{"id":98583,"date":"2026-06-16T21:19:59","date_gmt":"2026-06-16T14:19:59","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98583"},"modified":"2026-06-16T21:19:59","modified_gmt":"2026-06-16T14:19:59","slug":"selasa-16-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98583","title":{"rendered":"Selasa, 16 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 16 Juni 2026<br \/>\nMatius 5:48 (Mat 5:43-48)<br \/>\n\u201dKarena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221;<\/p>\n<p>Berjuang Meraih Kesempurnaan<\/p>\n<p>Kita selalu mendengar ungkapan ini: \u201cno body perfect\u201d atau tidak ada orang yang sempurna. Oleh karena itu orang merasa tak perlu mengejar kesempurnaan. Biasa-biasa jo, kata orang Manado. Tidak perlu menggapai lebih dari rata-rata.<br \/>\nOleh semangat pas-pasan ini, kita jadi cepat sekali memaafkan diri atas kelalaian-kelalaian, capaian yang minimal, kerja pas-pasan dan mencintai seadanya. Toh tidak ada yang sempurna.<\/p>\n<p>Dengan berkata, \u201charuslah kamu sempurna\u201d bukan berarti Yesus meminta kita menjadi seorang perfeksionis yang tidak bisa menerima kekurangan dan kegagalan. Yesus menghendaki kita sempurna dalam hal cintakasih dan kemurahan hati, sama seperti Bapa di surga. Yesus ingin agar cinta dan kemurahan hati Allah Bapa terpancar dari peri hidup kita.<br \/>\nUntuk itu kita perlu mengoptimalkan semua talenta dan potensi diri yang telah Tuhan berikan agar kita dapat memberi yang terbaik.<\/p>\n<p>Yesus mencintai kita dengan sempurna. Ia telah mengosongkan diri agar hidup kita penuh melimpah. Ia menjadi miskin agar kita menjadi kaya oleh kasih karunia Allah. Yesus menghendaki kita menjadi seperti Dia dalam mencintai. Kebahagia dan sukacita kita yang sesungguhnya ialah ketika kita semakin mencerminkan cinta Yesus.<br \/>\nBila kita merasa berkekurangan dan belum sempurna, janganlah berhenti belajar, berikhtiar dan berupaya mengembangkan diri. Teruslah berusaha memberi yang terbaik. Percayalah kita bisa terus berbagi seberapapun usia kita dan mampu memberi yang terbaik dari keterbatasan kita.<br \/>\nKita misalnya dapat menjadi pendoa bagi sesama, dan saksi kebaikan Tuhan melalui semangat hidup dan kasih yang tak pernah pudar. Dengan demikian kita terus menjadi saluran berkat Tuhan yang sempurna di balik ketidaksempurnaan kita.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Tetaplah semangat, tak jemu berusaha. Yesus selalu hadir menolong kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 16 Jun 2026<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:43-48<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 13:34<br \/>\nPerintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan.<br \/>\nKasihilah sesama sebagaimana Aku mengasihi kamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:43-48<br \/>\nKasihilah musuh-musuhmu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Kalian telah mendengar bahwa disabdakan,<br \/>\n&#8216;Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.&#8217;<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu, &#8216;Kasihilah musuh-musuhmu,<br \/>\ndan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.&#8217;<br \/>\nKarena dengan demikian<br \/>\nkalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.<br \/>\nSebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat,<br \/>\ndan juga bagi orang yang baik.<br \/>\nHujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar<br \/>\ndan juga bagi orang yang tidak benar.<\/p>\n<p>Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian,<br \/>\napakah upahmu?<br \/>\nBukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?<br \/>\nDan apabila kalian hanya memberi salam kepada saudaramu saja,<br \/>\napakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?<br \/>\nBukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?<br \/>\nKarena itu kalian harus sempurna<br \/>\nsebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>Hari ini, Yesus menyampaikan kepada kita kata-kata yang sama sulitnya dengan kebebasan yang ditawarkannya: \u201cKasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.\u201d Ia tidak mengusulkan sistem hukum yang baru, melainkan cara hidup yang baru, yang berakar pada hati Allah sendiri \u2014 sebuah cinta yang tak mengenal batas.<\/p>\n<p>Ini bukan berarti menyetujui kejahatan yang dilakukan musuh kita. Tidak! Yesus meminta kita untuk memandang mereka dengan cara pandang yang berbeda \u2014 cara pandang Bapa, \u201cyang menerbitkan matahari bagi orang jahat maupun orang baik\u201d (ay. 45). Bahkan musuh kita pun adalah anak Allah, diciptakan menurut gambar-Nya, meskipun gambar itu telah terluka atau ternoda oleh dosa.<\/p>\n<p>Mari kita jujur \u2014 ini tidak mudah. Sulit untuk memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita. Sulit untuk berdoa bagi seseorang yang memfitnah kita, menghina kita, atau menginginkan kita celaka. Namun inilah misteri hidup Kristiani: bahwa di hadapan kebencian, kita menanggapi dengan berkat. Di hadapan pengkhianatan, kita menanggapi dengan pengampunan. Di hadapan kejahatan, kita memilih kasih.<\/p>\n<p>Bayangkan orang-orang Kristen yang berdoa untuk para penindas mereka di kamp konsentrasi, atau di penjara-penjara. Bayangkanlah Yesus di Salib, yang berkata, \u201cBapa, ampunilah mereka.\u201d Itulah jalan kita juga \u2014 dan semuanya dimulai dengan langkah kecil: berdoa dengan tulus untuk satu orang \u2014 yang membenci saya \u2014 dari lubuk hati.<\/p>\n<p>Inilah kekudusan yang menjadikan kita \u201csempurna seperti Bapa\u201d (ay. 48). Bukan sempurna dalam kekuatan, tetapi sempurna dalam belas kasih. Hari ini, pikirkanlah seseorang yang telah menyakiti Anda. Berdoalah untuk mereka. Berkatilah mereka. Dan mintalah kepada Tuhan anugerah untuk mengasihi \u2014 bahkan ketika hal itu tampak mustahil.<\/p>\n<p>Inilah Injil. Inilah Salib. Inilah kebebasan.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga aku dapat mengasihi seperti Engkau mengasihiku. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"RkpifXWKyc\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kasih-yang-tersulit\/\">Kasih yang Tersulit<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cKasih yang Tersulit\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/kasih-yang-tersulit\/embed\/#?secret=jpfoweBIyA#?secret=RkpifXWKyc\" data-secret=\"RkpifXWKyc\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 16 Juni 2026 Matius 5:48 (Mat 5:43-48) \u201dKarena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221; Berjuang Meraih Kesempurnaan Kita selalu mendengar ungkapan ini: \u201cno body perfect\u201d&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-98583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=98583"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98585,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98583\/revisions\/98585"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=98583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=98583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=98583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}