{"id":97425,"date":"2026-05-23T10:30:29","date_gmt":"2026-05-23T03:30:29","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97425"},"modified":"2026-05-23T10:30:29","modified_gmt":"2026-05-23T03:30:29","slug":"sabtu-23-mei-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97425","title":{"rendered":"Sabtu, 23 Mei 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 23 Mei 2026<br \/>\nNovena Pentakosta hari ke 9<br \/>\nYohanes 21:21-22 (Yoh 21:20-25)<br \/>\nKetika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&#8221; Jawab Yesus: &#8220;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&#8221;<\/p>\n<p>Eh\u2026 Petrus juga KEPO<\/p>\n<p>Mau cari tahu urusan orang lain, dalam bahasa gaul disebut KEPO. Ini adalah sebuah singkatan dalam bahasa Inggris: \u201cKnowing Every Particular Object\u201d artinya ingin tahu setiap hal khusus, entah mengenai sesuatu atau orang lain.<br \/>\nDalam Injil hari ini, diceritakan bahwa Petrus tergoda juga untuk \u2018kepo\u2019 mengenai Yohanes, karena kedekatannya dengan Yesus. Ada pula unsur cemburu dalam diri Petrus yang merasa Yesus lebih memperhatikan Yohanes.<\/p>\n<p>Peduli akan orang lain tentulah baik. Tapi kalau ingin mencampuri urusan orang lain alias \u2018kepo\u2019 yang berlebihan tentulah tidak baik. Apalagi bila ingin tahu sesuatu yang negatif dan kelemahan orang lain. Dari sana muncul gosip dan segala turunannya. Ujungnya adalah penghakiman oleh jari yang selalu menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain.<br \/>\nYesus mengajak Petrus untuk lebih melihat ke dalam diri sendiri, apa saja yang perlu untuk membangun relasi yang lebih intim dengan Yesus agar setia mengikuti Dia.<br \/>\nKalau kita yakin bahwa Tuhan memandang istimewa diri kita karena kita adalah orang pilihan, bukan berarti kita menjadi lebih istimewa dari orang lain.<\/p>\n<p>Kalau kita diberi lebih, bukan berarti yang lain kurang diberi. Atau sebaliknya. Jangan sampai kita merasa hebat karena menerima lebih, atau sebaliknya merasa cemburu dan iri hati karena mendapatkan kurang dibanding orang lain.<br \/>\nSulit bagi kita untuk bersyukur dan bahagia karena \u201cbaper\u201d (terbawa perasaan). Mari kita bersyukur menjadi pengikut Yesus bersama dengan semua saudara yang lain. Kita saling bersaudara, berjalan bersama melayani Tuhan. Jauhkan keinginan untuk menang sendiri atau besar sendiri, selalu bahagia ada bersama umat beriman lainnya.<\/p>\n<p>\u201dDatanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cinta kasihMu.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Selamat atas selesainya Novena Pentakosta. Terimalah Roh Kudus, anugerah Yesus yang paling luhur dan mulia dalam hidup kita.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Mei 2026<br \/>\nSabtu Paskah VII<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 16:7.13<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 21:20-25<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 16:7.13<br \/>\nAku akan mengutus Roh Kebenaran kepadamu, sabda Tuhan.<br \/>\nIa akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 21:20-25<br \/>\nDialah murid, yang telah menuliskan semuanya ini,<br \/>\ndan kesaksiannya itu benar.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Setelah Yesus yang bangkit berkata kepada Petrus, &#8220;Ikutlah Aku,&#8221;<br \/>\nPetrus berpaling dan melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus<br \/>\nsedang mengikuti mereka,<br \/>\nyaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama<br \/>\nduduk dekat Yesus;<br \/>\ndia inilah yang berkata,<br \/>\n&#8220;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&#8221;<br \/>\nKetika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus,<br \/>\n&#8220;Jikalau Aku menghendaki,<br \/>\nsupaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,<br \/>\nitu bukan urusanmu.<br \/>\nTetapi engkau, ikutlah Aku.&#8221;<\/p>\n<p>Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu,<br \/>\nbahwa murid itu tidak akan mati.<br \/>\nTetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus,<br \/>\nbahwa murid itu tidak akan mati,<br \/>\nmelainkan,<br \/>\n&#8220;Jikalau Aku menghendaki<br \/>\nsupaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,<br \/>\nitu bukan urusanmu.&#8221;<\/p>\n<p>Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini,<br \/>\ndan yang telah menuliskannya;<br \/>\ndan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.<\/p>\n<p>Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus,<br \/>\ntetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu,<br \/>\nmaka agaknya dunia ini tidak dapat memuat<br \/>\nsemua kitab yang harus ditulis itu.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, kita temukan interaksi yang menarik antara Petrus dan Yesus, dengan latar belakang pemulihan Petrus. Saat mereka berjalan di sepanjang pantai, Petrus berbalik dan melihat Yohanes mengikuti mereka. Karena penasaran dan mungkin sedikit khawatir tentang nasib Yohanes, Petrus bertanya kepada Yesus, \u201cTuhan, bagaimana dengan dia?\u201d<br \/>\nJawaban Yesus sangat mendalam dan tepat sasaran: \u201cJika Aku ingin dia tetap hidup sampai Aku kembali, apa urusannya bagimu? Engkau harus mengikuti Aku.\u201d<\/p>\n<p>Momen ini merangkum pelajaran penting bagi kita masing-masing. bahwa Seringkali kita mendapati diri kita melihat di seputar kita dan membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain, juga banyak kali mempertanyakan ttg keseimbangan dalam pembagian berkat dan tantangan dalam hdp. Namun, jawaban Yesus kepada Petrus mengalihkan fokus kita dari perbandingan tugas misi dan orang lain kepada refleksi diri.<\/p>\n<p>Yesus menekankan sifat pribadi dari perjalanan spiritual kita. Kata-kata-Nya mengingatkan kita bahwa perhatian utama kita seharusnya bukanlah jalan yang ditempuh orang lain, melainkan seberapa setia kita menjalani jalan kita sendiri. Setiap kita memiliki jalan yang unik, ditandai oleh panggilan dan tugas spiritual yang tidak dapat dipahami atau dinilai dengan membandingkannya dengan orang lain.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, bagian Injil diakhiri dengan Yohanes menegaskan kebenaran kesaksiannya dan mengisyaratkan betapa luas dan banyaknya karya Yesus sehingga \u201cseluruh dunia tidak akan cukup untuk memuat kitab yang akan ditulis.\u201d Pernyataan Ini berfungsi sebagai pengingat bahwa apa yang kita lihat dan ketahui hanyalah sebagian kecil dari apa yang ada dan apa yang mungkin terjadi.<\/p>\n<p>Semoga Injil hari ini menginspirasi kita untuk fokus pada perjalanan spiritual kita sendiri. Kita percaya pada karya-karya Allah yang luas dan tak terlihat yang telah Dia tetapkan bagi kita. Dengan melakukan hal itu, kita menghormati rencana dan tujuan-Nya bagi hidup kita, yang mengarah pada pengalaman spiritual yang lebih penuh dan bermakna.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 23 Mei 2026 Novena Pentakosta hari ke 9 Yohanes 21:21-22 (Yoh 21:20-25) Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&#8221; Jawab Yesus:&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97425","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97425"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97425\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97426,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97425\/revisions\/97426"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}