TUHAN, AMBIL NYAWAKU SAJA
Ada seorang ibu muda yang mengeluh demikian, “Duh, ngurus anak zaman sekarang ini berat. Kalau sudah pegang smartphone saya tidak bisa lagi mencegahnya. Belum lagi harga barang-barang melambung tinggi, semua serba uang. Tidak mudah hidup di era digital ini.”
Inilah serpihan-serpihan keluhan yang sering muncul. Tidak dapat dipungkiri bahwa menghadapi dunia ini, kadang-kadang muncul “penyakit kejiwaan” seperti yang ditulis Andar Ismail. Tulisnya, “Murung berkepanjangan, mudah tersinggung, hilang minat, hilang kreativitas, mengasingkan diri, tidak nafsu makan, enggan buat ini dan itu” (Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul, “Selamat Membarui” hlm. 89). Kita mengatakannya, “Hidup enggan mati tak mau.”
Para nabi pun kadang mengalami situasi yang demikian ketika berhadapan dengan umatnya. Nabi Elia misalnya, mengalami situasi yang sangat genting dan berkata, “…Take my life; I am no better than my ancesstors” – ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku (1 Raj 19: 4).
Dalam situasi berat, orang ingin “melarikan diri” dan hidup tenang seperti yang ditulis Horatius (65 – 8 seb. M). Dalam bukunya yang berjudul, “Epistola” ia menulis, “Illic vivere vellem oblitusque meorum, oblivescendis et illis” – di sanalah aku ingin hidup, terlupakan dari keluargaku, yang juga harus melupakan diriku.
Kamis, 26 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>