilah orang mengalami neurosis eksistensial atau kecemasan. Mereka selalu bertanya, “Untuk apakah saya hidup. Menuju ke manakah saya sekarang dan Bagaimana saya menemukan tujuan itu?”
Selasa, 5 Desember 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>