{"id":98784,"date":"2026-06-21T06:20:49","date_gmt":"2026-06-20T23:20:49","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98784"},"modified":"2026-06-21T06:20:49","modified_gmt":"2026-06-20T23:20:49","slug":"minggu-21-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98784","title":{"rendered":"Minggu, 21 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 21 Juni 2026<br \/>\nHari Minggu Biasa XII<br \/>\nMatius 10:29-31 (Mat 10:26-33)<br \/>\n\u201dBukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.\u201d<\/p>\n<p>Betapa Berharga Kita Di Mata Allah Bapa<\/p>\n<p>Betapa indah dan meneguhkan Sabda Yesus bagi kita di hari Minggu ini.<br \/>\nDi tengah dunia yang membuat kita merasa begitu kecil dan tak berarti, Yesus mengingatkan kita betapa berharganya kita di mata Allah, betapa Allah begitu peduli dengan keberadaan kita.<br \/>\nSiapakah di antara kita yang pernah menghitung jumlah rambut di kepalanya?<br \/>\nKita bahkan tak pernah memikirkan untuk menghitungnya. Bila Allah begitu peduli dengan sehelai rambut di kepala kita, bukankah Allah lebih peduli lagi dengan keselamatan jiwa raga kita?<br \/>\nBila Allah begitu peduli dengan burung pipit yang hidupnya begitu singkat, apalagi kita manusia mahkota ciptaan Allah. Jangan ada orang yang merasa dirinya tak berharga, tak berarti, tak punya apa-apa bahkan tak punya siapa-siapa.<\/p>\n<p>Yesus telah turun dari surga, Ia rela menjadi miskin dan hina sekalipun Ia Tuhan yang agung dan mulia, agar kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2 Kor 8:9).<br \/>\nIa adalah Tuhan dan Raja tapi Ia ingin menjadi sahabat dan saudara kita.<br \/>\nSabda Yesus hari ini, \u201cjanganlah kamu takut\u201d menjadi jaminan kedamaian dan ketenteraman hati. Yesus ada untuk kita, menemani dan menguatkan kita, memberi kita keberanian oleh Roh KudusNya untuk tegak berdiri, apapun kata dunia oleh karena segala kelemahan dan kerapuhan kita.<\/p>\n<p>Pandanglah dengan penuh syukur dan sukacita semua kekayaan rahmat Allah yang Ia berikan, dan jangan lagi melihat diri tak bisa apa-apa dan merasa rendah diri. Bapa surgawi yang menciptakan kita sesuai citraNya, Dia-lah sumber martabat kita yang mulia. Bukan segala capaian, jasa dan prestasi kita. Jangan pernah meragukan kasih sayang Allah bagi kita.<br \/>\nMari berrsama Pemazmur kita dalam Mzm 103:1-2, kita mengangkat hati dan berseru: \u201cPujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!\u201d<br \/>\n\u201dTerima kasih ya Yesus, selalu mengingatkan kami akan kasih Bapa Surgawi yang tak terhingga bagi kami.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Mari bersyukur dan datang ke BaitNya menyembah Allah Bapa kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 21 Jun 2026<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 15:26b.27a<br \/>\nBacaan Injil: Mat 10:26-33<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 15:26b.27a<br \/>\nRoh Kebenaran, yang keluar dari Bapa, akan bersaksi tentang Aku;<br \/>\ntetapi kamu juga harus bersaksi.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 10:26-33<br \/>\nJanganlah kamu takut kepada mereka<br \/>\nyang hanya dapat membunuh tubuh.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Janganlah kamu takut terhadap mereka yang memusuhimu,<br \/>\nkarena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka,<br \/>\ndan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.<br \/>\nApa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap,<br \/>\nkatakanlah dalam terang;<br \/>\ndan apa yang dibisikkan ke telingamu,<br \/>\nberitakanlah dari atas atap rumah.<\/p>\n<p>Dan janganlah kamu takut kepada mereka<br \/>\nyang hanya dapat membunuh tubuh,<br \/>\ntetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa;<br \/>\ntetapi takutlah Dia<br \/>\nyang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.<\/p>\n<p>Bukankah burung pipit dijual seduit dua ekor?<br \/>\nNamun tak seekor pun dari padanya<br \/>\nakan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.<br \/>\nDan kamu, rambut kepalamu pun semuanya telah terhitung.<br \/>\nSebab itu janganlah kamu takut,<br \/>\nkarena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.<br \/>\nSetiap orang yang mengakui Aku di depan manusia,<br \/>\nakan Kuakui di depan Bapa-Ku yang di surga.