{"id":96546,"date":"2026-05-08T09:23:24","date_gmt":"2026-05-08T02:23:24","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=96546"},"modified":"2026-05-08T09:23:24","modified_gmt":"2026-05-08T02:23:24","slug":"jumat-08-mei-2026-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=96546","title":{"rendered":"Jumat, 08 Mei 2026"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 08 Mei 2026<br \/>\nYohanes 15:12 (Yoh (15:12-17)<br \/>\n\u201dInilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.\u201d<\/p>\n<p>Mencintai Sampai Terluka<\/p>\n<p>Perintah Tesus untuk kita saling mengasihi bukanlah sekedar romantisme dua orang yang saling mencintai karena sedang jatuh cinta. Mencintai bukan hanya saat hati sedang berbunga-bunga, atau hanya saat suasana hti lagi menyenangkan.<br \/>\nYesus meminta kita untuk saling mengasihi, seperti Ia telah mengasihi kita. Tetap mencintai sekalipun hati terluka.<\/p>\n<p>Coba kita lihat bagaimana orang menggambarkan \u201cHati Yesus Yang Mahakudus\u201d<br \/>\nHati Yesus digambarkan sebagai hati yang dilingkari mahkota duri. Ada luka yang berdarah tertusuk duri, ada salib yang menancap di atas hati, namun dengan nyala api yang berkobar-kobar di atasnya.<\/p>\n<p>Maksudnya adalah bahwa Hati Kudus Yesus adalah hati yang rela dilukai, namun Ia tak pernah berhenti mencintai. Cinta Yesus seperti api yang terus berkobar-kobar menunjukkan kerahiman ilahi yang tiada batasnya. Pengkhianatan Yudas dan Petrus tidak menghentikan Yesus untuk menyerahkan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya. Sikap haus darah para penganiayaNya dan mereka yang menyalibkan Dia, tidak mampu membendung pengampunan dan belaskasih Yesus untuk mereka yang membunuh Dia.<br \/>\nYesus tetap mencintai kita sekalipun kita terus menerus melukai hatiNya karena dosa-dosa kita. CintaNya total dan tanpa syarat.<\/p>\n<p>Demikian juga Yesus meminta kita untuk melakukan yang sama. Jangan biarkan rasa benci, keinginan untuk balas dendam, dengki dan iri hati, amarah dan kecewa, menghentikan kita untuk mencintai dan mengampuni.<br \/>\nBiarlah hati kita menjadi seperti Hati Kudus Yesus, yang tak henti mencintai sekalipun terluka. Kita mencintai sebagaimana Yesus telah mencintai kita. Inilah ungkapan yang nyata bahwa kita adalah sahabat Yesus, muridNya yang setia dan saksi hidup kebaikan Tuhan untuk mencintai dan mengampuni.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu.\u201d<\/p>\n<p>Salve! Selamat hati Jumat, hari kenangan Yesus menyerahkan nyawaNya demi cintaNya bagi kita.&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 08 Mei 2026<br \/>\nJumat Paskah V<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 15:15b<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 15:12-17<br \/>\n***********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 15:15b<br \/>\nAku menyebut kamu sahabat, sabda Tuhan,<br \/>\nkarena Aku telah memberitahukan kepada kamu<br \/>\nsegala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 15:12-17<br \/>\nInilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Dalam amanat perpisahan-Nya<br \/>\nYesus berkata kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,<br \/>\nseperti Aku telah mengasihi kamu.<br \/>\nTidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang<br \/>\nyang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.<\/p>\n<p>Kamu adalah sahabat-Ku,<br \/>\njikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.<br \/>\nAku tidak menyebut kamu lagi hamba,<br \/>\nsebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya.<br \/>\nTetapi Aku menyebut kamu sahabat,<br \/>\nkarena Aku telah memberitahukan kepada kamu<br \/>\nsegala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.<\/p>\n<p>Bukan kamu yang memilih Aku,<br \/>\ntetapi Akulah yang memilih kamu.