{"id":97944,"date":"2026-06-03T18:11:01","date_gmt":"2026-06-03T11:11:01","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97944"},"modified":"2026-06-03T18:11:01","modified_gmt":"2026-06-03T11:11:01","slug":"rabu-03-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97944","title":{"rendered":"Rabu, 03 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 03 Juni 2026<br \/>\nPeringtan St Karolus Lwanga dkk, Para Martir dari Uganda<br \/>\nMarkus 12:26-27 (Mrk 12:18-27)<br \/>\n\u201dTentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.\u201d<\/p>\n<p>Hidup Untuk Cita-cita Surgawi<\/p>\n<p>Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Karena itu mereka datang kepada Yesus dan mengajukan sebuah kasus mengenai seorang perempuan yang kawin dengan 7 pria, kakak beradik. Satu per satu mereka meninggal dan akhirnya wanita itu juga meninggal. Bila ada kebangkitan orang mati, siapa nantinya yang berhak menjadi suaminya? Apa yang akan terjadi bila seorang istri bersuamikan 7 suami sekaligus?<br \/>\nUntunglah bukan kepada kita pertanyaan ini diajukan. Mau menjawab bagaimana pertanyaan rumit seperti ini. Syukurlah Yesus datang dari surga dan memberi gambaran bagaimana kehidupan di surga.<br \/>\nInilah jawaban Yesus, \u201cApabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.\u201d<\/p>\n<p>Yeaus telah bangkit mengalahkan kematian dan menjadikan kematian sebagai pintu untuk masuk ke dalam kebahagiaan surgawi bagi orang yang percaya padaNya.<br \/>\nAllah kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Allah menghendaki kita hidup bersamaNya di surga. Namun hidup surgawi bukan lagi dijalani dengan hubungan badani pria wanita melainkan hidup semata dalam kemuliaan surgawi dan persekutuan dengan Allah Tritunggal serta semua putra putri Allah.<\/p>\n<p>Keyakinan iman inilah yang memberanikan St Karolus Lwanga dan teman-temannya, orang-orang Kristiani Uganda untuk menghadapi kematian sebagai martir. Mereka dibunuh oleh penguasa Uganda waktu itu (1886) karena tidak mau menyangkal Yesus.<br \/>\nKini mereka hidup dalam kemuliaan surgawi.<\/p>\n<p>Mari kita rindukan hidup surgawi yang dijanjikan Yesus dan dengan segenap hati kita persiapkan, agar apapun yang kita lakukan di dunia ini, dan semua jalan hidup yang kita pilih, entah kawin atau selibat, mendapatkan maknanya yang terdalam yakni untuk persiapan kita hidup selamanya bersama Bapa di surga. Tetaplah dalam ikatan cinta yang erat dan setia, baik kepada Tuhan maupun sesama. Jalan ke surga adalah jalan cintakasih.<\/p>\n<p>Allah kita hidup, di hadapanNya kita berdiri teguh dalam iman, harap dan kasih kita.<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Segala puji dan sembah bagi Allah untuk hidup dan karya kita hari ini.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 03 Jun 2026<br \/>\nRabu Pekan Biasa IX<br \/>\nPW S. Karolus Lwanga dan teman-temannya, Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 11:25a.26<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:18-27<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 11:25a.26<br \/>\nAkulah kebangkitan dan kehidupan.<br \/>\nBarangsiapa percaya kepada-Ku, tak akan mati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:18-27<br \/>\nAllah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari, datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki,<br \/>\nyang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan.<br \/>\nMereka bertanya kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita,<br \/>\n&#8216;Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki,<br \/>\nmati dengan meninggalkan seorang isteri<br \/>\ntetapi tidak meninggalkan anak,<br \/>\nsaudaranya harus kawin dengan isterinya itu<br \/>\ndan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.&#8217;<\/p>\n<p>Ada tujuh orang bersaudara.<br \/>\nYang pertama kawin dengan seorang wanita,<br \/>\nlalu mati tanpa meninggalkan keturunan.<br \/>\nMaka yang kedua mengawini dia,<br \/>\ntetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan.<br \/>\nDemikian juga yang ketiga.<br \/>\nDan begitulah seterusnya,<br \/>\nketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan.<br \/>\nAkhirnya wanita itu pun mati.<br \/>\nPada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit,<br \/>\nsiapakah yang menjadi suami perempuan itu?<br \/>\nSebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia.&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Kalian sesat,<br \/>\njustru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.<br \/>\nSebab di masa kebangkitan orang mati,<br \/>\norang tidak kawin atau dikawinkan;<br \/>\nmereka hidup seperti malaikat di surga.<br \/>\nMengenai kebangkitan orang mati,<br \/>\ntidakkah kalian baca dalam kitab Musa,<br \/>\nyaitu dalam ceritera tentang semak berduri,<br \/>\nbahwa Allah bersabda kepada Musa,<br \/>\n&#8216;Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?<br \/>\nAllah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.<br \/>\nKamu benar-benar sesat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Kehidupan setelah kematian adalah kenyataan yang lebih mudah kita akui daripada kita jelaskan. Kita membicarakannya dengan menggunakan bahasa masa kini, yang merupakan satu-satunya cara yang kita miliki. Pertanyaan mengenai pernikahan yang diangkat dalam Injil hari ini adalah contoh klasiknya.<\/p>\n<p>Dalam hukum Yahudi, jika seorang pria meninggal tanpa anak, saudaranya wajib menikahi jandanya dan memiliki anak atas nama saudaranya yang telah meninggal. Situasi ini tercermin dalam kisah Tobit dalam Perjanjian Lama, di mana Sarah menjadi bahan olok-olok dari para pelayannya sendiri. Dalam kesedihan mendalam setelah kematian tujuh suaminya, ia memohon kepada Allah untuk mengambil nyawanya.<\/p>\n<p>Pertanyaan ini bersifat hipotetis dan diajukan oleh kaum Saduki, yang tidak percaya pada kebangkitan. Mereka bertanya, Jika seorang perempuan telah menikah dengan 7 lelaki, nanti setelah kebangkitan, siapa yang akan menjadi suaminya? Pertanyaan ini mencerminkan cara menghindar yang digunakan oleh para guru Israel. Namun, Yesus mengalihkan fokus pembicaraan dengan menjelaskan bahwa di surga tidak akan ada pernikahan atau kelahiran anak. Kehidupan setelah kematian adalah cara hidup yang sepenuhnya baru.<\/p>\n<p>Kita sering berspekulasi tentang kehidupan setelah kematian, berdasarkan pengalaman kita saat ini. Namun, kenyataannya, kehidupan setelah kematian adalah misteri dari rencana Allah, dan kita dimaksudkan untuk menjadi bagian darinya. Tantangan yang kita hadapi saat ini tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebesaran yang sedang terungkap dalam diri kita. Kita diselamatkan bukan karena prestasi kita sendiri, melainkan oleh kasih karunia Allah. Kematian telah kehilangan kekuatannya, dan jalan menuju kehidupan serta keabadian terbuka bagi kita. Hal ini dimungkinkan melalui Yesus, Juruselamat kita.<\/p>\n<p>Kita perlu menjalani kehidupan orang-orang yang telah dibangkitkan: Artinya, kita tidak boleh berbaring terkubur oleh dosa-dosa dan kebiasaan-kebiasaan jahat kita. Sebaliknya, kita harus menjalani kehidupan yang penuh sukacita dan damai, terus-menerus mengalami kehadiran nyata dari Tuhan yang telah Bangkit yang memberi kita jaminan bahwa tubuh kita juga akan dibangkitkan. Pemikiran yang bermanfaat tentang kebangkitan dan kemuliaan kekal kita sendiri hendaknya juga mengilhami kita untuk menghormati tubuh kita, menjaganya tetap kudus, murni, dan bebas dari kebiasaan-kebiasaan jahat, dan menghormati mereka yang berhubungan dengan kita, dengan memberikan pelayanan yang penuh kasih dan kerendahan hati kepada mereka.<\/p>\n<p>Allah yang hidup, Engkaulah Allah perjanjian dan kasih yang setia. Peliharalah kami dalam kasih-Mu dan penuhilah janji kehidupan yang telah Engkau berikan kepada kami melalui Anak-Mu, Yesus Kristus. Biarlah hidup-Nya memancar keluar dari diri kami, sepenuhnya dan kaya, hingga mekar menjadi kehidupan yang tak berkesudahan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Arahkan perjalanan menuju hidup kekal. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"NOj5uoZbTP\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/allah-orang-hidup\/\">Allah Orang Hidup<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cAllah Orang Hidup\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/allah-orang-hidup\/embed\/#?secret=RoaGYtOT0O#?secret=NOj5uoZbTP\" data-secret=\"NOj5uoZbTP\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 03 Juni 2026 Peringtan St Karolus Lwanga dkk, Para Martir dari Uganda Markus 12:26-27 (Mrk 12:18-27) \u201dTentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97944"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97945,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97944\/revisions\/97945"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}