DARI JURANG YANG DALAM
Pernah suatu kali saya mengunjungi seorang ibu yang sekarang berjualan kelontong di sebelah toko swalayan.
“Setahun yang lalu” katanya, “Saya yang mengelola toko besar itu. Tetapi karena kematian suamiku – bapaknya anak-anaknya – Saya harus bergeser dan sekarang ini, toko swalayan dikelola oleh ipar-iparku”
Menyaksikan apa yang dialami ibu itu, ia kini amat sedih dan betapa berat hidupnya. Dan yang paling menyedihkan yaitu tempat duduknya, kini diduduki orang lain dan sekarang ia ndhepis (duduk di warung yang sempit sekali). Seolah-olah, ia mengeluh, “Out of the depths I cry to you, o Lord” – Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! (Mzm 130: 1).
Jurang berarti lembah yang dalam dan sempit, serta curam dindingnya. Di lain tempat disebut juga sebagai tubir yang gelap gulita. Barangkali seperti itulah yang dilukiskan Dante Alighieri (1265 – 1321) sastrawan Italia ketika menerangkan inferno dalam novelnya yang berjudul, “Divina Comedia”. Yang ada hanyalah ratapan, seperti kata-kata pemazmur, “Illic sedimus et flevimus” – di sanalah kita tinggal dan meratap (Mzm 137: 1).
Kita semua tentu pernah mengalami situasi “De profundis” – Dari jurang yang dalam, seperti: penyakit yang tak tersembuhkan, relasi dengan sesama yang terganggu dan tak mungkin pulih kembali, gali lubang untuk menutup lubang (pinjam sana, pinjam sini) serta kematian orang yang dicintai, terlebih karena menjadi andalan keluarganya.
Sabtu, 21 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>