Belajar bermisi bersama Putri
Belajar bermisi bersama Putri
Rm. Didik Bagiyowinadi Pr
Pada tahun 2000, saat masih frater S2, saya sempat nyantrik misi pada Sr. Xaveria PIJ, dirdios KKI Keuskupan Malang kala itu. Usai tahbisan pun saya masih membantu di Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Malang. Dan ketika pulang studi kitab suci dari Roma, saya malah diminta Mgr Pandoyoputro untuk menangani KKI Keuskupan Malang sampai keberangkatan saya kemarin ke Manila. Tugas utama KKI adalah menanamkan semangat misi kepada semua lapisan umat, dengan pelbagai cara. Intinya, berkat sakramen baptis dan krisma, kita semua diutus mewartakan Injil, dengan meninggalkan egoisme diri dan terarah pada kebutuhan orang lain. Di kalangan anak dan remaja, semangat KKI sangat terkenal dengan singkatan 2D2K: doa – derma – kurban – kesaksian. Dalam pelbagai kesempatan pengajaran pada umat pun saya menyinggung semangat ini. Jujur, terkadang sempat ada keraguan dalam hati, jangan-jangan semboyan 2D2K ini hanya indah di omongan, tetapi tidak juga terwujud dalam kenyataan.
Ketika saya singgung apakah nanti pengin jadi suster, dia bilang cita-citanya ingin jadi guru. Dengan berseloroh saya katakan, “Iya, ntar bisa sering ngunjungi Romo, kalau Romo sudah tua.” Agaknya saat mengikuti misa kaul perdana para Suster Pasionis (14 Agustus 2014) – kebetulan dia ikut ibunya menulis naskah Pelangi Kasih di Seminari Praja dan kami semua ikut misa kaul itu – dia mencoba duduk di depan dan berusaha untuk ambil gambar. Adakah terbersit keinginannya jadi Suster? Entahlah. Yang pasti, saat kecil tiap pagi-sore ia dititipkan di Tempat Penitipan Anak asuhan Suster Pasionis di Jl. Ciliwung. Beberapa kali diajak keluarganya mengunjungi para suster misericordia yang sepuh.
Akan tetapi, sejak dia didiagnosis oleh dokter bahwa dia memiliki kelainan dan harus dioperasi, cerita lain kemudian bergulir. Apa yang saya ceritakan berikut ini, justru saya ketahui dari keluarganya, setelah Putri dipanggil Tuhan. Selama kontak sama Putri saya tidak pernah omong yang rohani-rohani. Usai menerima komuni pertama, memang dia saya hadiahi buku: Komuni Pertamaku: Kenangan Terindah (Obor, 2005). Bisa jadi setelah membacanya, dia mendapatkan peneguhan. Tetapi yang saya tulis itu kan lebih pada wacana, sama seperti kalo saya memberikan seminar tentang misi. Contoh hidupnya justru saya temukan dalam putri cilik ini! Bahkan bisa jadi, dia sudah melakukannya jauh sebelum membaca buku itu.
Kepolosan Seorang Anak
Sebelum dioperasi di RKZ, saya melayani Putri dengan Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan orang Sakit. Sama seperti saya, kelas 6 SD sudah menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Kepolosan seorang anak, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan jiwanya. Ketika akan dipindahkan ke ruang operasi, dengan diam-diam perawat menyuntikkan obat bius [semoga saya tidak keliru mengingatnya] pada tangannya. Entah karena terkejut atau marah, kata-kata yang keluar dari mulut Putri adalah, “Berdosa!” Saya sempat tertegun, biasanya orang jengkel dan marah, bisa jadi akan mengumpat atau omong kotor. Tapi kata itulah yang keluar dari mulutnya, yang bisa jadi “kosakata: suci-dosa” itu yang ada di benaknya.
Misteri Kematian orang Muda
Pengalaman Kontras
Dalam refleksi Apakah Sekedar Kebetulan saya sudah menuliskan aneka kebetulan indah dalam peristiwa kematian Putri. Saat bacaan Injil mewartakan kebangkitan Putri Yairus berusia 12 tahun (Mrk 5:21-43), pada 3 Februari 2015 itu Putri justru dipanggil Tuhan. Pengalaman kontras ini mengingatkan saya pada Imelda Lambertini, pelindung anak-anak penerima komuni pertama, yang penasaran dengan sabda Yesus, benarkah kalo menyambut Komuni Kudus orang tidak mati selamanya (Yoh 6:51)? Setelah menyambut Komuni Kudus secara ajaib yang keluar dari tabernakel, dia justru meninggal mendadak! Tetapi jenazah Imelda Lambertini tidak rusak hingga hari ini.[1] Hal menarik bahwa bacaan tentang kebangkitan anak Yairus itu dibacakan lagi pada hari Minggu Biasa ke-13 Tahun B (artinya bacaan ini hanya muncul tiga tahun sekali untuk bacaan hari Minggu). Kebetulannya, hari Minggu ke-13/Th B itu jatuh pada 28 Juni 2015, tepat Putri semestinya merayakan ulang tahunnya ke-12! Kebetulan demikian jelas tidak bisa dibuat oleh mereka yang belajar kitab suci atau liturgy sekalipun. Hanya Tuhan yang bisa menyelenggarakannya.
