AIR MATA KESEDIHAN
Saya pernah menyaksikan atau tepat dikatakan “menemani” orang yang menangis di sebelah peti jenazah. Bapak muda ini menangis tersedu-sedu sambil merangkul anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Melihatnya, saya menjadi miris.
Sahabat saya ini mengalami kesedihan yang sangat mendalam (the depth of grief), karena satu-satunya orang andalannya, ibu dari anak-anaknya “tidur panjang” menurut Ebiet G. Ade dalam lagu yang berjudul, “Camelia IV”.
Memang tangisan di kala mengalami kesedihan itu amat perlu. Ini seperti yang dikatakan Richard dalam drama Shakespeare (1564 – 1616), yang berjudul, “Henry VI”. Katanya, “To weep is to make less the depth of grief” – menangis dapat mengurangi kesedihan yang mendalam. Terentius (185 – 150 seb. M) penyair Romawi pun berkata, “Hinc dolor, lacrimae hinc” – dari sana asal dari duka, dari sana pula asal dari air mata. Menangis barangkali merupakan catharsis.
Memaknai “air mata kesedihan” akan lengkap jika kita membaca puisi tulisan Vonny Aronggear dalam “Antologi Puisi 66 Penyair” halaman 234:
Tetes hujan basahi pipi
Tercabik hati dalam getir
Kurenda potongan memori
Dari jalanan yang tak sempurna
Cintaku menangis dalam diammu
Jumat, 20 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>