{"id":98734,"date":"2026-06-20T08:34:51","date_gmt":"2026-06-20T01:34:51","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98734"},"modified":"2026-06-20T08:34:51","modified_gmt":"2026-06-20T01:34:51","slug":"sabtu-20-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98734","title":{"rendered":"Sabtu, 20 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 20 Juni 2026<br \/>\nMatius 6:25,33 (Mat 6:24-34)<br \/>\n\u201dAku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.\u201d_<\/p>\n<p>Jangan Kuatir, Yesus Jaminannya!<\/p>\n<p>Yesus telah menjadi manusia dan Ia sungguh mengerti bahwa hidup kita manusia dipenuhi dengan berbagai macam kekuatiran. Ada saja hal yang dapat menimbulkan kekuatiran. Dimulai dengan apa yang mendasar yakni makan dan minum serta pakaian.<br \/>\nSelanjutnya kita kuatir akan sakit penyakit yang membawa derita apalagi tidak punya cukup uang untuk berobat.<br \/>\nBelum lagi kalau kita memikirkan orang lain, anggota keluarga kita, anak-anak dan masa depan mereka, orangtua kita dan kesehatan mereka, dan kekhawatiran akan pelbagai masalah di sekitar, perang dan perselisihan.<br \/>\nKekuatiran ini bahkan menjadi ketakutan bila kematian datang menjemput kita dan orang-orang yang kita cintai.<\/p>\n<p>Yesus datang memberi kita jaminan untuk hidup yang damai dan tenang, terlepas dari pelbagai kekuatiran hidup.<br \/>\nSabda Yesus, \u201cCarilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,\u201d sesungguhnya sama dengan ajakan Yesus, \u201cMarilah kepadaKu kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.\u201d (Mat 11:28).<br \/>\nTawaran Yesus, \u201ctinggallah dalam Aku dan Aku tinggal dalam kamu,\u201d adalah jawaban atas semua kekuatiran kita. Bila kita tinggal dalam Yesus dan bersatu denganNya sebagai Pokok Anggur hidup kita dan kita menjadi ranting-ranting Yesus, apa lagi yang perlu kita kuatirkan?<\/p>\n<p>Maka sebenarnya yang perlu kita kuatirkan adalah bila kita jauh dari Yesus dan tidak lagi tinggal bersamaNya. Bila kita hanya mengandalkan kemampuan diri kita dan tidak mau bersandar padaNya. Betapa rapuh pondasi hidup kita, tanpa iman, harapan dan kasih akan Yesus.<\/p>\n<p>Mari datanglah pada Yesus, kembali kepadaNya, letakkan semua kekuatiran kita dalam tanganNya, hiduplah bersamaNya. Damai sejahtera Yesus, kelimpahan hidup dalam Dia, itulah sukacita kita. Jaminan hidup dalam Yesus mengangkat semua kekuatiran kita. Bahkan kematianpun tak lagi menakutkan kita, karena Yesus telah mati bagi kita dan menjadikan kita pemenang hidup oleh iman kita padaNya.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan, damai selalu di hati karena Yesus selalu menyertai kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 20 Jun 2026<br \/>\nSabtu Pekan Biasa XI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Kor 8:9<br \/>\nBacaan Injil: Mat 6:24-34<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Kor 8:9<br \/>\nYesus Kristus telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya,<br \/>\nagar berkat kemiskinan-Nya, kalian menjadi kaya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 6:24-34<br \/>\nJanganlah kuatir akan hari esok.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,<br \/>\n&#8220;Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.<br \/>\nKarena jika demikian,<br \/>\nia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain,<br \/>\natau ia akan setia kepada yang seorang<br \/>\ndan tidak mengindahkan yang lain.<br \/>\nKalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.<\/p>\n<p>Karena itu Aku berkata kepadamu:<br \/>\nJanganlah kuatir akan hidupmu,<br \/>\napa yang hendak kalian makan atau minum,<br \/>\ndan janganlah kuatir pula akan tubuhmu,<br \/>\napa yang hendak kalian pakai.<br \/>\nBukankah hidup itu lebih penting daripada makanan,<br \/>\ndan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?<br \/>\nPandanglah burung-burung di langit,<br \/>\nyang tidak menabur dan tidak menuai,<br \/>\ndan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung,<br \/>\ntoh diberi makan oleh Bapamu yang di surga.<br \/>\nBukankah kalian jauh melebihi burung-burung itu?<\/p>\n<p>Siapakah di antara kalian<br \/>\nyang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja<br \/>\npada jalan hidupnya?<br \/>\nDan mengapa kamu kuatir akan pakaian?<br \/>\nPerhatikanlah bunga bakung di ladang,<br \/>\nyang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal.<br \/>\nNamun Aku berkata kepadamu,<br \/>\nSalomo dalam segala kemegahannya pun<br \/>\ntidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.