Laku Misi 2D2K
Menyadari aneka kebetulan indah itu, saya kemudian dibuat berdecak kagum setelah mendengar dari keluarganya, tentang apa yang dilakukan Putri selama hidupnya yang relatif singkat itu. Saya mencoba membingkai pengalaman Putri dan merefleksikannya dalam paradigma semangat misi: 2D2K.
Doa Misioner
Doa misi itu bukan sekedar doa atau menjalin relasi intim dengan Tuhan dan memohon apa yang kita butuhkan, melainkan sebuah doa misioner, doa syafaat, yakni doa untuk kepentingan orang lain. Adakah kita bertekun dalam doa? Apakah kita juga memohonkan kebutuhan orang lain? Dalam buku renungan harian anak Pelangi Kasih disediakan ruang kosong bagi anak-anak untuk menuliskan niat atau doa mereka setelah merenungkan sabda Tuhan. Visi ke depannya sih agar semakin banyak anak Katolik yang lancar berdoa spontan! Apakah visi ini terasa muluk? Semoga tidak.
Lantas apa yang dilakukan Putri? Ternyata dia punya kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga. Menariknya, yang memimpin adalah Putri, dengan doa spontan yang lancar dan panjang. Yang didoakan bukan hanya mereka yang dia kenal, tetapi juga apa yang dilihatnya di televisi: kurban bencana, kurban kecelakaan, narapidana yang akan dihukum mati, dll! Adakah pikiran kita sejauh itu? Ataukah kita melihat televisi sekedar mencari informasi dan berhenti pada rasa kasihan pada si korban. Adakah kita juga digerakkan oleh belaskasih untuk mendoakan jiwa-jiwa mereka? Inilah alasan suster-suster Karmelites Batu menyimak berita dari koran, supaya tahu, siapa dan apa saja yang perlu didoakan.
Derma
Salah satu bentuk misi adalah mengumpulkan derma; pada hari anak misioner untuk membantu anak-remaja sedunia yang membutuhkan, pada hari minggu panggilan untuk membantu pembinaan seminari-seminari tinggi sedunia, dan pada hari minggu misi untuk menunjang karya misi para Uskup. Derma juga dikumpulkan selama masa Prapaskah dalam bentuk APP dan masa Adven dalam bentuk Aksi Natal. Dalam misa hari anak misioner di Malang, biasanya anak-anak mempersembahkan kado bagi Kanak-kanak Yesus yang kemudian disalurkan pada anak-anak yang membutuhkan.
Apakah jumlah derma Putri itu banyak? Saya tidak tahu, yang pasti dia hanya seorang anak SD, dari keluarga guru. Tetapi hal khusus yang dia lakukan adalah menjelang pengumpulan Aksi Natal atau APP, dia biasanya menukarkan uang derma yang dikumpulkannya pada guru yang suaminya kerja di bank. Dia menukarnya dengan uang gres-gres. Suatu kali dia tidak sempat menukarnya, maka uang-uang kertas itu dia setrika, lalu disemprot pewangi! Ketika mamanya menanyakan mengapa mesti aneh-aneh, apa jawab Putri? “Ini kan persembahan untuk Tuhan Yesus!”
Kesaksian
Sejauh saya dengar, Putri itu begitu pedulinya sama yang lain dan tidak mau mendiamkan bila ada hal yang tidak beres. Alhasil, dia sering menegur teman-temannya, dan bisa jadi dia tidak disukai oleh mereka yang ditegurnya. Tetapi inilah risiko mewujudkan kasih, dimana kasih tidak membiarkan ketidakbenaran, tetapi berani menegur dan mengingatkan yang salah. Bukankah kita cenderung membiarkan apa yang sebenarnya tidak benar karena ingin memelihara “harmoni”? Sikap kenabian kalah dengan rasionalisasi “daripada ntar rame.” Sikap kasih juga ditunjukkan Putri dengan memberi perhatian pada penjual kue yang berjualan keliling di kompleks perumahannya. Umumnya anak-anak datang sekedar untuk beli kue. Tetapi Putri mau peduli pada si penjual, sampai bantu-bantu mengatur posisi dagangannya. Saat dirawat di ruangan anak RKZ, dia sempat meminta mamanya menggendong pasien lain, seorang anak kecil, yang terus menangis. Tanpa sikap peduli pada orang lain, tidak mungkin kita bisa memberikan kesaksian sebagai “garam dan terang dunia” (Mat 5:14-16).
