{"id":98534,"date":"2026-06-15T05:45:34","date_gmt":"2026-06-14T22:45:34","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98534"},"modified":"2026-06-15T05:45:34","modified_gmt":"2026-06-14T22:45:34","slug":"senin-15-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98534","title":{"rendered":"Senin, 15 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 15 Juni 2026<br \/>\nMatius 5:38-39 (Mat 5:38-42)<br \/>\n\u201dKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.\u201d<\/p>\n<p>Latihan Menjadi Pemenang Sejati<\/p>\n<p>Apa yang diajarkan Yesus bagi para pengikutNya sungguh kontroversial dan tidak sejalan dengan aturan dunia. Bahkan sangat ekstrim dan radikal. Tak ada yang berani mengajarkan \u201cbila ditampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.\u201d<br \/>\nTentu bukanlah maksud Yesus untuk membuat kita menderita karena menjadi pecundang atau berada di pihak yang kalah. Justru sebaliknya, Yesus melatih kita menjadi pemenang sejati! Bukan dengan mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan ego dalam diri sendiri.<\/p>\n<p>Kita diminta untuk belajar menguasai emosi dan tidak tunduk pada hukum dunia, serta tidak menyerah pada hawa nafsu balas dendam. Saat kita dihina, dilecehkan, ditampar, diperas, dipaksa, inilah kesempatan bagi kita untuk menjadi serupa dengan Yesus yang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, menghancurkan kebencian dengan cintakasih, mengosongkan diri untuk diisi sepenuhnya dengan gelora cintakasih.<br \/>\nAlhasil, hati kita sungguh damai, jiwa tenteram, pikiran tenang, dan hidup penuh sukacita.<br \/>\nInilah latihan kehidupan yang menghasilkan orang-orang yang istimewa, pasukan khusus putra putri Kerajaan Allah.<br \/>\nBukankah yang disebut pasukan khusus adalah mereka yang dilatih secara ekstrim? Bagi kita inilah latihan untuk menjadi ekstrim dan radikal dalam kebaikan dan cintakasih!<\/p>\n<p>Pastilah tidak mudah dan perlu perjuangan serta pengorbanan. Mari kita mohon agar Yesus membantu kita.<br \/>\n\u201dYa Yesus kuatkan hati kami agar mampu menjadi seperti Engkau. Kami penuh dengan kerapuhan dan kelemahan, ingin selalu membalas dendam dan sangat berat menerima kekalahan. Utuslah Roh KudusMu dan kobarkanlah cinta yang tulus dalam hati kami untuk berani mengalah dan mengampuni, berusaha selalu berbuat baik dan menjadi pembawa damai.<br \/>\nYa Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat memasuki pekan yang baru dengan semangat kasih yang tulus. Jadilah pemenang yang sejati!&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 15 Jun 2026<br \/>\nSenin Pekan Biasa XI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 119:105<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:38-42<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 119:105<br \/>\nSabda-Mu adalah pelita bagi kakiku,<br \/>\ndan cahaya bagi jalanku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:38-42<br \/>\nJanganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Kalian mendengar, bahwa dahulu disabdakan,<br \/>\n&#8216;Mata ganti mata; gigi ganti gigi.&#8217;<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu,<br \/>\n&#8216;Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.<br \/>\nSebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu,<br \/>\nberilah pipi kirimu.<br \/>\nBila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu,<br \/>\nserahkanlah juga jubahmu.<br \/>\nBila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan<br \/>\nsejauh satu mil,<br \/>\nberjalanlah bersama dia sejauh dua mil.<br \/>\nBerikanlah kepada orang apa yang dimintanya,<br \/>\ndan jangan menolak orang<br \/>\nyang mau meminjam sesuatu dari padamu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Sering kali, saat kita tersakiti, kita merasa perlu untuk secara pribadi menyaksikan bahwa orang yang menyakiti kita itu membayar luka yang telah mereka sebabkan. Tapi dalam prosesnya, saat berpegang teguh pada balas dendam, kita justru merasa tidak bebas dan tidak bahagia. Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa, orang yang menyakiti kita itu ternyata tidak menyadari perasaan dan sikap kita. Dia tenang-tenang saja, happy-happy saja dan karena itu kita semakin tersakiti. Ungkapan ini mungkin berguna bagi kita: &#8220;Jika kita membalas kebaikan dengan kejahatan, kita jahat seperti iblis. Jika kita membalas kebaikan dengan kebaikan itu manusiawi. Jika kita membalas kejahatan dengan kebaikan, maka kita semakin menyerupai Tuhan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus mengundang kita untuk menjadi lebih manusiawi dengan melampaui insting kita untuk secara otomatis membalas dendam. Ia mengundang kita untuk hidup sesuai dengan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Memang, itu tidak selalu mudah. Tapi itulah satu-satunya jalan menuju kehidupan dan kebahagiaan.<\/p>\n<p>Yesus memberikan sebuah standar baru yang didasarkan bukan hanya pada keadilan, yaitu memberi setiap orang sesuai haknya, namun berdasarkan hukum rahmat dan kasih. Menghidupi hukum rahmat dan kasih, berarti juga berbuat lebih dari sekadar yang biasa atau yang dituntut.<\/p>\n<p>Suatu ketika, ada dua orang rahib tinggal di sebuah gua. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tinggal di sana. Rahib yang pertama mulai bosan dengan rutinitas sehari-hari. Jadi dia punya usul kepada temannya: &#8220;Ayo, kita lakukan apa yang dunia lakukan.&#8221; Temannya menjawab: &#8220;Apa itu?&#8221; &#8220;Baiklah, mari kita bertengkar,&#8221; kata yang pertama. &#8220;Tapi bagaimana kita mulai bertengkar?&#8221; tanya rahib yang lain. Yang pertama menjelaskan: &#8220;Oh itu gampang, ini ada sebuah batu. Mari kita mulai, mengklaim bahwa batu ini MILIKKU!\u201d Rahib yang kedua itu diam sejenak, mengingat persahabatan mereka berdua serta semua yang telah mereka alami dan kemudian berkata: &#8220;Baiklah, saudaraku, jika batu itu adalah milikmu, ambillah.&#8221; Dan sekali lagi tercipta kedamaian di dalam gua itu.<\/p>\n<p>Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.<br \/>\nBila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.<br \/>\nBila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.<br \/>\nBila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.<br \/>\nBila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.<br \/>\nBila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.<br \/>\nBila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.<br \/>\nBila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.<br \/>\nBila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Hiduplah sebagai anak-anak Bapa yang murah hati. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"FC2qJK4gC5\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menghidupi-hukum-rahmat-dan-kasih\/\">Menghidupi Hukum Rahmat dan Kasih<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cMenghidupi Hukum Rahmat dan Kasih\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/menghidupi-hukum-rahmat-dan-kasih\/embed\/#?secret=OaKx6a75NR#?secret=FC2qJK4gC5\" data-secret=\"FC2qJK4gC5\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 15 Juni 2026 Matius 5:38-39 (Mat 5:38-42) \u201dKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-98534","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98534","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=98534"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98534\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98535,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98534\/revisions\/98535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=98534"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=98534"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=98534"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}