<br \/>\nTetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia,<br \/>\ndia akan Kusangkal juga di depan Bapa-Ku yang di surga.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>Dalam Injil pada hari Minggu ini, Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk tidak takut bersaksi tentang iman mereka. &#8220;Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.&#8221; (Matius 10:32). Namun hal itu sering gampang dikatakan tetapi sulit untuk dipraktekkan.<\/p>\n<p>Dalam bacaan pertama, kita mendengar tentang nabi Yeremia (6 sM) yang menentang raja Babel yang tidak bertuhan dan karenanya menderita banyak penganiayaan. Bertahun-tahun kemudian, para rasul Kristus mengalami cemoohan, hinaan dan penganiayaan karena iman mereka.<\/p>\n<p>Bagaimanakah situasi pewartaan Injil di masa kini? Saat ini, para pengikut Kristus mungkin tidak hidup di lingkungan yang sama dengan para pendahulu kita, namun mereka dapat mengalami nasib yang sama karena berpegang teguh pada iman dan keyakinan moral mereka. Warta Injil masih sering dibungkam. Penganiayaan tetap ada, walau tidak melalui penumpahan darah. Hal itu dapat terwujud secara terbuka melalui hinaan, ejekan di depan umum, marginalisasi yang halus dan terselubung, diskriminasi, serta pengucilan. Karya pewartaan Injil sering kali dihadapkan pada rasa curiga, tuduhan, atau bahkan penolakan dari lingkungan terdekat atau masyarakat luas. Setiap saat kita menghadapi tekanan untuk meninggalkan keyakinan moral Kristen kita. Selain kita mengalami tentangan secara fisik, tak jarang juga mengalami godaan materi. Dalam Hal ini, kita dipanggil untuk tetap tegar dalam menghadapi tantangan ini dengan berpegang pada kasih.<\/p>\n<p>Tantangan-tantangan lain bagi pewartaan Injil pun kini sudah mengintip. Masyarakat modern cenderung lebih mengandalkan pemikiran rasional, sains, dan prinsip-prinsip sekuler. Hal ini sering kali menggeser nilai-nilai spiritual ke pinggiran, di mana kehidupan duniawi dianggap lebih prioritas daripada dimensi kekekalan. Sekularisme yang merembes ke dalam kehidupan gereja dapat memicu keraguan terhadap otoritas Alkitab dan doktrin, sehingga muncul upaya untuk menafsirkan ajaran agama secara terlalu longgar agar sesuai dengan standar nilai-nilai sekuler masa kini.<\/p>\n<p>Perkembangan teknologi digital masa kini pun menjadi tantangan tersendiri yang dapat \u201cmembunuh\u201d pewartaan Injil. Adanya distraksi digital, banjir informasi yang tidak terverifikasi (hoaks), serta polarisasi konten di media sosial menuntut kesiapan etis dan kedewasaan rohani yang tinggi agar pesan Injil tidak terdistorsi atau disalahpahami.<\/p>\n<p>Selain itu, kita juga menyadari bahwa pengalaman intoleransi beragama di negeri kita ini Masih tinggi. Belum lagi pelbagai beban dan pergulatan hidup menimbulkan skeptisme terhadap warta Injil.<\/p>\n<p>Namun, menghadapi semuanya itu warta Tuhan bagi kita tetap sama: JANGANLAH KAMU TAKUT! \u201cOrang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat!\u201d (Mat 24: 13).<\/p>\n<p>Ya Tuhan, Allah kami, dengan Engkau di sisi kami, tak ada alasan untuk takut. Bangunkanlah kami, bimbinglah langkah kami, dan berikanlah kami kekuatan untuk terus berjalan hingga sampai kepada-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Berani wartakan Injil! \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"eqcKjSOdRG\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-takut\/\">Jangan Takut!<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cJangan Takut!\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-takut\/embed\/#?secret=sGzVkJPxnD#?secret=eqcKjSOdRG\" data-secret=\"eqcKjSOdRG\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 21 Juni 2026 Hari Minggu Biasa XII Matius 10:29-31 (Mat 10:26-33) \u201dBukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-98784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=98784"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98785,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98784\/revisions\/98785"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=98784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=98784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=98784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}