Kurban
Saya yakin Putri juga merasa kesakitan, sedih, bergumul, dan bertanya pada Tuhan: kenapa dia harus sakit, bukankah dia juga ingin terus sekolah, sama seperti teman-temannya…. Terkadang memang tidak selalu ada jawabannya. Saat dirawat di ruangan anak RKZ, Putri sempat mengatakan, nanti akan bertanya kepada Tuhan, kenapa adik-adik kecil ini diberi sakit? Dia kelas 6 SD, paling besar di ruangan anak itu. Maka saya bisa memahami makna tulisannya setelah dia sakit: “Tuhan Yesus, JANGAN ada anak kecil sakit, Biar Aku/PUTRI saja.”
Keberhasilan karya misi tidak hanya ditentukan oleh sayap pertama: keuletan, ketekunan, dan kreativitas para pelaku misi, tetapi juga ditunjang sayap kedua: doa dan kurban. Pada setiap tanggal 11 Februari, kita merayakan Hari Orang Sakit Sedunia, dimana orang-orang sakit diundang mempersembahkan derita-penyakit mereka dan dipersatukan dengan penderitaan Kristus sehingga menjadi korban rohani (lih. Lumen Gentium 34; Kol 1:24). Dengan menyatukan penderitaan dan penyakit dengan korban Kristus sendiri, orang Kristen diundang untuk “naik kelas”: bukan bertanya mengapa, tetapi untuk apa. Paulus pun dari penjara menasihati umat Filipi, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia” (Flp 1:29). Menderita bagi Kristus dan Gereja-Nya merupakan level kedua kekristenan – dimana level pertama percaya kepada Kristus – sebab kita diundang semakin serupa dengan Kristus yang menderita.
Dua Pengalaman Kecil
Kendati saya punya kedekatan dengan Putri, namun sampai hari ini pun saya belum pernah bermimpi bertemu dia. Saya hanya dibantu untuk peka dengan aneka kebetulan dan kisah-kisah kecil dalam pengalaman hidup Putri, yang saya tahu justru setelah dia meninggal. Di sini saya mau mengisahkan dua pengalaman pribadi berkaitan dengan Putri, setelah dia meninggal.
“Romonya anak-anak”
Ketika mensharingkan pengalaman saya tentang Putri kepada pembimbing rohani saya, seorang imam senior, saya katakan keyakinan saya, tentu sekarang Putri sudah berbahagia bersama Tuhan. Tetapi Romo itu mengatakan, “Romo, jangan berhenti sampai di situ.” Saya pun menanyakan maksudnya. “Masih banyak anak-anak yang telah keguguran dan digugurkan, tetapi tidak ada yang mendoakan!” tandas beliau. Saya jadi teringat pengalaman seorang imam yang setiap bulan mempersembahkan misa khusus untuk kedamaian arwah anak-anak korban aborsi. Bahkan pengalaman imam itu saya tulis dalam salah satu refleksi di buku Doa dan Refleksi Menantikan Kelahiran (Obor, 2009). Waktu itu saya merasa, bagian saya adalah menceritakan pengalaman khas romo itu, tetapi tidak terbersit sama sekali bahwa hal ini juga menjadi “bagian” saya.
Kebetulan berikutnya terjadi, begitu saya keluar dari wisma romo pembimbing rohani itu, pembantu yang membukakan gerbang, seorang umat paroki Blimbing dimana dulu saya pernah melayani sebagai pastor rekan, menanyakan dimana saya sekarang tinggal, lalu berseloroh, “Romo Didik ini dulu di Blimbing dikenal Romonya anak-anak.” Deg…hati saya disadarkan oleh pernyataan dua orang yang tidak saling janjian ini.
Memang dulu sewaktu di paroki setiap bulan saya mempersembahkan misa untuk anak-anak dengan khotbah khusus yang menyapa mereka. Dan kini saya sadari, bahwa anak-anak itu tidak hanya mereka yang masih hidup dan tumbuh berkembang, tetapi juga anak-anak yang telah menghadap Tuhan, korban aborsi – baik keguguran maupun digugurkan – yang membutuhkan doa-doa! Pengalaman perjumpaan dengan Putri mengantar saya pada “perutusan” baru, ikut mendoakan anak-anak korban aborsi. Saya yakin, Anda yang membaca tulisan saya ini, juga akan ikut mendoakan anak-anak korban aborsi yang Anda ketahui dan belum sempat Anda doakan.
