{"id":97156,"date":"2026-05-19T09:46:20","date_gmt":"2026-05-19T02:46:20","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97156"},"modified":"2026-05-19T09:46:20","modified_gmt":"2026-05-19T02:46:20","slug":"selasa-19-mei-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=97156","title":{"rendered":"Selasa, 19 Mei 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 19 Mei 2026<br \/>\nNovena Pentakosta hari ke 5<br \/>\nYohanes 17:3 (Yoh 17:1-11a)<br \/>\n\u201dInilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.\u201d<\/p>\n<p>*Tak Henti Mengenal Dan Mencintai Allah*<\/p>\n<p>Kutipan Injil ini adalah doa Yesus bagi murid-muridNya pada saat perjamuan malam terakhir. Dalam doaNya kepada Bapa di surga, Yesus mendoakan kita semua agar dapat memperoleh hidup yang kekal.<br \/>\nHidup kekal yang dianugerahkan Allah kepada kita adalah pengenalan kita akan Allah yang Maharahim, dan pengenalan kita akan Yesus Putra Allah yang diutus untuk menyelamatkan kita.<\/p>\n<p>Seperti kata pepatah, \u201ctak kenal maka tak sayang\u201d, Yesus ingin agar kita mengenal Allah Tritunggal Mahakudus, dan mencintai Allah dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan sekuat tenaga.<br \/>\nYesus mendoakan kita setiap hari agar pengenalan kita akan Allah tak pernah berhenti, selalu dibaharui, diperteguh dan terus disegarkan.<\/p>\n<p>Yohanes mengingatkan kita bahwa di mana ada cintakasih, di situ Allah hadir. Dan wujud cinta yang dalam antara lain adalah pengampunan. Mencintai berarti mengampuni, sama seperti Allah telah mengampuni kita dalam Yesus.<br \/>\nMengenal Allah tanpa henti berarti juga mengenal kehadiran Allah yang selalu hadir dalam persekutuan putra-putri Allah.<br \/>\nYesus berkata, \u201cdi mana ada 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.\u201d<br \/>\nSemoga kita selalu rindu untuk berkumpul bersama dan hidup dalam persekutuan dengan sesama. Inilah doa Yesus untuk kita agar selalu bersatu hati dan berdoa bersama. Setiap perpecahan dan perselisihan menjauhkan kita dari Yesus dan kita tak dapat mencintaiNya dengan sepenuh hati.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, jangan biarkan kami terpisah dariMu. Utuslah Roh KudusMu untuk mempersatukan kami, melembutkan hati kami agar kami mampu mengampuni dan mencintai dengan tulus hati. Semoga pengenalan kami akan Dikau, cintaMu yang tak terhingga bagi kami, menyemangati kami untuk tetap bersatu dan saling mendoakan. Amin.\u201d<\/p>\n<p>\u201dDatanglah ya Roh Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Doa Yesus menguatkan kita.&#x2764;&#xfe0f;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Mei 2026<br \/>\nSelasa Paskah VII<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:16<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 17:1-11a<br \/>\n*&#8221;&#8221;**********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:16<br \/>\nAku akan minta kepada Bapa,<br \/>\ndan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,<br \/>\nsupaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 17:1-11a<br \/>\nBapa, permuliakanlah Anak-Mu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Dalam perjamuan malam terakhir<br \/>\nYesus menengadah ke langit dan berdoa,<br \/>\n&#8220;Bapa, telah tiba saatnya;<br \/>\npermuliakanlah Anak-Mu,<br \/>\nsupaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.<br \/>\nSama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya<br \/>\nkuasa atas segala yang hidup,<br \/>\ndemikian pula Anak-Mu akan memberikan hidup yang kekal<br \/>\nkepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.<br \/>\nInilah hidup yang kekal itu,<br \/>\nyaitu bahwa mereka mengenal Engkau,<br \/>\nsatu-satunya Allah yang benar,<br \/>\ndan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.<\/p>\n<p>Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi<br \/>\ndengan jalan menyelesaikan pekerjaan<br \/>\nyang Engkau berikan kepada-Ku untuk kulakukan.<br \/>\nOleh sebab itu, ya Bapa,<br \/>\npermuliakanlah Aku pada-Mu sendiri<br \/>\ndengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.<\/p>\n<p>Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang,<br \/>\nyang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.<br \/>\nMereka itu milik-Mu<br \/>\ndan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku,<br \/>\ndan mereka telah menuruti firman-Mu.<br \/>\nSekarang mereka tahu,<br \/>\nbahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu<br \/>\nberasal dari pada-Mu.<br \/>\nSebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku<br \/>\ntelah Kusampaikan kepada mereka, dan mereka telah menerimanya.