<br \/>\nJadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang,<br \/>\nyang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api,<br \/>\ntidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kalian,<br \/>\nhai orang yang kurang percaya?<\/p>\n<p>Maka janganlah kamu kuatir dan berkata,<br \/>\n&#8216;Apakah yang akan kami makan?<br \/>\nApakah yang akan kami minum?<br \/>\nApakah yang akan kami pakai?&#8217;<br \/>\nSemua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.<br \/>\nAkan tetapi Bapamu yang di surga tahu,<br \/>\nbahwa kalian memerlukan semuanya itu.<br \/>\nMaka carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,<br \/>\nmaka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.<\/p>\n<p>Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok,<br \/>\nkarena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.<br \/>\nKesusahan sehari cukuplah untuk sehari.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**********<\/p>\n<p>Dalam segala hal, untuk mencapai yang terbaik, perhatian kita tidak boleh terbagi. Kita tidak boleh mendua-hati.<\/p>\n<p>Hari ini Yesus bersabda: \u201cTak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan.\u201d Dua tuan itu adalah Allah dan Mamon. Mamon, secara alkitabiah sering dimengerti sebagai kekayaan, sering digunakan untuk menggambarkan pengaruh kekayaan materi yang merendahkan martabat dan sering dikaitkan dengan keserakahan dalam mengejar keuntungan. Jika seseorang ingin mengarahkan hidupnya pada Allah dan bagi sesama demi kemuliaan Allah, maka ia harus melepaskan kelekatannya pada Mamon. Setiap orang harus memilih. Dan kita hendaknya memilih Allah dan bukan Mamon. Kita mengabdi Allah dan bukan Mamon.<\/p>\n<p>Pengalaman manusiawi kita menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dalam urusan Mamon. Mamon begitu kuat sehingga dapat menghancurkan kita. Jinakkan Mamon menjadi hamba kita dan bukan membiarkan dia menjadi tuan atas kita. Masalah muncul ketika Mamon menjadi tuan atas diri kita. Sebagai hamba, ia dapat berguna, dapat menghasilkan hal-hal yang baik bagi kita dan bagi dunia. Tetapi sebagai tuan, ia akan merusak.<\/p>\n<p>Pelajaran lain yang dapat kita dapatkan adalah bahwa Mamon tak pernah membuat kita puas. Semakin kita mendapatkannya, semakin kita ingin mengejarnya. Dan kita suka menyembunyikannya dari orang lain karena khawatir akan direbut. Itu akan membuat kita mabuk. Membuat kita semakin haus, dahaga yang tak kan pernah terpuaskan. Hanya Allahlah yang dapat memenuhi dan memuaskan kita, sebab barangsiapa mempunyai Allah, ia memiliki segalanya. Semakin kita dekat dengan Allah, semakin kita dekat dengan sesama. Semakin banyak kita minum dari sumber air hidup dari Allah, semakin kita bahagia, semakin kita memperkaya sesama.<\/p>\n<p>Mari kita renungkan, bagaimana kita menggunakan sumber daya (Mamon) yang kita miliki? Apakah saya menggunakannya untuk kenyamanan saya sendiri? Atau saya menggunakannya untuk kebaikan semakin banyak orang? Apakah saya menggunakan Mamon demi kemuliaan Allah atau ketenaran diri sendiri? Apakah saya menggunakan segala hal seolah-olah hal itu adalah milik kita, atau dalam kesadaran bahwa semuanya adalah milik Allah? Bagaimana saya berusaha memperoleh Mamon (kuasa dan harta milik) dalam hidup saya? Apakah saya memperolehnya atas cara yang adil dan benar, atau menghalalkan segala cara?<\/p>\n<p>Bapa, kami mempersembahkan hidup dan usaha kami, keprihatinan dan kepedulian kami. Terimalah semuanya ini sebagai tanda rasa syukur kami serta kepercayaan kami yang mendalam dan abadi kepada-Mu, Tuhan kami yang penuh kasih. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir Pekan. Abdilah Allah dengan sepenuh hati. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Qkv5cfScWn\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-mendua-hati\/\">Jangan Mendua Hati<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cJangan Mendua Hati\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/jangan-mendua-hati\/embed\/#?secret=hpNDb7JPPk#?secret=Qkv5cfScWn\" data-secret=\"Qkv5cfScWn\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 20 Juni 2026 Matius 6:25,33 (Mat 6:24-34) \u201dAku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-98734","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98734","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=98734"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98734\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98735,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98734\/revisions\/98735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=98734"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=98734"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=98734"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}