{"id":98092,"date":"2026-06-06T05:42:19","date_gmt":"2026-06-05T22:42:19","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98092"},"modified":"2026-06-06T05:42:19","modified_gmt":"2026-06-05T22:42:19","slug":"sabtu-06-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=98092","title":{"rendered":"Sabtu, 06 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 06 Juni 2026<br \/>\nMarkus 12:43-44 (Mrk 12:38-44)<br \/>\n\u201dAku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.&#8221;<\/p>\n<p>Hati Yang Melimpah Dengan Cinta Dan Syukur Pada Tuhan<\/p>\n<p>Hitungan Tuhan dan hitungan manusia berbeda. Cara Tuhan menilai besar kecilnya pemberian seseorang bukanlah dari nominal uang atau materi yang diberikan melainkan dari totalitas hati yang terarah pada Tuhan.<br \/>\nJanda miskin dalam Injil hari ini disebut Yesus memberi lebih banyak dari yang lain, sekalipun jumlahnya jauh lebih kecil. Itu karena ia mendahulukan Allah di atas segala keperluannya.<br \/>\nBaginya apa yang ia dapatkan sesungguhnya hanyalah pemberian Allah semata. Bahwa ia masih bernafas dan masih diberi kesempatan untuk hidup, itu jauh lebih berharga daripada jumlah uang yang ia dapatkan.<br \/>\nSemua itu tak sebanding dengan kedamaian hati, sukacita hidup oleh kasih sayang dan perhatian Tuhan yang ia sembah. Setiap kali pergi ke Bait Allah yang ia pikirkan hanyalah ungkapan syukur dan terimakasih atas hidup kesehariannya.<br \/>\nIa yakin Tuhan yang memberinya hidup, akan selalu mencukupkan apa yang ia butuhkan. Tak menjadi halangan baginya untuk membawa segalanya kepada Tuhan.<br \/>\nSebagaimana juga Ayub yang penuh iman berkata, \u201cDengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!&#8221; (Ayub 1:21).<\/p>\n<p>Persembahkanlah selalu yang terbaik bagi Tuhan. Yang utama adalah ungkapan cinta kita pada Tuhan dengan mempersembahkan seluruh hidup dan karya kita untuk kemuliaan Tuhan.<br \/>\nCintailah dengan sepenuh hati orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita. Jadikanlah hidup kita sebagai pemberian Tuhan bagi mereka, bagi dunia, apalagi bagi mereka yang kecil dan perlu dibantu.<\/p>\n<p>Janda miskin dalam Injil ini sesungguhnya sangat kaya, karena ia punya hati yang melimpah dengan syukur dan penyembahan kepada Tuhan.<br \/>\nBiarlah kitapun demikian. Milikilah hati yang penuh syukur dan terimakasih kepada Tuhan, hingga kita selalu terdorong untuk datang menyembah Tuhan dan memberi serta berbagi berkat Tuhan. Kita tak pernah berkekurangan kasih karunia Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Jun 2026<br \/>\nSabtu Pekan Biasa IX<br \/>\nPF S. Norbertus, Uskup<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 5:3<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:38-44<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 5:3<br \/>\nBerbahagialah yang bersemangat miskin,<br \/>\nsebab bagi merekalah kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:38-44<br \/>\nJanda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada semua orang lain.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus dalam pengajaran-Nya berkata,<br \/>\n&#8220;Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat.<br \/>\nMereka suka berjalan-jalan dengan pakaian panjang<br \/>\ndan suka menerima penghormatan di pasar.<br \/>\nMereka suka menduduki tempat-tempat terdepan<br \/>\ndalam rumah ibadat<br \/>\ndan tempat terhormat dalam perjamuan.<br \/>\nMereka mencaplok rumah janda-janda<br \/>\nsambil mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang.<br \/>\nMereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.<\/p>\n<p>Pada kali lain sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan<br \/>\nYesus memperhatikan<br \/>\nbagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu.<br \/>\nBanyak orang kaya memberi jumlah yang besar.<br \/>\nLalu datanglah seorang janda yang miskin.<br \/>\nIa memasukkan dua peser, yaitu satu duit.<\/p>\n<p>Maka Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak<br \/>\ndaripada semua orang yang memasukkan uang<br \/>\nke dalam peti persembahan.