<br \/>\nDan Aku telah menetapkan kamu,<br \/>\nsupaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,<br \/>\nsupaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,<br \/>\ndiberikan-Nya kepadamu.<\/p>\n<p>Inilah perintah-Ku kepadamu:<br \/>\nKasihilah seorang akan yang lain.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini Yesus mendefinisikan kasih bukan sebagai perasaan, tetapi sebagai pilihan. Pilihan untuk mengorbankan nyawa, bukan hanya secara fisik, tetapi dalam tindakan kerendahan hati, pelayanan, dan belas kasihan yang tak terhitung. Dia berkata, \u201cTidak ada kasih yang lebih besar daripada ini: yaitu mengorbankan nyawa untuk sahabat-sahabatnya.\u201d Inilah inti dari siapa Dia dan apa yang Dia lakukan. Yesus mengasihi kita sampai mati, dan Dia mengajak kita untuk mengasihi yang sama kpd orang lain.<br \/>\nDalam perikop Injil ini, yang menarik bahwa Yesus menyebut kita sahabat-Nya. Kita bukan hamba, bukan sekadar pengikut, tetapi sahabatNya. Ini adalah pernyataan yang menakjubkan. Dia yg adalah Tuhan dan Raja tidak menjauh dari kita tetapi Ia mengundang kita ke dalam hati-Nya, ke dalam rencana-Nya, ke dalam pikiranNya sendiri.<br \/>\nDia memilih kita, Dia melihat kita, Dia mengasihi kita. Dia menetapkan kita dan mengutus kita untuk pergi dan menghasilkan buah. Yaitu buah kekal dan abadi yang tumbuh dari kehidupan yang datang dari pada-Nya.<\/p>\n<p>Ketika Yesus berkata, \u201cApa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, akan diberikan Bapa kepadamu,\u201d Dia berjanji bahwa ketika kita hdp selaras dengan hati-Nya, ketika kita menghidupi kasih-Nya, Dia akan memberdayakan kita dengan segala yang kita butuhkan. Kasih menjadi misi kita, menjadi pesan dan pelayanan kita.<br \/>\nKetika kita mengasihi dengan penuh pengorbanan, kita menjadi kesaksian hidup tentang Allah yang pertama kali mengasihi kita.<\/p>\n<p>Dunia sangat merindukan kasih seperti ini: kasih yang tidak pernah menyerah, tidak menghitung-hitung kesalahan, dan tidak pernah pudar. Sebagai pengikut Yesus, kita tidak hanya diundang untuk menawarkan kasih itu tp Kita ditunjuk untuk melakukannya. Inilah tujuan kita: pergi ke dunia sebagai pembawa kasih, sebagai ranting-ranting berbuah yang terhubung dengan Pokok Anggur Sejati.<\/p>\n<p>Karena itu, marilah kita bangun setiap hari dengan komitmen yang diperbarui untuk mengasihi seperti Dia mengasihi. Marilah kita melihat orang lain melalui mata-Nya, melayani mereka dengan tangan-Nya, dan berbicara dengan kasih karunia-Nya. Karena dengan melakukan hal itu, kita tidak hanya menaati sebuah perintah. Kita berjalan dalam persahabatan dengan Juruselamat dunia. Dan dalam persahabatan itu, kita menemukan sukacita.<br \/>\nIngatlah bahwa kita telah dipilih. Kita adalah sahabat Yesus. Dan kita diciptakan untuk mengasihi.<\/p>\n<p>RP. PAUL KERANS, SVD<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 08 Mei 2026 Yohanes 15:12 (Yoh (15:12-17) \u201dInilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.\u201d Mencintai Sampai Terluka Perintah Tesus untuk kita saling mengasihi bukanlah sekedar romantisme&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":90462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-96546","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/app-2026.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96546","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=96546"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96546\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":96547,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96546\/revisions\/96547"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/90462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=96546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=96546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=96546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}