{"id":97677,"date":"2026-05-28T09:33:58","date_gmt":"2026-05-28T02:33:58","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97677"},"modified":"2026-05-28T09:33:58","modified_gmt":"2026-05-28T02:33:58","slug":"kamis-28-mei-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97677","title":{"rendered":"Kamis, 28 Mei 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 28 Mei 2026<br \/>\nMarkus 10:51-52 (Mrk 10:46-52)<br \/>\nTanya Yesus kepadanya: &#8220;Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?&#8221; Jawab orang buta itu: &#8220;Rabuni, supaya aku dapat melihat!&#8221; Lalu kata Yesus kepadanya: &#8220;Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!&#8221; Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.<\/p>\n<p>Melihat Dengan Mata Iman<\/p>\n<p>Bartimeus, orang buta yang disembuhkan Yesus, telah lama menderita kebutaan. Ia hanya bisa mengemis di pinggir kota Yerikho untuk bertahan hidup. Tapi sekalipun buta, ia bisa mendengar kabar tentang Yesus. Semua mujizat yang dilakukan Yesus. Dia pasti Anak Daud yang dijanjikan Allah. Bartimeus berharap satu waktu Yesus berjumpa dengannya.<br \/>\nHarapannya menjadi doa dan iman. Ia yakin bahwa Yesus adalah sumber pertolongan baginya. Matanya buta tapi tidak iman dan harapannya. Maka bukanlah kebetulan Yesus lewat di gerbang kota Yerikho. Tuhan mendengar doanya.<\/p>\n<p>Saat yang dinantinya tiba, ia mengungkapkan iman dan harapannya sambil tak henti berteriak agar mendapat perhatian Yesus. Yesus mengabulkan permintaannya dan ia dapat melihat lagi.<br \/>\nCacat dan kelemahan kiranya tak menghalangi orang untuk percaya dan berharap pada Tuhan.<br \/>\nYesus sanggup memulihkan hidup kita. Terutama untuk dapat melihat kebaikan Allah di setiap peristiwa hidup kita.<\/p>\n<p>Persoalan dan beban hidup bisa saja membuat orang buta dan tak dapat melihat kasih sayang Allah. Egoisme dan cinta diri juga membuat orang buta terhadap kebutuhan orang lain. Bahkan kemilau harta membuat mata menjadi silau dan tak dapat melihat Tuhan dan lupa bahwa hidup hanya sementara.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus bukalah mata kami untuk selalu dapat melihat hadirMu di hidup kami. Terutama agar kami dapat melihat dengan mata iman dan percaya bahwa Engkau ada di setiap waktu untuk kami. Tuntun kami berjalan dalam terangMu, jangan biarkan kami tersesat dan berjalan sendiri. Ampuni kami karena tidak peka melihat karya kasihMu.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru, kesempatan baru melihat dan mengalami kebaikan Tuhan.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 28 Mei 2026<br \/>\nKamis Pekan Biasa VIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 8:12<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 10:46-52<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 8:12<br \/>\nAkulah cahaya dunia.<br \/>\nBarangsiapa mengikuti Aku, hidup dalam cahaya abadi.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 10:46-52<br \/>\nRabuni, semoga aku melihat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerikho.<br \/>\nKetika Yesus keluar lagi dari Yerikho,<br \/>\nbersama murid-murid-Nya,<br \/>\ndan orang banyak yang berbondong-bondong,<br \/>\nduduklah di pinggir jalan seorang pengemis yang buta,<br \/>\nbernama Bartimeus, anak Timeus.<br \/>\nKetika didengarnya, bahwa yang lewat itu Yesus orang Nazaret,<br \/>\nmulailah ia berseru, &#8220;Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!&#8221;<br \/>\nBanyak orang menegurnya supaya ia diam.<br \/>\nNamun semakin keras ia berseru, &#8220;Anak Daud, kasihanilah aku!&#8221;<\/p>\n<p>Maka Yesus berhenti dan berkata, &#8220;Panggillah dia!&#8221;<br \/>\nMereka memanggil si buta itu dan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Kuatkan hatimu. Berdirilah, Ia memanggil engkau.&#8221;<br \/>\nOrang buta itu lalu menanggalkan jubahnya.<br \/>\nIa segera berdiri, dan pergi mendapatkan Yesus.