<br \/>\nSebab mereka semua memberi dari kelimpahannya,<br \/>\ntetapi janda ini memberi dari kekurangannya:<br \/>\nsemua yang ada padanya,<br \/>\nyaitu seluruh nafkahnya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Mungkinkah kita memberikan segalanya yang kita miliki? Saya takut mengatakannya karena saya tidak yakin seberapa banyak yang bisa saya relakan! Janda dalam Injil hari ini \u201cmemberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya,\u201d kata Yesus kepada kita. Hal itu membutuhkan keberanian yang besar dan kepercayaan penuh pada pemeliharaan ilahi.<\/p>\n<p>Namun, orang-orang seperti itu tidaklah langka! Kisah-kisah tentang orang-orang seperti itu di masa lalu dapat ditemukan di sekitar kita, menceritakan perbuatan amal mereka yang luar biasa. Sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh menelusuri buku-buku sejarah. Kita dapat menjumpai perbuatan amal yang murah hati di sekitar kita. Kita dapat saksikan mereka yang peduli pada sesama, memberi tanpa batas, dan mencintai tanpa syarat.<\/p>\n<p>Selain itu, Yesus mengingatkan kita bahwa perbuatan amal ini harus dilakukan dalam \u201ckeheningan\u201d. Tanpa hingar bingar publikasi, tanpa mempostingnya di media sosial, dan tanpa tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Amal bukanlah kesempatan untuk berfoto \u2013 ini adalah prinsip esensial yang harus dipelajari oleh generasi saat ini karena Tuhan sudah tahu apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan.<\/p>\n<p>Kebahagiaan tidak terletak pada menerima, melainkan pada memberi, walau mungkin tidak mudah untuk kita. Ada sebuah kisah terkenal berjudul \u201cThe Little Grain of Gold\u201d karya Rabindranath Tagore. Kisah itu bertutur tentang seorang pengemis yang suatu hari bertemu dengan raja. Kisah itu berbunyi sebagai berikut:<\/p>\n<p>\u201cAku sedang meminta-minta, dari pintu ke pintu, di jalan menuju desa, ketika kereta emas-Mu muncul di kejauhan, seperti mimpi yang megah. Dan aku bertanya-tanya, siapa Raja di atas segala raja itu! Harapanku melambung ke langit, dan aku berpikir hari-hari burukku telah berakhir. Dan aku menanti sedekah yang tak terduga, harta yang tumpah dari debu. Kereta itu berhenti di sisiku. Kau menatapku dan turun dengan senyum. Aku merasa kebahagiaan hidup telah berakhir. Dan tiba-tiba kau mengulurkan tangan kananmu kepadaku sambil berkata: \u201cBisakah kau memberiku sesuatu?\u201d Ah, betapa lucunya kebesaranmu! Meminta kepada seorang pengemis! Dan aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu aku perlahan mengambil sebutir gandum dari kantongku dan memberikannya padamu. Namun betapa terkejutnya aku ketika aku mengosongkan kantongku di tanah pada sore hari, aku menemukan sebutir emas di tengah tumpukan yang menyedihkan itu.\u201d<\/p>\n<p>Yesus memberikan segala yang dimilikinya dan segala yang ada padanya \u2013 seluruh diri-Nya, untuk membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi orang lain. Seperti Dia, marilah kita tidak menghitung-hitung pemberian kita.<\/p>\n<p>Ya Tuhan, ajarilah aku untuk menjadi murah hati,<br \/>\nuntuk melayani-Mu sebagaimana layaknya,<br \/>\nuntuk memberi tanpa menghitung-hitung,<br \/>\nuntuk berjuang tanpa mempedulikan luka,<br \/>\nuntuk bekerja keras tanpa mencari istirahat,<br \/>\nuntuk berjerih payah tanpa mengharapkan imbalan apa pun,<br \/>\nkecuali kepuasan mengetahui bahwa aku melakukan kehendak-Mu yang suci.<br \/>\n(St. Ignatius Loyola).<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Semoga kita semakin murah hati. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Ygj9AnTAQ8\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/persembahan-yang-murah-hati\/\">Persembahan Yang Murah Hati<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cPersembahan Yang Murah Hati\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/persembahan-yang-murah-hati\/embed\/#?secret=cpjTKvFNJq#?secret=Ygj9AnTAQ8\" data-secret=\"Ygj9AnTAQ8\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 06 Juni 2026 Markus 12:43-44 (Mrk 12:38-44) \u201dAku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-98092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=98092"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98092\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98093,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/98092\/revisions\/98093"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=98092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=98092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=98092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}