{"id":97341,"date":"2026-05-22T04:50:19","date_gmt":"2026-05-21T21:50:19","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97341"},"modified":"2026-05-22T04:50:19","modified_gmt":"2026-05-21T21:50:19","slug":"jumat-22-mei-2026-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97341","title":{"rendered":"Jumat, 22 Mei 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 22 Mei 2026<br \/>\nNovena Pentakosta hari ke 8<br \/>\nYohanes 21:17 (Yoh 21:15-19)<br \/>\nKata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: &#8220;Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?&#8221; Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: &#8220;Apakah engkau mengasihi Aku?&#8221;<\/p>\n<p>Semua Karena Cinta<\/p>\n<p>Kita mungkin heran, mengapa Yesus harus bertanya kepada Petrus sampai 3 kali, &#8220;Apakah engkau mengasihi Aku?&#8221; Bukankah cukup hanya sekali dan telah dijawab Petrus dengan lantang, \u201cBenar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.&#8221;<br \/>\nTentu bukannya Yesus tidak percaya pada Petrus. Kita masih ingat ketika Petrus menyangkal Yesus 3 kali waktu Yesus ditangkap dan diadili secara tidak adil. Petrus menyangkal Yesus katanya, \u201cAku tidak mengenal Dia.&#8217;<br \/>\nPastilah saat Yesus wafat, Petrus merasa sangat bersalah dan membawa penyesalan penyangkalan ini seumur hidupnya. Ia merasa diri seorang pengecut, tak pantas menjadi murid Yesus, apalagi menjadi seorang pemimpin.<\/p>\n<p>Betapa Yesus mencintai Petrus. Ia percaya kepadanya. Bukankah Yesus yang mengganti nama Simon menjadi Petrus yang artinya batu karang? Yesus ingin agar Simon sungguh menjadi batu karang yang kokoh! Hanya cinta dan pengampunan yang membuat orang bisa berdiri tegak dan mampu menjalankan tanggungjawab secara penuh tanpa terbeban oleh rasa bersalah.<br \/>\nCinta dan pengampunan, bukan penghakiman dan hukuman yang dapat memulihkan relasi dan menyembuhkan luka batin serta rasa bersalah.<\/p>\n<p>Yesus membaharui komitmen cinta Petrus. Tiga kali ia menyangkal Yesus, diganti dengan tiga kali pernyataan cintanya. Lukanya sembuh, semangatnya dipulihkan. Yesus tetap memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi gembala seluruh kawanan dombaNya. Cinta Petrus kembali berkobar. Ia siap mati untuk Yesus dan menjadi gembala yang setia.<\/p>\n<p>Apakah kita pernah melukai hati Yesus karena dosa-dosa kita? Berapa kali kita menyangkal Dia, dan tidak mengakuiNya sebagai Tuhan dan sahabat?<br \/>\nPertanyaan Yesus kini tertuju bagi kita masing-masing, &#8220;Apakah engkau mengasihi Aku?&#8221; Jawaban cinta kita padaNya akan memulihkan kita, menyembuhkan luka hati kita, dan menjadikan kita kuat serta bertahan untuk setia.<\/p>\n<p>\u201dDatanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat, hari kenangan cinta Yesus yang agung dan mulia bagi kita.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 22 Mei 2026<br \/>\nJumat Paskah VII<br \/>\nPF S. Rita dari Cascia<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:26<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 21:15-19<br \/>\n\u2020***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:26<br \/>\nRoh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu;<br \/>\nIa akan mengingatkan kamu<br \/>\nakan semua yang telah Kukatakan kepadamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 21:15-19<br \/>\nGembalakanlah domba-domba-Ku.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Yesus yang telah bangkit<br \/>\nmenampakkan diri kepada murid-murid-Nya.<br \/>\nSesudah mereka sarapan, Yesus berkata kepada Simon Petrus,<br \/>\n&#8220;Simon, anak Yohanes,<br \/>\napakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?&#8221;<br \/>\nJawab Petrus kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepadanya, &#8220;Gembalakanlah domba-domba-Ku!&#8221;<br \/>\nKata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya,<br \/>\n&#8220;Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?&#8221;<br \/>\nJawab Petrus kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepadanya, &#8220;Gembalakanlah domba-domba-Ku!