Doa untuk Kelahiran Keponakan saya ketiga
Kedekatan saya dengan Putri saat pertama kali berjumpa di susteran pasionis Ciliwung (2005-2006), bisa jadi didorong oleh kerinduan memiliki keponakan sendiri. Saya dua bersaudara, dan saat itu adik saya belum menikah. Tetapi sekarang saya memiliki tiga keponakan dari adik saya. Saya mau menuturkan pengalaman kelahiran keponakan ketiga, yang lumayan unik. Kandungan adik saya sudah masuk minggu ke-42, tetapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan! Hari Sabtu, 8 Oktober 2016, saya mengajar kursus teologi di Surabaya, sehingga pulangnya menginap di adik saya sembari ikut berjaga-jaga, kalau adik saya segera melahirkan. Habis ikut Misa Sabtu sore, adik saya langsung periksa ke bidan dan disarankan segera opname di rumah sakit. Akhirnya malam itu saya ikut bermalam di mobil ikut menjaga kedua keponakan saya. Kendati adik saya sudah diinduksi, sampai Minggu siang belum ada tanda-tanda akan lahir. Bila kondisi demikian terus, hari Senin adik saya mungkin akan menjalani operasi sesar. Karena Seninnya saya harus mengajar di Malang, maka Minggu sore itu saya pulang ke Malang.
Sejak Sabtu sore ikut menunggui adik, tidak henti saya berdoa rosario dan memohon bantuan doa Santa Gianna Beretta Molla, pelindung ibu rumah tangga, dokter, dan penyayang kehidupan.[3] Pengalaman saya dua-tiga kali mendoakan ibu yang kesulitan melahirkan, dengan perantaraan St. Gianna Beretta Molla, segera terkabul! Tetapi kali ini, sepertinya ada kendala.
Begitu saya sampai di seminari, hari Minggu pk. 20.00, saya mendapat kabar dari Ibu bahwa adik sudah bukaan 3, kata perawatnya sih akan dilihat lagi setelah 4 jam, dan bisa jadi keponakan saya akan lahir pada esok harinya. Malam itu usai mandi kembali saya berdoa Rosario, dan pada akhir peristiwa, usai kemuliaan dan terpujilah, saya sisipkan doa Fatima dan doa spontan pada St. Gianna Beretta Molla. Itu juga yang saya lakukan sejak Sabtu sore. Tiba-tiba, saya teringat akan Putri, yang di ruangan anak RKZ paling besar diantara pasien anak lainnya dan yang mau bertanya pada Tuhan, kenapa anak kecil diberi sakit. Maka pada akhir peristiwa ke-4 dan ke-5, setelah doa Fatima dan kepada St. Gianna, saya tambahkan kata-kata: “Put, Tante Nanik mau melahirkan, kamu bantu doa ya.” Itu kata yang terucap dari saya dengan keyakinan bahwa Putri sudah berbahagia bersama Tuhan dan mau mendoakan juga pada Tuhan.
Yuk, Terus Bermisi
Kembali ke tujuan semula tulisan ini, saya mengajak dan mengingatkan diri sendiri, lewat pengalaman Putri ini untuk terus menjalankan tugas misi, dimanapun kita berada, berani keluar dari egoisme diri dan terarah pada kebutuhan orang lain melalui doa, derma, kurban, dan kesaksian. Bila kisah pengalaman Putri menginspirasi Anda dan mengobarkan api misioner dalam hati Anda, mungkin untuk itulah saya dipertemukan dengan Putri, untuk terus belajar dan mewujudkan laku misi.
Quezon City, MANILA
Pada HR St. Yusuf, 19 Maret 2017
[1] Bisa disimak kisah dan gambarnya di: https://www.youtube.com/watch?v=bO0Qx9ja2e0
[2] Kisahnya bisa disimak di: http://www.carloacutis.com/en/association/biografia
[3] Kisahnya bisa disimak di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Gianna_Beretta_Molla
|
Greetings & prayer
Petrus Alexander
Pada Sabtu, 5 September 2015 6:24, Alexander Yusup <artalex06@yahoo.com> menulis:
Menjadi Keluarga yang Melayani Seturut Sabda Alah
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr
Dalam Lumen Gentium art. 11, keluarga kristiani disebut sebagai Gereja-rumah tangga (ecclesia domestica). Sebagai Gereja, keluarga kristiani adalah himpunan orang yang percaya kepada Kristus. Hal ini nyata ketika mereka bersekutu dalam doa menanggapi janji Yesus, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku di surga” (Mat 18:19). Namun, bukti nyata bahwa mereka adalah pengikut Kristus adalah ketika mereka melakukan perintah Yesus, yakni saling mengasihi (Yoh 13:34) dan saling melayani (bdk. Yoh 13:14-15). Tentu perintah ini pertama-tama harus diwujudkan di antara sesama anggota keluarga sendiri (lih. Kol 3:18-21, Ef 6:1-4), sehingga menjadi kesaksian bahwa mereka benar-benar murid Kristus (Yoh 13:35). Selanjutnya, kasih ini harus diperluas kepada semua orang, terlebih kepada saudara seiman (Gal 6:10).
