KITA INI, MAKHLUK LEMAH
KITA INI, MAKHLUK LEMAH
Ketika sedang melewati makam di sebelah kamar kerjaku, saya melihat sebuah sarean (tempat untuk tidur) baru yang di atasnya tertanam bunga kamboja. Di sana pula, saya teringat puisi yang ditulis oleh Elisabet
Dim twilight in hue
Leaves swaying by gentle breeze
A hazy silence
Looking at frangipani
Remember my beloved
Alam meredup
Dedaunan bergoyang
Sunyi menyergap
Melihat frangipani
Ingat orang terkasih
Frangipani – bunga kamboja, yang sering ditanam di makam-makam sungguh mengingatkan kita akan orang-orang “yang sudah di alam lain”. Mungkin orang tua, anak, cucu, kemenakan, maupun sahabat tercinta.
Memang, kematian – cepat atau lambat – tidak terelakkan. Pagi hari, ada orang yang segar bugar, ternyata siang hari sudah tidak bernyawa lagi. Hari ini bisa tertawa, besok sudah terkubur, “Cito pede labitur aetas” – dengan langkah cepat, waktu lepas berlalu, seperti yang dikatakan Ovidius (43 seb. M – 17 M).
Kita ini makhluk lemah dan suatu saat pun akan menjadi tanah, “For dust you are and to dust you will return” – Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3: 19 b). Dan kita harus mengamini dengan apa yang dikatakan Horatius (65 – 8 seb. M), “Aequa lege necessitas sortitur insignes et imos” – kematian itu berlaku sama bagi orang kenamaan maupun yang paling hina.
Selasa, 24 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>