{"id":97871,"date":"2026-06-01T20:28:37","date_gmt":"2026-06-01T13:28:37","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97871"},"modified":"2026-06-01T20:28:37","modified_gmt":"2026-06-01T13:28:37","slug":"senin-01-juni-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97871","title":{"rendered":"Senin, 01 Juni 2026"},"content":{"rendered":"<p>abda Kehidupan<br \/>\nSenin 01 Juni 2026<br \/>\nPeringatan St Yustinus<br \/>\nMarkus 12:6-8 (Mrk 12:1-12)<br \/>\nSekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.<\/p>\n<p>Jangan Sampai Lupa Diri<\/p>\n<p>Dalam perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur ini, Yesus mengingatkan para pemimpin Yahudi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, sesungguhnya mereka hanyalah penggarap kebun anggur Tuhan, yakni umat Israel. Mereka bukanlah pemilik kebun anggur.<br \/>\nTapi bukannya bekerja sebagai penggarap kebun atau pelayan umat Allah, mereka bertindak sebagai pemilik dan penguasa atas semua kebun anggur Tuhan.<br \/>\nMereka bahkan berusaha menyingkirkan dan akhirnya membunuh Putra Allah, ahli waris yang berhak mendapatkan hasil atas kebun anggur BapaNya.<\/p>\n<p>Betapa hebatnya pengaruh dosa yang telah merasuk ke segala sudut kehidupan manusia, sehingga manusia berusaha untuk menyingkirkan Tuhan dari hidupnya. Orang lupa bahwa bumi ini bukan miliknya. Bahkan hidup ini bukanlah milik kita. Kita hanyalah penggarap yang ditempatkan Tuhan untuk bekerja bagi Tuhan, menghasilkan buah-buah kebaikan untuk Kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Beberapa tahun lalu ketika dunia dilanda virus Covid, orang sadar siapa sebenarnya penguasa hidup dan mati kita. Orang berhenti bekerja dan juga berhenti dari berbagai tindakan yang merusak. Orang kembali merawat bumi, menjaga kebersihan dan peduli pada kesehatan. Orang sadar bahwa kita harus saling membantu, karena hidup begitu rentan dan kita bisa sewaktu-waktu terjangkit, sakit bahkan mati.<br \/>\nTapi seiring berlalunya pandemi ini, demikian juga iman akan Tuhan ikut berlalu. Orang kembali pada kebiasaan lama, lupa diri dan hanya mengejar ambisi dan kepentingan diri sendiri, lupa bahwa hidupnya hanya sementara.<\/p>\n<p>Mari kembali ke jalan Tuhan, membaktikan seluruh hidup kita demi tujuan Tuhan. Kita mengolah alam dan lingkungan dengan bertanggungjawab, dan menjalani hidup dalam persaudaraan kasih bersama sesama ciptaan Tuhan. Mari kembali menempatkan Tuhan sebagai pemilik hidup kita dan kita hidup untuk kemuliaan Tuhan.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Selamat memasuki bulan Juni dengan penuh harapan dan iman, Tuhan bekerja bersama kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 01 Jun 2026<br \/>\nSenin Pekan Biasa IX<br \/>\nPW S. Yustinus, Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Why 1:5ab<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:1-12<br \/>\n**********&#8221;**<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nWhy 1:5ab<br \/>\nYesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia,<br \/>\nyang pertama bangkit dari alam maut;<br \/>\nEngkau mengasihi kami dan mencuci dosa kami<br \/>\ndalam darah-Mu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:1-12<br \/>\nMereka menangkap dan membunuh putera kesayangan,<br \/>\ndan melemparkannya ke luar kebun anggur.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua<br \/>\ndengan perumpamaan, kata-Nya,<br \/>\n&#8220;Adalah seorang membuka kebun anggur<br \/>\ndan menanam pagar sekelilingnya.<br \/>\nIa menggali lubang tempat memeras anggur,<br \/>\ndan mendirikan menara jaga.<br \/>\nKemudian disewakannya kebun anggur itu<br \/>\nkepada penggarap-penggarap,<br \/>\nlalu ia berangkat ke negeri lain.<\/p>\n<p>Ketika sudah tiba musim panen,<br \/>\nia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu<br \/>\nuntuk menerima sebagian dari hasil kebun.<br \/>\nTetapi hamba itu ditangkap dan dipukuli oleh para penggarap<br \/>\nlalu disuruh pergi dengan tangan hampa.<br \/>\nKemudian pemilik kebun anggur itu menyuruh pula<br \/>\nseorang hamba lain kepada mereka.<br \/>\nOrang itu mereka pukuli sampai luka kepalanya,<br \/>\ndan sangat mereka permalukan.<br \/>\nLalu pemilik itu menyuruh seorang hamba lain lagi,<br \/>\ndan orang ini mereka bunuh.<br \/>\nDan banyak lagi yang lain,<br \/>\nada yang mereka pukul, dan ada yang mereka bunuh.<\/p>\n<p>Kini tinggal satu orang, yakni puteranya yang kekasih.<br \/>\nDialah yang akhirnya diutus kepada mereka,<br \/>\nsebab pikirnya, &#8216;Puteraku pasti akan mereka segani.&#8217;<br \/>\nTetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain,<br \/>\n&#8216;Dia itulah ahli waris!<br \/>\nMari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.