Hal senada juga ditegaskan dalam Dekret Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam bahwa tugas perutusan keluarga kristiani akan terwujud:
“bila melalui cinta kasih timbal-balik para anggotanya dan doa mereka bersama kepada Allah, keluarga membawakan diri bagaikan ruang ibadat Gereja di rumah; bila segenap keluarga ikut serta dalam ibadat liturgis Gereja; akhirnya, bila keluarga secara nyata menunjukkan kerelaannya untuk menjamu, dan untuk memajukan keadilan dan amal-perbuatan baik lainnya untuk melayani semua saudara yang sedang menderita kekurangan” (AA 11).
Dengan demikian semangat saling melayani dalam keluarga perlu terus ditumbuhkembangkan agar bisa menjadi motor bagi pelayanan dalam Gereja dan masyarakat. Kesadaran akan hal ini kiranya bisa menepis kecenderungan negatif dalam pelayanan di Gereja dan masyarakat sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab utama saling mengasihi dan melayani dalam keluarga sendiri.
Motivasi Pelayanan Seturut Sabda Allah
Dalam Alkitab dinyatakan bahwa cakupan diakonia tidak sebatas pemberian bantuan materi, tetapi juga mencakup pelayanan sabda (bdk. Kis 6:1,4). Dari kisah Marta yang sibuk melayani Yesus, kita diingatkan akan perlunya memprioritaskan Dia dan mendengarkan Sabda-Nya agar kita dapat mengenal apa yang sungguh Tuhan kehendaki. Keluarga kristiani perlu datang kepada Sang Sabda agar pelayanan mereka sungguh-sungguh seturut Sabda Allah sendiri. Bukankah sering terjadi, orang begitu sibuk melakukan banyak pelayanan ini dan itu, namun dengan motivasi yang kurang tepat. Yang satu mungkin ingin mencari pujian, yang lain sebagai ajang pencitraan sebagai orang baik ataupun memiliki “modus” atau motif politis. Menanggapi hal ini, dengan jelas Sabda Tuhan mengajarkan agar kita tidak memiliki pamrih atas kebaikan yang kita lakukan (lih. Mat 6:1-4). Yang lain barangkali melakukannya sebagai balas jasa atas “hutang kebaikan” yang telah diterimanya, atau dengan harapan kelak akan dibalas demikian. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajak kita berani melampaui mentalitas take and gave ini (bdk. Mat 5:46-47). Belajar dari pengalaman ibu mertua Simon Petrus, yang rela melayani Yesus dan murid-murid-Nya (Mrk 1:31) karena telah disembuhkan-Nya, kiranya pelayanan kasih keluarga kita pertama-tama perlu dimotivasi oleh rasa syukur atas kasih Tuhan sendiri bagi keluarga kita. Kesadaran bahwa keluarga kita telah lebih dulu dikasihi Tuhan, akan mendorong kita membalas kasih Tuhan (bdk. 1 Yoh 4:10) dengan meneruskannya kepada sesama yang membutuhkan. Sebab dalam diri mereka yang hina dan menderita, Tuhan sendiri berkenan hadir dan dilayani (Mat 25:40).
Pelayanan Murah Hati
Dalam melayani sesama kiranya kita bisa belajar dari pengalaman keluarga Abraham. Dengan murah hati Abraham sekeluarga menyambut dan menjamu ketiga tamunya. Bahkan sebagai tuan rumah, Abraham bersikap sebagai pelayan, yang berdiri siap melayani tamu-tamunya (Kej 18:8). Makna awal diakonia adalah pelayanan di meja makan, dimana pelayan siap-sedia memenuhi kebutuhan mereka yang sedang makan. Di sini dibutuhkan sikap peduli dan cekatan dalam melayani. Bukankah sering terjadi, orang berniat untuk melayani, namun berhenti sebatas ide dan niat baik, menunda-nunda pelaksanaannya dengan pelbagai dalih. Berkat bantuan rahmat Tuhan kita dimampukan mewujudkan kemauan dan niat-niat baik kita (bdk. Flp 2:13). Sementara yang lainnya lagi memang memberikan pelayanan, namun sayangnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan orang, dia sekedar melayani berdasarkan pikirannya sendiri. Pelayanan demikian belum menjawab kebutuhan orang yang dilayani. Sikap peduli akan kebutuhan konkret orang lain, akan membantu kita memberikan pelayanan yang tepat.
