{"id":99132,"date":"2026-06-28T09:35:37","date_gmt":"2026-06-28T02:35:37","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=99132"},"modified":"2026-06-28T09:35:37","modified_gmt":"2026-06-28T02:35:37","slug":"minggu-28-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=99132","title":{"rendered":"Minggu, 28 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 28 Juni 2026<br \/>\n*Matius 10:37-38* (Mat 10:37-42)<br \/>\n\u201dBarangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Mencintai Seperti Yesus Mencintai Kita<\/p>\n<p>Sepintas kedengarannya Sabda Yesus hari ini seakan bertentangan dengan hukum kasih, karena Yesus meminta kita mengasihiNya lebih dari kita mengasihi Bapa-Ibu kita atau anak-anak kita.<br \/>\nBahkan dalam Injil Lukas 14:26, Yesus menuntut lebih ekstrim lagi. KataNya, &#8220;Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Bukan maksud Yesus bahwa kita saling membenci satu sama lain karena mencintai Yesus lebih dari orang lain, akan tetapi sebaliknya, bila kita mencintai Papa dan Mama, Kakak dan Adik, Anak-anak kita, karena kita mencintai Yesus, atau seperti kita mencintai Yesus, maka cinta kita tidak akan terbatas, tanpa syarat dan total.<\/p>\n<p>Jangan mencintai seseorang karena ia telah berbuat baik bagiku, atau ia telah berjasa bagiku, karena telah melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita. Bagaimana kalau kita merasa bahwa orangtua tidak bertanggungjawab, saya diperlakukan secara tidak adil, pilih kasih, atau saya mendapatkan perlakuan yang kasar, apakah saya tidak akan mencintai mereka lagi?<\/p>\n<p>Yesus berkata, \u201cInilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.\u201d (Yoh 15:12). Ukuran cinta kita bukan lagi sebatas membalas jasa, atau terbatas pada orang-orang yang dekat dengan kita.<br \/>\nKita mencintai sebagaimana Yesus telah mencintai kita, sekalipun kita telah jatuh dalam dosa dan berkhianat padaNya. Sekalipun terluka Yesus tak pernah berhenti mencintai kita. Demikian juga halnya kita mencintai orangtua, pasangan, anak-anak, siapa saja sesama kita.<br \/>\nBahagianya kita dapat mencintai seperti Yesus telah mencintai kita, dan mencintai sesama seperti kita mencintai Yesus.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Mari bersyukur atas cinta Tuhan beribadah kepadaNya.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr (Flight to Dallas &#8211; USA)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 28 Jun 2026<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Ptr 2:9<br \/>\nBacaan Injil: Mat 10:37-42<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Ptr 2:9<br \/>\nKamulah bangsa yang terpilih,<br \/>\nkaum imam yang rajawi dan bangsa yang kudus.<br \/>\nKamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah,<br \/>\nyang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan,<br \/>\nmasuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 10:37-42<br \/>\nBarangsiapa tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi-Ku.<br \/>\nBarangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku,<br \/>\nia tidak layak bagi-Ku.<br \/>\nDan barangsiapa mengasihi puteranya atau puterinya lebih daripada-Ku,<br \/>\nia tidak layak bagi-Ku.<br \/>\nBarangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,<br \/>\nia tidak layak bagi-Ku.<br \/>\nBarangsiapa mempertahankan nyawanya,<br \/>\nia akan kehilangan nyawanya,<br \/>\ndan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku,<br \/>\nia akan memperolehnya kembali.<br \/>\nBarangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,<br \/>\ndan barangsiapa menyambut Aku,<br \/>\nia menyambut Dia yang mengutus Aku.<br \/>\nBarangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi,<br \/>\nia akan menerima upah nabi,<br \/>\ndan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,<br \/>\nia akan menerima upah orang benar.