<br \/>\nYesus bertanya kepadanya,<br \/>\n&#8220;Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?&#8221;<br \/>\nOrang buta itu menjawab, &#8220;Rabuni, supaya aku dapat melihat.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus lalu berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.&#8221;<br \/>\nPada saat itu juga melihatlah ia!<br \/>\nLalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini mengisahkan tentang Bartimeus seorang pengemis buta di pinggir jalan yang disembuhkan Yesus. Bartimeus tidak memiliki kedudukan, pengaruh, dan penglihatan fisik, namun ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang di sekitarnya yaitu keberanian untuk percaya bahwa hidupnya masih bisa berubah. Ketika orang lain mencoba membungkamnya, ia menolak untuk berhenti meminta pertolongan. ia tahu bahwa momen ini bisa menjadi titik balik dalam hidupnya.<\/p>\n<p>Banyak dari kita dewasa ini seperti orang buta ini. Kita dibutakan oleh rasa takut, kegagalan, kekecewaan, rasa bersalah, atau ketidakpastian tentang masa depan. Juga kita merasa diabaikan, tidak penting, atau terjebak dalam situasi yang tampaknya mustahil untuk diatasi. Namun Injil ini mengingatkan kita bahwa tidak ada seruan iman yang tidak didengar oleh Tuhan. Orang banyak mungkin menghakimi, mengkritik, atau mengecilkan hati kita, tetapi Tuhan mendengarkan suara hati kita yang tulus.<\/p>\n<p>Ada pelajaran dari kisah ini bahwa Terkadang hidup menyuruh kita untuk menyerah. Masalah menjadi berat, doa tampak tak terjawab, dan harapan mulai memudar. Tetapi iman mengajarkan kita untuk terus memohon kepada Tuhan bahkan ketika keadaan hidup kita gelap. Ketekunan sering membuka pintu menuju mukjizat.<br \/>\nPelajaran lainnya adalah bahwa ketika Yesus berjalan dalam misiNya, Dia berhenti untuk mereka yang diabaikan oleh dunia. Ketika orang berjalan melewati pengemis buta itu setiap hari, namun Yesus berhenti memperhatikannya. Ini menunjukkan hati Allah yang penuh belas kasihan. Dia melihat orang-orang yang terlupakan, yang kesepian, yang miskin, yang terluka, dan yang putus asa. Tidak seorang pun yang tdk terlihat di mata Allah. Ketika banyak org melihat dan menganggap seseorang sebagai lemah atau tidak penting namun Allah tetap memanggil mereka dan memberi mereka martabat.<\/p>\n<p>Penyembuhan si buta ini mengingatkan kita bahwa penglihatan sejati lebih dari sekadar penglihatan fisik. Banyak orang dapat melihat dengan mata tetapi tetap buta di dalam hati mereka. Penglihatan sejati berarti mengenali kehadiran Tuhan, percaya akan kebaikan-Nya, dan mengikuti-Nya. Setelah menerima penglihatannya, pria itu tidak hanya kembali ke kehidupan lamanya namun dia memilih untuk mengikuti Yesus. Perjumpaan sejati dengan Tuhan tidak hanya mengubah kondisi kita tetapi juga arah hidup kita.<\/p>\n<p>Hari ini, mungkin kita tidak lagi duduk di pinggir jalan berdebu utk memohon pertolongan, tetapi kita semua membawa kebutaan di dalam diri kita. Kita sulit melihat harapan, tujuan, pengampunan, atau kedamaian. Namun ada kabar sukacita bahwa Yesus masih melewati hidup kita setiap hari. Dia masih mendengarkan dan terus memanggil kita. Dan Dia masih memulihkan kita yang datang kepada-Nya dengan penuh iman. Seruan iman kita mungkin menjadi awal dari mukjizat kita.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 28 Mei 2026 Markus 10:51-52 (Mrk 10:46-52) Tanya Yesus kepadanya: &#8220;Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?&#8221; Jawab orang buta itu: &#8220;Rabuni, supaya aku dapat melihat!&#8221; Lalu kata Yesus kepadanya: &#8220;Pergilah,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97677"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97677\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97678,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97677\/revisions\/97678"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}