Kemurahhatian Abraham berbuah manis, Sang Tamu menegaskan bahwa tahun depan Abraham akan memiliki anak. Janji Tuhan yang selama ini dinanti-nantikannya, segera terpenuhi. Tuhan sendiri, sang Tamu yang mengetahui nama istri dan dambaan hati keluarganya (Kej 18:9-10), memberikan balasan atas kemurahhatian keluarga Abraham. Hal yang senada diajarkan oleh Tuhan Yesus, bila kita berbuat baik kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk membalasnya, kita patut berbahagia karena akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar (Luk 14:14). Rasul Paulus juga menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:9). Siapa menabur kebaikan, akan menuai kebaikan. Namun, kita tidak tahu kapan waktunya dan juga melalui siapa dan bagaimana persisnya Tuhan mengganjar kebaikan kita saat ini. Yang pasti lantaran “pembalasan-Nya” tidak segera nampak, banyak orang kemudian kendor dalam berbuat baik; maka Paulus nasihatkan “Janganlah jemu-jemu berbuat baik!”
Selain keluarga Abraham, masih ada banyak keluarga yang menunjukkan kemurahhatian kepada sesama. Pertama, kemurahhatian yang ditujukan kepada Yesus dan para murid-Nya. Beberapa wanita mengikuti Yesus dan melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka (Luk 8:3). Keluarga Maria dan Marta di Betania menjamu Yesus (Luk 10:28-45), demikian pula Zakheus (Luk 19:1-10). Di kota Filipi Paulus dan kawan-kawannya diajak menumpang di rumah keluarga Lidia (Kis 16:15). Selanjutnya di kota Korintus pasutri Priskila dan Aquila menyambut Paulus di rumahnya dan bekerjasama membuat tenda (Kis 18:3). Penulis 3 Yoh mengajak umat untuk menyambut dan dengan murah hati menjamu para pewarta Injil keliling “supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran” (1:8).
Kedua, kemurahhatian yang ditujukan kepada mereka yang membutuhkan, seperti dilakukan oleh Tabita-Dorkas yang membuatkan baju bagi para janda di Yope (Kis 9:39) maupun oleh Kornelius sekeluarga yang banyak bersedekah untuk orang Yahudi (Kis 10:2).
Kolekte sebagai Pelayanan Kasih
Seperti telah kita pada bagian sebelumnya bahwa kata diakonia juga digunakan untuk menyebut praktek pengumpulan derma atau kolekte untuk orang-orang miskin. Pemberian dana ini sebagai perwujudan semangat kasih untuk saudara seiman yang berkekurangan. Dalam hal ini kita patut mengingat perhatian Paulus pada orang-orang miskin sebagaimana dipesankan oleh para sokoguru Gereja (Gal 2:10). Bersama Barnabas, ia membawa sumbangan jemaat Antiokia bagi jemaat Yudea yang menderita karena bahaya kelaparan (lih. Kis 11:27-30). Pada masa selanjutnya, ketika mengadakan perjalanan misi, Paulus tetap memotivasi jemaat-jemaat yang didirikannya untuk menyisihkan kolekte setiap hari pertama dalam pekan (1 Kor 16:2) yang akan dihimpun dan dikirimkan untuk pelayanan kasih bagi jemaat Yerusalem yang miskin (Rom 15:25, 2 Kor 8:19). Paulus memuji semangat pelayanan kasih jemaaat-jemaat Makedonia yang sebenarnya sangat miskin namun kaya dalam kemurahan (2 Kor 8:2). “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus” (2 Kor 8:4). Menjadi sukacita bagi jemaat Makedonia bila boleh ambil bagian dalam pelayanan kasih ini.
Dari praktek pelayanan kasih berupa penghimpunan kolekte di atas, kiranya keluarga dan komunitas kristiani dewasa ini dapat menemukan beberapa inspirasi berharga. Pertama, dengan memberikan kolekte, mereka berpartisipasi dalam pelayanan bagi mereka yang membutuhkan. Mereka patut bersukacita karena dengan ambil bagian dalam pelayanan ini mereka mendapat kasih karunia. Mereka memberikan sumbangan berdasarkan apa yang ada pada mereka (2 Kor 8:11-12), dengan penuh kerelaan hati, bukannya dengan sedih hati, apalagi terpaksa (2 Kor 9:7). Ini bukanlah praktek persepuluhan yang ditujukan untuk kaum Lewi, melainkan pelayanan kasih bagi orang-orang Kristen yang miskin. Kendati demikian, jumlah pelayanan kasih ini selayaknya pantas atau berpadanan dengan berkat yang telah diterima oleh keluarga (bdk. Sir 35:9).
