AROMA KUBUR
Along with the wind
The sun returns to the west
Scent of the grave
Life likes a flower of the grass
Bloom withers and then dies
Bersama angin
Matahari berpulang
Aroma kubur
Hidup bak bunga rumput
Mekar layu dan punah (Bdk. 1 Ptr 1: 24).
(Tanka collaboration of Trisno Soriton and Elis).
=====oo000oo======
Pernah suatu kali, saya bertanya kepada nenek saya, “Nèk mengapa kalau berjalan selalu membungkuk?” Nenek itu pun berkata, “Saya ini sudah bau tanah dan mungkin dalam waktu dekat akan berangkat.”
Nenek ini menyadari dengan apa yang dikatakan Vergilius (70 seb. M – 19 M) penulis Romawi yang berbunyi, “Venit summa dies, et ineluctabile tempus” – tibalah hari puncaknya dan waktunya pun tak terhindarkan. Itulah kematian.
Memang, ketika orang memasuki masa tua, ia tidak produktif lagi, dan kadang-kadang pula muncul penyakit kejiwaan dan mengarah pada post power syndrom. Namun, sebagai orang yang sudah uzur, tidak perlu berkecil hati, karena Shakespeare (1564 – 1616) dalam puisinya yang berjudul, “The Rape of Lucrece” menulis, “The old bees die, the young possess their hive” – ketika lebah tua mati, maka yang muda mendapatkan sarangnya.
“Scent of the grave” – aroma kubur, mengingatkan kita akan tempat terminal kita. Dan semoga di atas kubur kita tertulis ephitat indah, “Sit tibi terra levis” – Semoga tanah di atasmu ringan. Pepatah Latin itu ditulis oleh Martialis (38 – 102) yang terjemahan bebasnya: Semoga engkau tidak terbebani lagi. Dulu, ungkapan ini sering tertulis di kuburan-kuburan kuno.
Rabu, 25 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>