<br \/>\nMereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu,<br \/>\ndan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.<\/p>\n<p>Aku berdoa untuk mereka.<br \/>\nBukan untuk dunia Aku berdoa,<br \/>\ntetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,<br \/>\nsebab mereka adalah milik-Mu,<br \/>\ndan segala milik-Mu adalah milik-Ku dan milik-Ku adalah milik-Mu,<br \/>\ndan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.<br \/>\nAku tidak lagi ada di dalam dunia,<br \/>\ntetapi mereka masih ada di dalam dunia,<br \/>\ndan Aku datang kepada-Mu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Hari ini kita mendengar kata-kata terakhir yang terkenal dari Yesus dalam doa-Nya yang sering disebut \u201cDoa Imam Agung\u201d dan dari Santo Paulus. Baik Yesus maupun Paulus sadar bahwa mereka telah menyelesaikan misinya dalam hidup. Paulus berharap untuk melakukan kunjungan terakhir ke Yerusalem dan kemudian, jika dia selamat dari kunjungan yang berbahaya itu, akan pergi ke Roma dan bahkan mungkin membawa Kabar Baik sampai di wilayah Spanyol. Yesus menyatakan bahwa pekerjaan yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa-Nya telah selesai sepenuhnya dan Dia berdoa: &#8220;Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu.\u201d Paulus memberikan nasihat perpisahan kepada para pemimpin gereja; sementara Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang yang akan bergabung dengan mereka di masa yang akan datang.<\/p>\n<p>Baik Yesus maupun Paulus memandang masa depan dengan penuh keyakinan. Paulus tampaknya tidak memiliki penyesalan: &#8220;Engkau tahu bagaimana &#8230; aku melayani Tuhan dengan kerendahan hati melalui penderitaan dan cobaan yang menghadang.&#8221; Dan Yesus memuji kesetiaan para sahabatnya: &#8220;Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.&#8221; Paulus menghadapi masa depan yang tidak pasti, karena ia tahu bahwa penjara mungkin akan menunggunya di Yerusalem. Di lain pihak Yesus tidak meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan; Ia hanya berdoa agar para pengikut-Nya tetap setia kepada-Nya dan kepada ajaran-Nya.<\/p>\n<p>Situasi mereka serupa dengan situasi yang kita hadapi saat ini, penuh ketidakpastian. Kita harus berusaha menghadapi masa depan kita yang tidak pasti dengan iman dan ketenangan. Sebab ketika kita setia dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada kita, Allah akan membawa kita kepada-Nya.<\/p>\n<p>Semoga akan tiba saatnya, seperti Yesus, kita juga dapat memandang Bapa dan berkata, &#8220;Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku. Sekarang, permuliakanlah aku kepada-Mu.&#8221; Sementara itu, kita mencoba untuk setia pada pekerjaan yang dipercayakan kepada kita, misi agar Dia dikenal dan dikasihi oleh semakin banyak orang melalui cara hidup kita. Dalam melakukan hal itu, kita tidak dibiarkan sendiri. Allah bekerja bersama kita.<\/p>\n<p>Setelah berdoa untuk diri-Nya sendiri, Yesus berdoa untuk mereka yang akan menjadi saksi-Nya di dunia. Dia hidup selamanya untuk menjadi Pengantara bagi kita, agar kita dapat setia pada tugas kita. Bahkan ketika kita merasa sulit untuk berdoa, kita dapat yakin bahwa Ia sendiri sedang berdoa di dalam diri kita.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami dapat menyelesaikan tugas yang Engkau berikan kepada kami masing-masing di dunia ini dengan baik. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Berkanjang menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan. \u24bf\u24c1\u24ca! &#x2764;&#xfe0f;<br \/>\n&#x2764;&#xfe0f;\ufe0e.<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"ZKYaevksd1\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/bapa-permuliakanlah-aku-kepada-mu\/\">Bapa, Permuliakanlah Aku kepada-Mu<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Bapa, Permuliakanlah Aku kepada-Mu&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/bapa-permuliakanlah-aku-kepada-mu\/embed\/#?secret=YIHavYXmh8#?secret=ZKYaevksd1\" data-secret=\"ZKYaevksd1\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 19 Mei 2026 Novena Pentakosta hari ke 5 Yohanes 17:3 (Yoh 17:1-11a) \u201dInilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-97156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=97156"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97156\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97157,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/97156\/revisions\/97157"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=97156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=97156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=97156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}