Kedua, kolekte yang terhimpun ini pertama-tama untuk membantu mereka yang berkekurangan. Maka prioritas penggunaan dana Gereja semestinya untuk karya karitatif dan pemberdayaan umat, bukannya sekedar untuk kesemarakan ritual ibadah ataupun kemegahan gedung ibadah, karena pertama-tama yang diminta oleh Tuhan adalah mewujudkan keadilan dan kebenaran (Am 5:21-24). Bukankah sering terjadi Pastor dan Dewan Pastoral Parokinya begitu bangga dengan aneka aset dan deposito yang mereka miliki dan dana abadi yang mereka himpun, namun lupa dengan intentio dantis umat yang memberikan sumbangan. Maka menjadi pertanyaan reflektif, dari aneka sumbangan dana umat itu sejauhmana telah disalurkan untuk aneka kegiatan karitatif dan pemberdayaan? Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Gereja Italia, dimana mereka menyediakan tempat-tempat yang memungkinkan orang-orang miskin bisa mengambil jatah makanannya secara gratis. Setiap hari!
Ketiga, pelayanan kasih ini ditujukan kepada jemaat-jemaat lain yang sangat membutuhkan. Di sini terbangun semangat solidaritas dan kesatuan sebagai satu tubuh. Menjadi pertanyaan bagi paroki-paroki kaya di Indonesia, apakah mereka juga mau solider dan berbagi dengan paroki-paroki terpencil lintas keuskupan yang kolektenya saja tidak mencukupi untuk operasional pastoral? Dana yang terhimpun memang dari keluarga-keluarga yang bersemangat pelayanan kasih, namun penyalurannya ditentukan oleh kebijakan Pastor Paroki dan Dewan Pastoral Parokinya.
Pelayanan: Suatu Pemberian Diri dan Penyaluran Karunia
Rasul Petrus menasihati, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia” (1 Ptr 4:11). Kita diundang untuk melakukan pelayanan dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan. Maka pelayanan kepada sesama yang membutuhan, tidak sekedar memberikan dana, tetapi sebagai suatu pemberian diri, sebagaimana dilakukan Kristus yang telah datang untuk melayani dan memberikan nyawa bagi banyak orang (Mrk 10:45). Memberikan diri bagi sesama yang membutuhkan berarti juga memberikan hati, waktu, pemikiran, dan tenaga kita. Kiranya hal ini bisa menjadi suatu persembahan hidup yang berkenan kepada Allah (Rom 12:1-2).
Memberikan pelayanan, bukanlah tugas yang mudah, tidak saja kita harus berani berkurban dan memberikan diri, tetapi juga terkadang kita menghadapi tantangan manakala pelayanan kita tidak ditanggapi dengan baik, disalahmengerti, bahkan dituduh yang tidak-tidak yang tentunya akan membuat kita merasa sakit hati. Dalam situasi demikian barangkali kita perlu mengimani Sabda Bahagia, “Berbahagialah kam, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11). St. Petrus juga menghibur umat Kristen yang menderita karena difitnah oleh masyarakat sekitarnya lantaran tidak lagi mengikuti ketidaksenonohan mereka (lih. 1 Ptr 2:12, 4:4). Tulis St. Petrus, “Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat” (1 Ptr 3:17).
Maka dalam pelayanan ini, semua anggota keluarga perlu menimba kekuatan dari Ekaristi, sebab dalam persatuan dengan Kristuslah kita akan menerima kekuatan untuk meneruskan pelayanan. Pelayanan kasih kita akan berbuah manakala bersatu dengan Sang Pokok Anggur, “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbat apa-apa” (Yoh 15:4).
Perwujudan Pelayanan Dewasa Ini
Bagaimana secara konkret keluarga kristiani dewasa ini bisa mewujudkan pelayanan dalam situasi dewasa ini? Dalam hal ini kita bisa merujuk aneka aktivitas pada Mat 25:42-44 yang dirangkum sebagai bentuk pelayanan bagi Tuhan sendiri. Dari teks ini kita bisa mencoba merinci lebih lanjut untuk relevansinya dewasa ini:
· Aku lapar – kamu memberi makan: menyediakan makan bagi orang miskin, gelandangan, dan yang berada di posko pengungsian, memberikan bantuan sembako, menciptakan lapangan kerja, memberdayakan potensi sesama agar bisa mandiri
· Aku haus – kamu memberi minum: minuman memberi kelegaan bagi yang dahaga dan minum obat memberi kesembuhan bagi yang sakit (lih. Sir 38:4-7). Barangkali secara figuratif teks ini termasuk menyapa mereka yang memberi telinga bagi yang tengah berbeban berat dan memberikan kata-kata peneguhan bagi yang sedang galau dan bermasalah.
