KEJADIAN DAN PERISTIWA
Kadang ketika larut malam tiba, dalam kepekatan hitam, terbersit peristiwa dan kejadian terbayang-bayang bagaikan film yang menari-nari di depan mata.
Kejadian dan peristiwa kadang menghibur, kadang timbul penyesalan dan kadang malu terhadap diri sendiri. Mungkin hal ini seperti Virgilius (70 – 19 seb. M) dalam petualangan Aeneas, “Quorum pars magna fui” – begitu banyak kejadian menimpa diriku.
Dalam kesendirian, menjelang datangnya malam kadang juga muncul “pikiran-pikiran jahat”. Rencana-rencana untuk melaksanakan agenda esok pagi kadang, terngiang saat itu juga. “Machbeth” dalam drama tragedi Shakespeare (1564 – 1616) menjelang akhir hidupnya berbicara kepada gelap, “Hidup hanya wayang yang berjalan meregang untuk satu malam”.
“Pernahkah kita merasa tertekan dan terlalu banyak kejadian dan peristiwa dalam didup?” Dan kita berpikir, “If tomorrow never comes”. Dan pada akhirnya kita bermazmur, “Hidupku berlalu seperti bayang-bayang pada waktu petang, aku layu seperti rumput kering” (Mzm 102: 12).
Ingat, bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah atas ijin kehendak Allah swt semata. Apabila Allah berkehendak, “Kun fayakuun” – Jadilah maka terjadilah.
Memang, kadang-kadang kita perlu sejenak bercermin diri, “Semua dalam hidup ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian itu sendiri”. Menyitir kata-kata Horatius (65 – 8 seb. M), “Omnes eodem cogitur” – kita semua diarahkan kepada titik yang sama, yakni kematian.
Sabtu, 7 Oktober 2017
Markus Marlon
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon <markus_marlon@yahoo.com>