{"id":96,"date":"2013-12-14T23:21:05","date_gmt":"2013-12-14T16:21:05","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=96"},"modified":"2013-12-15T19:22:29","modified_gmt":"2013-12-15T12:22:29","slug":"damai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=96","title":{"rendered":"Damai"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1309\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1315\"><span id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1314\" style=\"text-decoration: underline;\">DAMAI<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1311\" align=\"center\">(Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban)<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1319\" align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1322\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Mungkin kita pernah melihat atau menyaksikan sendiri bagaimana burung merpati terbang sambil membawa ranting\u00a0\u00a0zaitun.\u00a0\u00a0Ia bebas bergerak tanpa sekat pembatas geografis, suku, agama, budaya, status sosial dan bangsa. Dengan bebas ia membawa ranting zaitun sebagai simbol bahwa perdamaian itu universal (Bdk. Buku dengan judul\u00a0\u00a0<i>Ex\u00a0\u00a0Latina\u00a0\u00a0Claritas\u00a0<\/i>\u00a0tulisan Pius Pandor, hlm. 209).\u00a0\u00a0Kita mungkin juga masih ingat Paus Yohanes Paulus II (1920 \u2013 2005)\u00a0\u00a0melepaskan 6 ekor burung\u00a0\u00a0merpati di Asisi\u00a0\u00a0pada tahun 1986. Kegiatan yang berlangsung\u00a0\u00a0di Asisi bukan suatu\u00a0\u00a0kebetulan, tetapi untuk menghormati\u00a0\u00a0Fransiskus Asisi (1181\/1182 \u2013 1226)\u00a0\u00a0sebagai pencinta damai (Bdk.\u00a0<i>The Canticle of The Creatures<\/i>\u00a0\u00a0atau\u00a0\u00a0<i>Canticle of The Sun<\/i>\u00a0dengan syairnya, \u201cJadikanlah aku pembawa damai\u2026.\u201d).\u00a0\u00a0Memang damai itu menjadi dambaan umat manusia, dan setiap orang bahkan bangsa senantiasa ingin mengusahakan perdamaian.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kata \u201cdamai\u201d berasal dari bahasa Kawi,\u00a0<i>b\u011bdhama\u00a0<\/i>yang berarti: senjata, beliung atau kapak.\u00a0\u00a0Kemudian muncul kata\u00a0\u00a0<i>bedhamen\u00a0<\/i>yang berarti: gencatan senjata, usia perang atau tenang kembali. Kini damai berarti tenang dan tidak ada perang. Mungkin kita ingat akan pepatah Latin yang berbunyi,\u00a0\u00a0<i>\u201cSi vis pacem, para belum\u201d<\/i>\u00a0\u2013 kalau ingin damai, siapkanlah peperangan. Ungkapan ini disanggah\u00a0\u00a0Yohanes Paulus II, katanya,\u00a0<i>\u201cSi vis pacem, para caritatem\u201d<\/i>\u00a0\u2013 Jika mengingingkan perdamaian siapkanlah cinta kasih. Membaca kata damai, seolah-olah dalam hidup ini hanya menghendaki perang dan damai. Padahal sebenarnya, makna damai itu ada pelbagai macam. Ada orang merasa damai karena hidupnya \u201ctidak bermasalah.\u201d\u00a0\u00a0Orang ini juga merasa damai karena relasi dengan sesamanya\u00a0\u00a0\u201caman-aman\u201d saja.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Jelaslah sudah bahwa makna damai itu tidak saja untuk melukiskan sebuah situasi yang tanpa perang, melainkan memiliki makna yang lebih luas. Agustinus (354 \u2013 430) dalam\u00a0\u00a0<i>De Civitate Dei<\/i>\u00a0\u00a0XIX, 12 menegaskan bahwa perdamaian adalah apa yang dirindukan oleh setiap orang bahkan oleh setiap makhluk. Menurutnya ada tiga dimensi perdamaian yakni: dimensi personal yaitu berdamai dengan diri sendiri. Dimensi sosial yaitu berdamai dengan sesama baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.\u00a0\u00a0Dimensi teologal yaitu berdamai dengan Allah.\u00a0\u00a0Pius Pandor dalam bukunya yang berjudul\u00a0\u00a0<i>Ex Latina Claritas<\/i>\u00a0\u00a0menulis, \u201cTatanan perdamaian berawal dari adanya keselarasan antara bagian-bagian dalam diri manusia, kemudian bergerak menuju komunitas dunia\u00a0\u00a0<i>(civitas terrena)<\/i>\u00a0hingga memuncak pada komunitas surgawi atau komuntas Allah\u00a0\u00a0<i>(civitas Dei).<\/i>\u00a0Dalam komunitas surgawi itu manusia menikmati Allah dan satu sama lain dalam Allah\u00a0<i>(societas fruendi Deo et invicem in Deo)<\/i>.<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1342\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Hidup kita di dunia\u00a0\u00a0ini berharap sekali untuk damai seperti yang dikatakan Agustinus. Rasa damai itu menjadi impian banyak orang.\u00a0\u00a0Dalam Kitab Suci (baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru),\u00a0\u00a0<i>pax, syalom<\/i>\u00a0dan\u00a0damai seolah-olah menjadi primadona. Sastrawan Romawi Kuno, Ovidius (43 seb.M \u2013 17\/18 M)\u00a0\u00a0dengan tegas menulis<i>,\u00a0\u00a0\u201cCandida pax homines trux decet ira feras\u201d<\/i>\u00a0\u2013 Yang\u00a0\u00a0pantas bagi manusia adalah perdamaian, sementara yang pantas untuk binatang buas adalah kegarangan yang buas. Maka tidak heranlah jika Sang Raja Damai senantiasa dinanti-natikan, \u201cDatanglah ya Raja Damai\u201d (Bdk. Yes 9: 5). Semoga Kedamaian hati senantiasa menyertai kita. Amin.<\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1341\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1340\"><i>Sabtu, 14 Desember 2013<\/i><b id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1339\">\u00a0\u00a0Rm. Markus Marlon MSC<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_10_3_1_1387109809130_1337\">(Sudah dipublikasikan di Majalah Warta Keluarga Chevalier)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DAMAI (Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Mungkin kita pernah melihat atau menyaksikan sendiri bagaimana burung merpati terbang sambil membawa ranting\u00a0\u00a0zaitun.\u00a0\u00a0Ia bebas bergerak tanpa sekat pembatas geografis, suku, agama, budaya, status sosial dan bangsa. Dengan bebas ia membawa ranting&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-96","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=96"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":101,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/96\/revisions\/101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=96"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=96"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=96"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}