· Aku orang asing – kamu memberi tumpangan: keramahtamahan dalam menerima tamu, termasuk orang asing. Bagaimana orang-orang asing seperti anak kost, perantau, dan orang-orang yang kerap disingkirkan oleh masyarakat kemudian merasa tersapa dan terlindungi? Apa yang bisa dilakukan oleh keluarga dan komunitas kristiani? Beberapa paroki memiliki proyek “Bedah Rumah” untuk meningkatkan kesejahteraan sesama yang membutuhkan.
· Aku telanjang – kamu memberi pakaian: Secara konkret hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pakaian kepada yang membutuhkan seperti pengalaman iman St. Martinus. Dengan memberikan pakaian yang layak, kita memperlakukan sesama sesuai martabatnya yang berharga. Maka hal sebaliknya, “menelanjangi” orang lain bukanlah bagian dari perbuatan kasih. Sebaliknya, dalam dan karena kasih orang berani menutupi segala sesuatu, termasuk masa lalu dan kekuragan orang lain (lih. 1 Kor 13:7).
· Aku sakit – kamu melawat: Kunjungan kepada yang sakit merupakan bentuk perhatian dan solidaritas bagi mereka yang sakit. Doa bersama si sakit merupakan kesempatan untuk bersama-sama memohon campur tangan Tuhan dalam proses penyembuhan. Niscaya melihat “iman kita bersama” (bdk. Mrk 2:5) Tuhan berkenan menganugerahkan kesembuhan. Si sakit terbebanii bukan saja karena penyakitnya tetapi juga oleh beban finansial yang harus ditanggung. Apa yang bisa dilakukkan oleh keluarga dan komunitas kristiani dalam situasi demikian?
· Aku dalam penjara – kamu melawat: Orang yang dipenjara adalah orang-orang yang terkurung, dijauhkan dari masyarakat, entah sebagai konsekuensi kesalahan yang mereka lakukan ataupun korban ketidakadilan. Mereka yang terkurung dalam penjara tidak bisa bergerak bebas. Secara nyata kunjungan ke penjara merupakan dukungan bagi mereka. Dalam kondisi demikian Tuhan tetap mencintai mereka. Secara figuratif, barangkali masih banyak orang yang terpenjara sehingga tidak bisa bergerak bebas, entah karena terlilit oleh masalahnya sendiri, keterbatasan pemikiran dan wawasan, dsb, maka aneka upaya penyadaran dan motivasi untuk bangkit kembali menjadi sumbangan yang sangat berarti.
Semoga keluarga dan komunitas kristiani semakin mampu melayani seturut Sabda Allah!
Greetings & prayer
Petrus Alexander
Pada Kamis, 3 September 2015 21:13, Alexander Yusup <artalex06@yahoo.com> menulis:
Dunia digital memang serba cepat. Dua hari beredar buku sudah dianggap kuno, sehingga harus diupdate.
Selama 2 hari ada banyak masukan, sehingga Laudato Si’ edisi bahasa Indonesia segera direvisi, sesuai hasil rundingan sang penerjemah dengan tim OBOR. Inilah keuntungannya buku/naskah digital dibandingkan buku cetak yang berbiaya besar untuk setiap revisi.
File baru hasil revisi ini dinamai “Ensiklik Laudato Si’ Edisi Indonesia (Versi 1509)”
Download Edisi revisi terjemahan klik tautan dibawah ini:
http://www.ekaristi.org/files/Ensiklik_LAUDATO_SI_Edisi_Indonesia_versi_1509.pdf
Selama 2 hari ada banyak masukan, sehingga Laudato Si’ edisi bahasa Indonesia segera direvisi, sesuai hasil rundingan sang penerjemah dengan tim OBOR. Inilah keuntungannya buku/naskah digital dibandingkan buku cetak yang berbiaya besar untuk setiap revisi.
File baru hasil revisi ini dinamai “Ensiklik Laudato Si’ Edisi Indonesia (Versi 1509)”
Download Edisi revisi terjemahan klik tautan dibawah ini:
http://www.ekaristi.org/files/Ensiklik_LAUDATO_SI_Edisi_Indonesia_versi_1509.pdf
Greetings & prayer
Petrus Alexander