<br \/>\nDan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja<br \/>\nkepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku,<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSungguh, ia tidak akan kehilangan upahnya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**\u2020***********<\/p>\n<p>Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, Mat 10: 37 \u2013 39 berbicara tentang syarat-syarat mengikuti Yesus. Syarat-syarat itu adalah: 1) menjadikan Yesus nomor satu, 2) memikul salib, dan 3) berani mengorbankan nyawa karena Yesus. Bagian kedua, Mat 10: 40 \u2013 42, berbicara tentang hospitalitas, keramahtamahan. Poin tentang keramahtamahan ini dapat dihubungkan dengan bacaan pertama yang menceriterakan hospitalitas sebuah keluarga di Sunem terhadap Nabi Elisa.<\/p>\n<p>Maka saya ajak anda hari ini merenungkan poin tentang keramahtamahan ini. Hospitalitas, keramahtamahan, sesuatu yang tidak asing dengan kehidupan kita. Sudah biasa kalau kita saling bertamu, apalagi sudah akrab, bertanya: So makan? Itu sudah biasa bagi kita orang Timur. Waktu saya di Philippines sudah biasa selain orang bertanya, \u201cKomusta\u201d (Apa kabar?) orang juga bertanya, \u201cKumain ka na?\u201d (Sudah makan?). Yang berbahasa mandarin, selain ketika saling berjumpa selain bertanya, \u201cN\u01d0 h\u01ceo ma?\u201d juga bertanya, \u201cN\u01d0 ch\u012b le ma?\u201d (Apakah kamu sudah makan?)\u201d.<\/p>\n<p>Keramahtamahan bukanlah hal yang gampang. Keramahtamahan menuntut seseorang memberikan waktu dan sumber daya yang lain. Dalam bukunya, Reaching Out, Henri Nouwen mengatakan bahwa hospitalitas adalah: \u201cmenciptakan ruang ramah di mana orang asing dapat datang dan pergi dalam kebebasan dan juga memberi ruang kosong yang nyaman bagi mereka.\u201d Marcel Lefebvre dalam Une Parole Liberatrice berkata bahwa hospitalitas adalah: \u201cKemampuan untuk melepaskan kenyamanan dan kesejahteraan (untuk diberikan kepada orang lain tentunya) dan menempatkan diri (saya) di tempat orang lain.\u201d<\/p>\n<p>Tetapi apa tandanya kita mengikuti ajaran Yesus tentang keramahtamahan? Ada tiga tanda kita menghidupi keramahtamahan: Pertama, saat kita rela berbagi waktu, bakat dan kemampuan, serta harta benda. Kedua, saat kita rela bersimpati atau membantu orang lain tanpa diminta; rela berbagi kebersamaan dengan orang lain karena alasan-alasan tertentu, saat kita menghormati pendapat orang lain apalagi dalam hal-hal penting, dan rela membantu tanpa mengharapkan imbalan. Ketiga, setia dengan ajaran Kristus sendiri: \u201cAku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,\u201d (Mat 25: 40).<\/p>\n<p>Sebagai penutup saya kutip kata-kata mendiang Paus Fransiskus: \u201cLoves always gives life, fosters growth.\u201d Kasih selalu memberi hidup dan menumbuhkan. Dan St. Paulus berkata: \u201cJanganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,\u201d (Gal 6: 9 \u2013 10).<\/p>\n<p>Tuhan, Engkau menempatkan orang-orang di sepanjang perjalanan hidup kami. Engkau telah menyambut kami dalam Kristus, bantulah kami agar senantiasa memandang sesama sebagai pribadi-pribadi yang Engkau kasihi dan perhatikan serta menyambut mereka sebagaimana kami menyambut-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Selamat menjadi tanda dan sarana kemurahan Allah. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"qIi0eb0d4a\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/keramah-tamahan-menyambut-yesus-menyambut-bapa\/\">Keramah-tamahan: Menyambut Yesus, Menyambut Bapa<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cKeramah-tamahan: Menyambut Yesus, Menyambut Bapa\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/keramah-tamahan-menyambut-yesus-menyambut-bapa\/embed\/#?secret=eFfJZ7oTEo#?secret=qIi0eb0d4a\" data-secret=\"qIi0eb0d4a\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 28 Juni 2026 *Matius 10:37-38* (Mat 10:37-42) \u201dBarangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-99132","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/99132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=99132"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/99132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":99133,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/99132\/revisions\/99133"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=99132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=99132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=99132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}