EPITAF SUNYI
The swirling wind
Drizzle without any sound
A quiet epitaph
Immortal journey on earth
Ending up in the silence
Pusaran angin
Rintik tanpa suara
Epitaf sunyi
Perjalanan di bumi
Berakhir dalam hening
*Catatan:*
Epitaf adalah tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di situ.
===oo000oo===
Sedetik ketika orang menghembuskan nafas terakhir, suasana sungguh sunyi-senyap dan hening. Orang yang mengelilingi jenazah terbujur kaku semua membisu. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan setelah itu, tangisan pun membuncah, memecah kesunyian. Air mata memang menjadi bagian hidup manusia. Ini seperti yang dikatakan Virgilius (70 – 19 seb. M), “Sunt lacrimae rerum” – selalu ada air mata dalam semua hal.
Kemudian, masing-masing “pelayat” terbayang epitaf di pelupuk mata sambil mengucapkan good bye kepada yang telah pindah ke alam baka. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing dan jenazah seolah-olah berkata, “hodie mihi, cras tibi” – artinya: hari ini giliranku (yang mati) besok giliranmu.
Maka syukurilah kedua nikmat hidup, yakni nikmat sehat dan nikmat sempat karena waktu memiliki tiga sifat:
1. Cepat berlalu
2.Tak mungkin kembali
3. Harta termahal
Disebutkan dalam QS Al ‘Asr: 1 – 3
1. Demi masa
2.Sungguh manusia dalam kerugian
3.Kecuali orang – yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Maka sebelum mati, gunakan waktu secara benar dan bijak:
1. Isi dengan kegiatan yang bermanfaat
2. Gunakan untuk banyak kegiatan
3. Jangan tunda pekerjaan
4. Kerjakan amalan yang bermanfaat
5. Kerjakan pada waktunya
6. Konsentrasi pada hasil
“Immortal journey” – perjalanan menuju keabadian. Hidup kita di dunia ini, bagaikan “mampir ngombe” – singgah untuk minum., yang artinya hanya sebentar saja hidup fana di dunia. Sangat singkat
Dan ketika kita ada di marcapada, maka kita pun melakukan bisnis (busy = sibuk; business = kesibukan). “Vivere militare est” kata Seneca (4 seb. M – 65 M) yang berarti hidup adalah suatu perjuangan.
Di alam nyata, sine qua non, kita harus hidup dalam suasana hiruk-pikuk, ingar-bingar dan nego sana-sini. Seolah-olah, tidak ada keheningan. Kata “nego” sendiri berasal dari kata: “ne” artinya: tidak dan “gotium” artinya: waktu senggang. Manusia pada era digital ini sepertinya diciptakan “tidak boleh ada waktu senggang” dan semua harus menciptakan _business_ dan negotium.
Kita lupa bahwa “Vanitas vanitatum et omnia vanitas” – kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia (Pkh. 1: 2). Jabatan dan harta akan musnah, bersama kematian.
Maka dalam prosesi pemakaman ada ritual “Nyebar uang dan beras kuning” yang melambangkan harta kekayaan yang bermakna harta benda tak dibawa mati. Semua tak berguna di ketika orang sudah mati. Dan semua hanya berakhir dalam hening, “Ending up in the silence”.
Semua kembali seperti ketika kita lahir, yakni tak membawa apapun kecuali amal, baik amal buruk maupun amal baik.
Dikisahkan dalam _tembang dolanan_ yang berjudul, “Sluku – sluku bathok”
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Maknanya adalah bahwa diketika hidup kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berbuat kebajilan dan beramal shaleh sebab ketika mati orang sudah tidak bisa berbuat apa -apa lagi.
Minggu, 30 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>