<br \/>\nMereka menangkap dan membunuh dia,<br \/>\nlalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.<br \/>\nSekarang apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu?<br \/>\nIa akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu,<br \/>\nlalu mempercayakan kebun anggurnya kepada orang-orang lain.<\/p>\n<p>Tidak pernahkah kamu membaca ayat ini:<br \/>\nBatu yang dibuang oleh para tukang bangunan<br \/>\ntelah menjadi batu penjuru.<br \/>\nItulah tindakan Tuhan, suatu hal yang ajaib dalam pandangan kita.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus,<br \/>\nkarena mereka tahu,<br \/>\nbahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu.<br \/>\nTetapi mereka takut kepada orang banyak.<br \/>\nMaka mereka pergi dan membiarkan Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Di dunia yang mengagungkan keakuan, kita sering jatuh ke dalam anggapan bahwa kita adalah satu-satunya penguasa atas hidup kita. Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur mengingatkan kita akan kebenaran bahwa hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Tuhanlah pemilik hidup kita yang sesungguhnya dan telah mempercayakan karunia kehidupan itu kepada kita masing-masing, meminta kita untuk memeliharanya dan menghasilkan buah-buah cinta, keadilan, dan belas kasih. Namun, kesombongan dapat mengaburkan visi kita, membuat kita bertindak sebagai pemilik dan bukan sebagai penggarap. Ketika kita menggenggam kendali erat-erat, kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki &#8211; talenta, relasi, dan bahkan nafas kita &#8211; adalah anugerah dari Tuhan.<\/p>\n<p>Seperti para penggarap kebun anggur dalam perumpamaan hari ini, kita dapat menjadi posesif dan berpusat pada diri sendiri. Kesombongan membuat kita percaya bahwa kita memiliki semua jawaban, memikat kita untuk mengabaikan utusan Tuhan dan kebenaran-Nya. Seberapa sering kita mengabaikan suara-suara yang mengoreksi kita, atau menolak bimbingan Roh Kudus? Kata-kata kita yang kasar, hati kita yang keras, dan penolakan untuk mengampuni dapat mengubah kita menjadi \u201cpembunuh\u201d utusan-utusan Tuhan, melukai orang-orang di sekitar kita dan menutup hati terhadap kasih karunia Allah.<\/p>\n<p>Namun, kendati pemberontakan kita, Allah tidak pernah berhenti mengulurkan tangan-Nya. Karunia terbesar-Nya adalah Putera-Nya, Yesus, yang memanggil kita kembali kepada-Nya. Pertanyaannya adalah &#8211; apakah kita akan menyambut-Nya atau mengusir-Nya?<\/p>\n<p>Upaya mengusir Putra Allah dari kebun anggur hidup kita terus berlanjut hingga hari ini. Betapa banyak tantangan yang menghadang sakramen pernikahan, nilai-nilai hidup keluarga, perdebatan mengenai aborsi, dan banyak isu-isu lainnya &#8211; banyak orang di dalam Gereja yang lebih memilih untuk mengikuti nilai-nilai dunia. Kristus dan Injil-Nya dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan kuno, dan banyak orang Kristen memilih untuk mengabaikannya.<\/p>\n<p>Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk merenungkan peran kita sebagai hamba yang bertanggungjawab. Apakah kita sedang mengolah kebun anggur kehidupan kita dengan keadilan, cinta, dan belas kasih? Marilah kita berbalik kepada Yesus dengan kerendahan hati, mempersembahkan keberhasilan dan kegagalan kita. Dia selalu siap untuk mengampuni dan membimbing kita. Kiranya kita membuka hati kita, mengenali Sang Pemilik sejati, dan menghasilkan buah-buah yang memberi kehidupan bagi dunia.<\/p>\n<p>Tuhan, sadarkanlah aku selalu, bahwa Engkaulah pemilik kebun anggur kehidupanku yang sesungguhnya dan Engkau telah mempercayakannya kepadaku untuk menggarapnya agar menghasilkan buah-buah kasih, kebenaran dan keadilan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Jadilah penggarap-penggarap yang benar dan bertanggungjawab. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"B5rhsYiaW4\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/penggarap-penggarap-yang-bertanggungjawab\/\">Penggarap-Penggarap yang Bertanggungjawab<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cPenggarap-Penggarap yang Bertanggungjawab\u201d \u2014 Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/penggarap-penggarap-yang-bertanggungjawab\/embed\/#?secret=ynpj3TkOUa#?secret=B5rhsYiaW4\" data-secret=\"B5rhsYiaW4\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>abda Kehidupan Senin 01 Juni 2026 Peringatan St Yustinus Markus 12:6-8 (Mrk 12:1-12) Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97871"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97872,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97871\/revisions\/97872"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}