Minggu, 25 Oktober 2026
Sabda Kehidupan
Minggu 25 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXX
Matius 22:37-39 (Mat 22:34-40)
”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Mencintai Seperti Yesus Telah Mencintai Kita
Hukum cintakasih bisa saja diajarkan oleh siapa saja jauh sebelum atau sesudah Yesus. Tapi totalitas cinta yang tanpa syarat sungguh nyata dalam diri Yesus.
Cinta Yesus tidak tergantung cuaca atau emosi sesaat. Bukan juga oleh pamrih untuk mendapatkan balasan cinta atau penghargaan.
Cinta Yesus bukanlah romantisme kata-kata namun kasih yang nyata oleh komitmen yang teguh. Yesus tetap mencintai sekalipun hatiNya terluka oleh pengkhianatan dan penolakan.
Pengampunan Yesus di atas kayu salib adalah bukti cintaNya yang tanpa syarat bagi kita.
Kepada murid-muridNya dan kepada kita semua Yesus meminta, “cintailah satu sama lain seperti Aku telah mencintaimu.” (Yoh 15:12).
”Ya Yesus, terimakasih atas cintaMu bagiku yang tak bertepi. Engkau tetap mencintaiku sekalipun aku tidak layak dicintai karena dosa-dosaku. Engkau mengampuniku sekalipun aku tak mampu mengampuni sesamaku. Engkau rela mati bagiku sekalipun aku tidak taat pada perintahMu dan tidak peduli pada sesamaku. Berilah aku kekuatan baru untuk membaharui tekadku, mencintaMu dan sesamaku seperti Engkau telah mencintai aku. Pakailah hatiku yang kecil dan terbatas ini untuk menjadi saluran cintaMu yang tak terbatas. Amin.”
Selamat Hari Minggu, Mari mencintai Tuhan dengan datang beribadah, dan mencintai sesama anak Tuhan dengan sepenuh hati.❤️
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Minggu, 25 Oktober 2026, Minggu Biasa XXX Tahun A
Bacaan: Kel. 22:21-27; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; 1Tes. 1:5c-10; Mat. 22:34-40.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22: 37 – 39).
Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Mama, apa itu Sepuluh Perintah Allah?”. “Nak, itu adalah perintah-perintah yang diberikan Allah kepada Musa. Sepuluh Perintah Allah menunjukkan bahwa Allah itu MAHA KUASA!” jawab sang ibu. “Oooo begitu…. Kalau begitu, Mama pasti lebih berkuasa daripada Tuhan!” kata anak itu sambil tertawa. “Kenapa kamu bilang begitu?” tanya ibunya dengan heran. “Karena… Mama punya begitu banyak perintah! Lebih banyak dari yang Allah berikan kepada Musa. Hehehe!”
Memang, ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka lebih berkuasa daripada Tuhan. Mereka itu adalah orang-orang Yahudi yang, setelah menerima Sepuluh Perintah Allah melalui Musa, melipatgandakannya dengan memerincinya hingga mencapai 613 perintah. Jadi, mungkin wajar saja jika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Manakah perintah yang paling penting?” Dengan begitu banyak perintah yang harus dipatuhi, mungkin mereka berpikir, mengapa tidak hanya mengikuti yang paling penting saja? Orang-orang telah lama mendiskusikan perintah mana yang paling penting dan bagaimana merangkum semuanya.
Jawaban Yesus sebenarnya tidaklah baru bagi mereka, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Orang-orang Yahudi secara alami adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Namun, apa yang ditambahkan oleh Yesus terasa baru bagi cara berpikir mereka, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Hal itu terasa baru karena Yesus menempatkannya setara nilainya dengan mengasihi Allah.
Kesalahan mereka—dan mungkin juga kesalahan kita—adalah bahwa kita memisahkan kedua perintah ini. Banyak di antara kita, orang Kristen, yang menganggap diri kita benar karena selalu pergi ke gereja dan berdoa. Namun, jika kita melihat perbuatan mereka, mereka kurang memiliki kasih terhadap sesama. Ada orang yang meremehkan, memandang rendah, dan memfitnah orang lain, namun mereka tetap memegang rosario dan berdoa.
Marilah kita ingat bahwa kesalehan sejati seharusnya membentuk kita menjadi orang-orang yang benar-benar berbelas kasih! Apa gunanya iman kepada Tuhan yang tak terlihat jika kita tidak menghargai sesama manusia yang ada di samping kita? Apa gunanya doa yang panjang jika kita menutup mata terhadap kebutuhan orang lain? Hanya ada satu perintah, yaitu hukum kasih! Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, hal itu harus tercermin dalam kasih kita kepada sesama. Orang-orang yang menganggap diri mereka “lebih berkuasa daripada Tuhan” adalah mereka yang ibadahnya hanya sebatas kata-kata, tanpa perbuatan! Mereka telah dibutakan oleh kesalehan mereka sendiri dan tidak lagi dapat melihat Yesus dalam wajah sesama yang sedang membutuhkan. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri; mungkin kita adalah salah satu dari orang-orang yang ‘lebih berkuasa daripada Tuhan’ itu?
Tuhan, semoga aku semakin bertumbuh dalam mengasihi Engkau dan sesama dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap pikiranku. Amin.
Selamat hari Minggu. Have a blessed Sunday! ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