&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya,<br \/>\n&#8220;Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?&#8221;<\/p>\n<p>Maka sedihlah hati Petrus<br \/>\nkarena Yesus berkata untuk ketiga kalinya,<br \/>\n&#8220;Apakah engkau mengasihi Aku?&#8221;<br \/>\nDan ia berkata kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu!<br \/>\nEngkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus berkata kepadanya, &#8220;Gembalakanlah domba-domba-Ku!&#8221;<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSesungguhnya ketika masih muda<br \/>\nengkau sendiri mengikat pinggangmu<br \/>\ndan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki.<br \/>\nTetapi jika engkau sudah menjadi tua,<br \/>\nengkau akan mengulurkan tanganmu,<br \/>\ndan orang lain akan mengikat engkau<br \/>\ndan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&#8221;<\/p>\n<p>Hal ini dikatakan Yesus untuk menyatakan<br \/>\nbagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.<br \/>\nSesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus,<br \/>\n&#8220;Ikutlah Aku.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>Kristus yang telah bangkit, berdiri di tepi Danau Galilea, Dia berpaling kepada Petrus yang masih dihantui rasa malu karena tiga kali menyangkal diriNya. Dia tidak menawarkan penghukuman, melainkan pemulihan.<br \/>\n\u201cSimon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?\u201d<br \/>\nTiga kali Yesus bertanya, dan tiga kali Petrus menjawab: \u201cYa, Tuhan; Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.\u201d Dan dengan setiap jawaban itu, Yesus memerintahkan: \u201cGembalakanlah anak-anak domba-Ku. Gembalakanlah domba-domba-Ku. Gembalakanlah domba-domba-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Ini bukan hanya momen pribadi antara Yesus dan Petrus; ini adalah pesan untuk kita semua.<br \/>\nKasih Karunia Lebih Besar dari Kegagalan. Memang Petrus telah gagal. Ia telah berjalan bersama Yesus, menyaksikan mukjizat, menyatakan kesetiaan yang teguh, namun ketika ada momentum paling penting, ia bahkan menyangkal mengenal-Nya.<br \/>\nBanyak dari kita tahu bagaimana rasanya gagal, tidak mencapai apa yang kita harapkan, mengkhianati nilai-nilai kita sendiri.<br \/>\nNamun Yesus tidak mengabaikan Petrus. Sebaliknya, Ia mendekatkan Petrus dan memberinya kesempatan untuk menegaskan kasih-Nya untuk setiap penyangkalan. Yesus tidak menghapus masa lalu Petrus; Ia menebusnya.<\/p>\n<p>Inilah inti Injil hari ini: bahwa momen terburuk kita tidak harus menjadi kisah terakhir kita. Kristus menemui kita di tempat kita berada, bukan untuk mengingatkan kita akan rasa malu kita, tetapi untuk memulihkan jiwa kita.<\/p>\n<p>Perhatikan bagaimana Yesus merumuskan pertanyaanNya: bukan \u201cApakah kamu akan menaati Aku?\u201d atau \u201cApakah kamu akan melayani Aku?\u201d tetapi Dia bertanya: \u201cApakah kamu mengasihi Aku?\u201d Landasan kemuridan adalah kasih. Pelayanan sejati tidak berasal dari kewajiban tetapi dari hubungan\/relasi. Yesus menginginkan hati kita dan, bukan hanya tangan kita.<br \/>\nNamun kasih harus mengarah pada tindakan. Yesus tidak berhenti pada penegasan itu. Ia memberi Petrus sebuah misi: \u201cGembalakanlah domba-domba-Ku.\u201d Mengasihi Kristus berarti peduli kepada umat-Nya. Mengasihi Dia berarti melayani, melindungi, memimpin, dan memelihara orang lain dengan kebenaran dan kasih karunia yang telah kita terima.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 22 Mei 2026 Novena Pentakosta hari ke 8 Yohanes 21:17 (Yoh 21:15-19) Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: &#8220;Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?&#8221; Maka sedih hati Petrus karena Yesus&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97341"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97341\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97342,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97341\/revisions\/97342"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}